22 July 2014

Lupa Definisi Bahagia.

Apa kalian pernah merasa tidak bahagia ?

Saya pernah. Saat ini.

Jika hidup terdiri dari mozaik-mozaik warna-warni, saat ini mungkin saya sedang mendapatkan mozaik berwarna biru gelap. Kecewa, marah, lelah. Perasaan-perasaan itu membawa saya pada kepenatan yang luar biasa, hingga mendamparkan saay pada satu titik bernama kejenuhan. 

ENTAH dari bagian mana harus saya mulai cerita tentang ini, satu hal paling pasti yang terjadi saat ini adalah, saya kecewa dengan semua orang.


Saya kerap merasa berada pada dimensi yang berbeda. All the things are going dark, darker.

 If there's a day when I hate everyone. That day must be today.

@ayaliara
Baca Selengkapnya...

11 July 2014

Demi Ia, Demi Hati

Diam dan resapi
Sendiri dan berlalu
Sepertinya puing-puing yang nyaris utuh
itu kini kembali berserakan
Aku tak mampu untuk tetap menahannya
Saat celoteh masuki nalarku,,
sekuat batinku aku coba untuk tetap kuat..
Coba kuhapus setiap tetes yang menggenang d pelupuk mata..
tak ingin ia tau..
tak ingin ia pergi
Coba kutegarkan diri..
Demi ia, demi hati, aku rela..
Biar waktu yang kan menjawab semua tanya dan harapan..


By :
@Kabuthijau
Baca Selengkapnya...

05 July 2014

Mengapa?


Mengapa hanya punggungmu yang bisa ku lihat dengan jelas?
Tak tahukah kau aku berada di belakangmu?
Mengapa tak ada satupun inisiatif untuk menengok di hadapan punggungmu?
Tak tahukah kau aku mengejarmu setiap kali kau pergi?
Aku benci punggungmu...sampai saat ini pun begitu.




Call me on Twitter @ferlinhalidaaa 
Baca Selengkapnya...

18 June 2014

Halaman Terbelakang

Halaman Terbelakang
Oleh: Airly Latifah
Airlylatifah.blogspot.com
@AirlyLatifah

Tak perduli sudah berapa banyak cerita, masa lalu, kenangan, suara-suara yang entah berguna ataukah tidak sama sekali. Semilir angin yang terus menyanyi mengikuti alur waktu.
Tak pernah aku peduli akan semua itu.
Tapi, perlu satu hal.
Kau harus perduli, kau harus tahu.
Beberapa waktu terakhir, perasaan ini tidak pernah berubah, masih sama besarnya ketika pertama bertemu denganmu tak kurang sedikitpun.
Aku hanya ingin kau tahu.
Hanya itu.

Sesederhana cinta suci, yang tak meminta balasan.
Hanya akan menjadi halaman terbelakang, bersembunyi, tapi sebenarnya terdalam.
Baca Selengkapnya...

Kau dan Kertas yang Menguning


 

Kau dan Kertas yang Menguning
Oleh : Airly Latifah
Airlylatifah.blogspot.com
@AirlyLatifah


Tak pernah aku berhayal setinggi itu untuk bertemu lagi denganmu. Aku terlalu takut akan anganku sendiri. Takut mimpi ini bermetafora menjadi racun. Menusukku dengan sembilu. Memilukan sekali.
 Tapi, Tuhanku punya permainannya sendiri, maha baiknya dia, kita dipertemukan dengan caranya, dengan baju sekolah penuh keringat, dengan wajah kusam, dengan sepatu berdebu, dan tubuh lelah dihantam perjalanan jauh. Dengan gaya semiris itu aku dipertemukan denganmu. Tak ada semangat hidup dan Passion Fashion sedikitpun, gaya anak sekolah yang acuh. Pertemuan yang dirancang beberapa menit setelah teman dekatku bertanya tentangmu. Bertanya apakah kau akan datang, yang kujawab dengan kata “Tidak”. Aku jelas sekaali telah salah.
Skenario Tuhan yang cantik sekali, bukan?
Jauh dalam lubuk hatiku, aku masih mencintaimu. Kau berhasil mengetuk ulang pintu hati yang pernah kututup rapat. Tergembok baja yang dilapisi rantai besi. Pandai sekali kau bermain kunci, kau sangat pandai memainkan hatiku. Menitip ricik-ricik rindu yang datang di langit-langit gedung IPTEK Unhas, Senin, 16 Juni 2014, sepandai hujan mengetuk dedaunan, ranting, batang, hingga atap gedung (kita).  Aku hanya ingin membuang gelisah ini. Menulis ini ditengah mata yang tak kunjung merasa kantuk, yang sepertinya karenamu. Membuang resah akan hadirmu yang menghilang beberapa tahun terakhir.
 Bukankah kau yang dulu selalu hadir dengan tawa berbehel, senyuman manis, dan berkacamata. Kau yang selalu pandai memainkan degup jantungku. Cantik memainkan perasaan. Perasaanku.
Langit begitu cerah pagi itu, secerah tatapanmu. Tak ada sapaan, tak ada teguran, hanya secangkir rasa canggung, dan secerek malu, entah pemanisnya kau buat dari apa, rasa benci, rindu, marah, sayang. Aku tak akan pernah tahu. Tak akan. Sesenti pun. Sesapan yang pahit.
Di sini, di balik riuh penonton mataku setia menyorotmu, mencuri tiap gerak gerikmu, tapi kau hanya tertunduk, tak sepeduli dan sesemangat aku yang bertemu denganmu. Kau lelaki berkemeja hitam yang pandai tiada dua.
Betapa ingatnya aku tentang pesan-pesan yang selalu singgah dari esemes-mu "HND" kau ingat artinya? Have A Nice dream, bukan? Aku masih menyimpan puluhan pesan itu, pesan yang telah kubaca jutaan kali.
Ahhh, sadarkan aku, cerita ini tentang luka, tentangmu, yang hilang ditelan waktu. Di saat yang paling berbunga di hatiku. Kini, kau datang, mengetuknya lagi. Mengetuk pintu yang tertutup rapat. Pandai sekali kau bermain kunci. Jangan berikan aku harapan abu-abu itu.
Kau datang memekarkan bunga dengan segelas susu. Lalu esoknya? Segelas air pun tak kau bawa, bahkan ragamu tak pernah kau langkahkan mendekatiku. Tak ada pesan, tak ada panggilan, menghilang tenggelam di balik derasnya Rinai Rindu, yang telah kubelah berkali-kali.
Dan terus hilang berkali-kali pula.

Dibuat di bilik masa lalu
Ditulis dengan begitu nyata, kian sempurna menggelitik rindu

Baca Selengkapnya...

Tulis Email Kamu Disini. Tiap Postingan Baru Akan Dikirim Ke Email

Postingan Terpopuler

Postingan Terbaru