15 December 2012

(Helai Ketiga) "Sepucuk surat dari si bodoh"

Helai ketiga – Si bodoh seolah tengah melahap rakus 1 roti keju, 1 donat keju, dan 1 kue keju. Enak, walau memang asin, asin, dan asin. Tapi ia tetap menyantapnya lahap, karena ia suka keju.  
      


Si bodoh masih mengingat dengan amat jelas saat dia dan kamu terakhir berjumpa. Pada 4 Juli 2011, berseragam ptuih-abuabu, di sekolah. Waktu itu, ketika bersama, sekali lagi, bersama, bukan berdua. Kerja ‘part-time’, yah, kira-kira begitulah. Hm, si bodoh tentu tak dapat menceritakan semua secara amat gamblang di media ini. Tak seperti halnya jika si bodoh menceritakan kisahnya memakan beberapa buah roti keju kesukaannya, ia akan lebih leluasa dan bebas merangkai kata. Uhm, cukup lah hanya si bodoh dan kamu yang tahu. Ah, itupun jika kamu masih ingat.


Hari demi hari berlalu, kamu tahu? Ah, kamu pasti taktahu entah telah berapa hari tak saling jumpa sejak hari itu? Ah, tentu, itu wajar, bukan? Iya, wajar untukmu, dan wajar pula untuk si bodoh. Mengapa? Tentu saja, karena si bodoh dan kamu diresapi perasaan yang berbeda. Seperti roti keju dan roti cokelat, tidak sama, bukan? Tidak sama, itu berbeda. Beda.


Untuk sekedar kamu tahu, ini adalah hari yang ke-530. Si bodoh hanya menghitung hingga 100 hari untukmu. Ia tak cukup berdaya untuk terus dan terus melakukan penghitungan bodoh yang bahkan tak akan membuatnya tampak lebih pintar walau hanya sedikit, ia tak cukup pintar menghitung untukmu. Si bodoh tak tahu (lagi dan lagi) mengapa ia masih saja dengan bermodalkan kebodohannya terus menghitung, kali ini, hitungannya, hanya untuknya, untuk diri bodohnya sendiri.


Si bodoh tiba-tiba terbayang dia yang terus memakan roti-roti keju, donat demi donat keju, dan beberapa potong kue keju. Itu asin, asin sekali, tentu, sebanyak itu. Tapi, si bodoh tetap memakannnya, mengapa? Karena dia suka, dia suka keju, dia suka sekali pada keju. Lalu, bagaimana dengan hitungan bodohnya itu? Mengapa? Mengapa dia tetap melakukan penghitungan bodoh? Kemudian, si bodoh menjadi semakin sadar, bahwa nyatanya ia memang lah benar-benar bodoh, ia selalu tak tahu, ia bahkan tak mengerti mengapa ia melakukan itu, si bodoh ini bahkan tak memahami dirinya sendiri, bodohya si bodoh.


Ah, bahkan, sekarang ketidaktahuan akibat kebodohannya ini membuat si bodoh semakin akut, ia mulai tampak aneh, sangat aneh, terlalu aneh, bahkan untuk kamu sekedar ladeni. Benar, si bodoh yang tak hanya bodoh, si bodoh yang juga terlalu aneh, benar, benar sekali. Betapa bodohnya si bodoh, tak jera melakukan hal-hal bodoh yang membuatnya terlihat kian bodoh dalam dunia bodohnya yang bodoh. Aneh pula.


Uhm, apa lagi ya. Ah! Kamu tak pernah bersedia menjawab pertanyaan si bodoh dengan sungguh. Hingga kini, si bodoh bahkan tak tahu mana yang jujur dan mana yang sekedar asal jawab, serta mana yang gurauan belaka. Seperti si bodoh yang tak tahu, roti ini, roti itu, dari keju jenis apa dan darimana asalnya. Saking bodohnya si bodoh, ia tak tahu bagaimana membedakannya. Semua terasa sama bagi si bodoh. Ah, tuh kan! Si bodoh lagi, lagi, dan lagi, selalu tak tahu. Dasar, bodoh.


Si bodoh melakukan penghitungan hingga 100, dulu. Si bodoh tak tahu mengapa ia melakukannya, dan ia tak kunjung jera. Satu yang terlintas di otak labil si bodoh, semoga ia mampu menjaga rasa ini, sembari menunggu kamu hingga 1000 ( SERIBU ) hari tiba, ia bahkan tak sadar bahwa itu bukan lah rentang waktu yang singkat. Si bodoh juga bahkan tak tahu mengapa ia begitu ingin bertahan lebih dan lebih lama dari kamu, dari kamu yang bertahan dengan dia yang kamu suka, dan entah masih suka. Ah, si bodoh tak mau memikirnya, otak nya sudah cukup bodoh, ia tak tahu, tak tahu, ia tak mau tahu, si bodoh menggeleng. Ah!


Namun, sungguh, si bodoh benar-benar tak mau kalah dari kamu. Si bodoh itu walau bodoh dan tak punya sesuatu yang membuatnya tak akan tampak bodoh, tapi, apa kamu sadar? Ah, sepertinya kamu tak akan menyadari apapun. Si bodoh itu keras kepala walau isi kepalanya hanyalah ide-ide bodoh, tidak takut sakit karena sakit adalah teman bermainnya, tidak pernah lelah untuk tetap tersenyum dan tertawa karena mereka adalah gurunya, guru yang ajarkan si bodoh untuk belajar berdiri, berjalan, bahkan berlari, menuju kamu, dan juga, si bodoh itu terlalu gengsi untuk kalah dari mu. Si bodoh tentu tak terima, tidak mau.


Entah mengapa, ah, mengapa si bodoh selalu menanyakan mengapa? Ah, dia ini memang bodoh ya, bahkan aneh. Setelah hari ke-100 pun terlewati, si bodoh telah bertekad untuk berbalik arah, menentang takdir, dan pergi menjauh, atau bahkan ia tak keberatan untuk menghilang. Sungguh, si bodoh benar-benar berusaha kala itu, walau pada akhirnya, dia kembali ke rutinitas bodohnya dengan segera, apa itu? Yaitu, menuju kamu.


Oleh karena si bodoh terlalu lemah untuk melenyapkan diri bodohnya, sehingga kembali terlintas ide bodoh di otak bodohnya. Si bodoh berharap, kali ini, setidaknya ia mampu melenyapkan kamu dari tiap celah di otak ataupun ruang hatinya. Si bodoh benar-benar berusaha, walau kamu tak percaya. Itu tak mudah. Si bodoh selalu terjatuh, mengapa? Karena sejatinya, ia bahkan belum sanggup untuk berdiri sendiri, ia selalu sendiri, sendiri dalam perjalanan bodohnya menuju kamu.


Lalu, ketika ia telah mampu untuk berdiri, ia pun mencoba melangkah sedikit demi sedikit, dan ia kembali terjatuh, mengapa? Karena, ternyata ia belum mampu melangkah, ia butuh seseorang untuk memapahnya, namun sayangnya ia hanya sendiri. Si bodoh tak menyerah, ia berusaha lebih kuat, akhirnya ia bisa berjalan. Tak lama, ia pun terjatuh lagi. Ah, rasanya sakit.


Si bodoh tak jarang merasa seperti begitu banyak buku tebal yang di tumpuk di dada nya, rasanya sesak sekali,di tambah pula, saat air mata bahkan bahkan enggan mengalah padanya. Walau dia adalah seorang yang amat sangat dan terlalu bodoh, namun, dia juga manusia, bukan? Manusia terjahat di dunia pun boleh menangis, tapi, mengapa bulir air mata si bodoh tak kunjung meleleh di pipinya? Air mata yang sok jual mahal itu dengan angkuhnya lebih memilih untuk membeku di dalam hati sepi si bodoh. Ah, sungguh, yang ia rasa, hanya sakit.


Si bodoh mulai merasakan hatinya seperti sebuah roti keju yang terjatuh di aspal, saat terik siang begitu menyengat, roti keju yang  di sukainya itu mengering, berkerut, berdebu, tak ada yang menginginkannya, tercampak. Yah, kurang lebih seperti itu.


Namun, karena kebodohannya, si bodoh kembali bangkit. Ia masih berusaha, sendiri, dan akhirnya ia telah mampu berlari. Ia berlari, dan terus berlari, entah kemana. Lalu, apa kamu tahu apa yang terjadi selanjutnya? Si bodoh terjatuh lagi dan lagi, mengapa? Kali ini bukan karena dia yang lemah. Namun, karena, kamu, kamu yang mendorongnya, hingga jatuh, tersungkur.  Itu ulahmu, kamu.


Kamu, yang jahat sekali, oh tidak, kamu sesungguhnya tak pernah jahat pada si bodoh, sungguh. Si bodoh tak cukup bodoh untuk percaya bahwa tentu kamu tak sengaja mendorongnya, hingga ia terjatuh, tidak, ia terjerembab, tersungkur. Si bodoh mengeluh sakit, pada dirinya. Mengapa? Karena si bodoh hanya sendiri. Apa kamu tahu hal itu? Apa kamu ingat apa yang membuat si bodoh terjerembab?


Ini, hanya satu kata ini, satu kata paling jahat yang si bodoh temui sepanjang perjalanan bodohnya menuju kamu, satu kata yang sejatinya begitu ingin ia dengar mengalun dari kamu, tapi tidak seperti ini, tidak dengan rasa yang kamu miliki kala itu, sungguh, jika seperti itu, si bodoh benar tak mau, dia benci mendengarnya, sangat, itu membuatnya merasa sangat, sangat, dan sangat bodoh terjatuh dalam jurang bodohnya yang memberi luka, ia sungguh tampak bodoh sekali.

Ini, kata ini, hanya satu kata ini, “ Saranghae “. Pada hari ke-94, Kamis, 06 Oktober 2011, pukul 22:06 WIB, via Texting ( SMS ). Ah, kamu pasti tak ingat, tak peduli, benar kan? Tidak apa-apa, si bodoh tak apa-apa, sungguh, mengapa? Karena ia sudah terlanjur terbiasa untuk tetap menjadi tidak apa-apa.


Walau telah tersungkur begitu kasar, di dorong oleh kamu, namun berkat kebodohannya, ia masih tak sanggup untuk men-DELETE kamu dari file di folder hari si bodoh. Begitu banyak memori tentang kamu yang tersimpan dalam sebuah folder ukuran besar berlokasi di tempat penyimpanan spesial di hardisk hati si bodoh. Kamu bukan virus kan? Virus yang dengan sangat menjengkelkannya menjangkiti otak si bodoh? Dan, entah karena alasan apa, kamu tak henti berkunjung tanpa si bodoh undang, mulai dari Senin, Selasa, Rabu, kamis, Jumat, Sabtu, dan  tak terlupa, Minggu. Selama 24 jam setiap harinya. Mengapa kamu begitu usil mengacaukan tatanan otak dan hati si bodoh itu, yang sejak awal memang telah ERROR? Kamu, kamu seperti bakteri, bakteri yang mungkin bersembunyi dibalik kelezatan roti keju kesukaan si bodoh. Ah, si bodoh tak tahu lagi.


 Sehingga, si bodoh terus menjejalkan gagasan demi gagasan bodoh di otaknya untuk menemukan metode efektif mengusir kamu agar tak lagi datang. Sementara si bodoh memikirnya, jusru semakin banyak untaian kata-kata bodoh yang tergantung di otaknya yang kian bodoh, dan ia bahkan salut padamu. Mengapa kamu selalu bisa menjelma menjadi apa saja? Ketika si bodoh hendak tidur, ia masih melihat wajah kamu, di bantal merah muda bermotif Hello Kity-nya. Ketika dia nyaris menutup mata untuk terlelap, kamu masih disana, di dinding biru muda kamarnya. Ketika si bodoh sedang ujian, wajah menyebalkanmu tapi dia rindu itu, muncul tiba-tiba di lembar soal ujiannya. Ketika si bodoh menatap sepiring nasi goreng di sarapan paginya, kamu pun hadir disana, dengan ekspresi mengesalkan mu yang justru sangat dirindukan si bodoh. Dimana saja, kamu tak jera muncul di dinding kamar si bodoh, di permukaan susu cokelat favorit si bodoh, di nasi goreng si bodoh, bahkan di tutup toples keripik pisang kesukaan si bodoh saat ia hendak membukanya. Kamu, dengan ulah tak jelas mu itu, mengikuti si bodoh kemana-mana.


Bahkan, suatu ketika di hari Jumat, seusai shalat Dzuhur di Masjid universitas, saat ia dan seorang temannya melangkah menuju lokal untuk kuliah siang, ia, si bodoh itu,  melihat  kamu, oh bukan, bukan kamu, melainkan seseorang yang mirip sekali postur tubuh bagian belakangnya dengan kamu. Jantung si bodoh berdegup dengan bunyi yang kurang lebih seperti ini kala itu, dag-dig-dug-dug-dig-dag-dug-dig-dig-dag-dug-dig-dag-dag-dig-dig-dig. Tempo yang kian cepat, dan ah! Ternyata itu memang bukan kamu, walau hanya tampak dari kejauhan, tapi si bodoh tetap merasa sangat lega karena itu memang bukan lah kamu, leganya. Haha.


Kapan saja, pagi saat si bodoh terjaga dari tidur lelahnya hingga malam ketika si bodoh hendak terlelap melepas harinya yang melelahkan. Kamu tahu? Ah, mengapa si bodoh  selalu menanyakan ini. Padahal jelas-jelas kamu tak akan tahu. Kamu tak pernah tahu, atau tak pernah mau tahu? Ah, si bodoh pun tak mau tahu, ia selalu tak tahu, bodoh. Si bodoh, si bodoh ini bukan nya malah berhenti menyukai kamu saat mendengar kisah kamu dahulu dengan dia yang kamu suka. Si bodoh itu justru semakin salut pada kamu, pada rasa suka milik mu, kepada dia, orang yang entah masih kamu suka, atau tak lagi suka. Entahlah, si bodoh tak tahu, si bodoh selalu tak tahu, bodohnya si bodoh ini.




Setiap hari si bodoh hanya melakukan hal-hal bodoh, tentu, karena ia bodoh.


Setiap hari si bodoh selalu ingin makan keju, tentu, karena ia suka keju.


Si bodoh tahu yang dilakukannya adalah hal bodoh, tapi, karena ia bodoh, ia tetap melakukan hal demi hal bodoh.


Si bodoh tahu keju itu asin, apalagi dimakan dalam kuantitas yang banyak, tapi, karena ia suka, ia tetap memakannya, keju demi keju.


Betapa bodohnya si bodoh.


Bodoh. Bodoh.



By: Rahmadila Eka Putri ( @ladilacious )
( blog : Bacotan si dilacious )

Postingan Terpopuler

Postingan Terbaru