Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

20 August 2013

Surat Untuk Ibu

Ibu, untuk menghargai dan mengenang semua jasa-jasamu untuk dunia ini telah diciptakan satu hari khusus yaitu “Hari ibu”. Hari ini diciptakan hanya untuk mengingat jasa luar biasamu, jasa yang hanya bisa dilakukan oleh kaum hawa. Dan hanya pada kaum hawa yang terpilih saja yang bisa melakukan tugasnya dengan baik.
          
          Ibu, terima kasih telah menyimpanku ditempat yang paling kokoh didunia ini, tempat yang paling nyaman dan aman selama perjalanan hidupku. Aku yang hanya sebuah sperma kecil selama sembilan bulan penuh melewati tahapan-tahapan sempurna sehingga menjelma menjadi seorang manusia kecil, yang kemudian kau lahirkan kedunia ini dengan jutaan tetesan darah. Dengan satu tujuan, memperlihatkan dunia padaku. Kau telah memberikanku kesempatan mencicipi indahnya kehidupan.

            Tak cukup hanya menumpang dalam tubuhmu. Kau memberikanku asupan ASI, zat paling berharga untuk pembentukan energi dalam tubuhku yang mungil, kecil dan lemah tak berdaya. Tanpa berfikir untuk meminta balas jasa apapun dariku.

           Ibu, Disaat aku mulai menapaki kehidupan sebagai seorang pelajar, dirimu tak henti-hentinya mengambil peran dalam tiap-tiap baitnya. Kau yang memberiku semangat tuk meraih cita-citaku. Agarku tak berhenti belajar. Disetiap pagi, kau menjadi alarm pagiku, kau juga menjadi koki untuk sarapanku, dan diwaktu lainnya kau menjadi pelayan laundri untuk semua pakaian dan kelengkapan sekolahku. Kau juga tak pernah berhenti mengingatkanku untuk mengerjakan PR-ku.

            Tubuhmu yang seksi, molek, mulus dan putih perlahan berubah menjadi kendor. Berlemak tak terawat karena semua perhatianmu kini tertuju padaku. Dan kau tak pernah marah padaku karena menjadi penyebab rusaknya bentuk tubuhmu. Kau malah menganggap ini sebuah bentuk kasih sayang.
     
            Tanganmu yang gemulai dan halus ikut berubah kasar dikarenakan terlalu sering berjabatan dengan deterjen. Matamu yang indah dan tajam kini memiliki kantung mata akibat kelelahan, dulu waktu tidurmu 8 jam penuh, tapi setelah aku masuk dalam kehidupanmu. Perlahan jam tidurmu terpotong kau bagi untukku. Wajahmu kini kusam terhantam sinar matahari, bahumu kini semakin jatuh termakan waktu.



            Disetiap tapak kakimu, akan selalu diiringi dengan tarikan nafas yang tak henti-hantinya terpanjatkan namaku seperti dalam bait-bait harapanmu untukku dalam do’amu. Sebersalah apapun aku, kau selalu punya jutaan alasan untuk tidak membenciku. Sejelek apapun diriku kau juga tak pernah memakiku. Sebodoh apapun diriku kau juga tak pernah menyerah ingin membimbingku. Ibu kau tak henti-hentinya memaklumi kesalahanku, bagimu kesalahan yang kulakukan hanya berupa proses penemuan jati diri.

            Ibu, tak cukup dengan mengurus ayah, kau juga disibukkan dengan aktivitas mengurusiku, menyiapkan makanan untuk keluarga kecilmu. Menyulap pakaian lusuh dan kotor penuh keringan menjadi pakaian siap pakai, memberantas semua debu disudut-sudut ruangan, lemari dan juga jendela dirumah kesayangan kita. Menyapu dan mengepel rumah hingga mengkilap. Dan sadarkah ibu, ibu melakukan semua itu bukan hanya untuk 1,2,3 hari, bukan juga hanya dalam hitungan bulan, tapi sejak awal ibu membina rumah tangga hingga saat ini dan akan terus begitu.

            Dan ketika aku masuk dalam keluarga kecilmu ini, tugasmu semakin terlipat ganda. Tugas yang menambah kerut diwajahmu .Tugas yang membuat tangan dan kakimu keram Tugas yang membuat waktumu tersita dirumah. Tugas yang membengkokkan tulang punggungmu, dan atas semua tugas rumah itu aku jarang membantumu. Dan yang ku dapati ibu malah memakluminya. Disaat aku lebih memilih jalan-jalan ke mall, menghabiskan uang ayah dengan alasan ingin bersenang-senang setelah ujian kau tetap memakluminya. Kau tak marah aku tak membantumu mengerjakan tugas-tugas beratmu.

            Aku kembali teringat saat aku tertawa hebat melihatmu gagap akan tekhnologi. Aku menertawaimu yang tidak peka akan zaman. Aku yang malu akan aksenmu yang berantakan dan kental akan bahasa daerah. Aku juga sering menggerutu dan mogok makan jika masakanmu tidak mengairahkan bagiku. Tanpa sekalipun aku menyadari, bahwa aku tak bisa masak sehebat dirimu.

            Ibu, aku selalu marah padamu disaat kau mengganggu tidur nyenyakku, aku selalu menggerutu disaat kau menggerecok aktivitas menyenangkanku, akitivitas bersantaiku, aku selalu memakimu saat kau berusaha mendidikku. Aku juga selalu mencemoohmu karena tak mengerti kehidupan remajaku, tak lupa juga aku selalu medumel disaat kau memarahiku, aku juga selalu memasang wajah tak bergairah seakan telah mengelilingi kota dengan jalan kaki saat kau meminta tolong dariku.

            Tubuh yang menua seakan menyadarkanku Aku terduduk. Terdiam dalam sepi. Kupandangi gambarmu. Sekilas terbayangkan semua kenangan indah masa-masa bersamamu. Saat kau merawatku, mengganti popokku, mengelitiku, menciumku, memijatku dan semuanya. Padahal kau bisa mengaborsiku, tapi mengapa kau lebih memilih melahirkanku, memilih untuk menanggung beban merawatku, membesarkanku, dan membuatmu kehilangan kebebasan bergerakmu.

             Entahlah inilah mungkin bukti saktinya cintamu padaku. Bukti kasih sayangmu padaku. Ibu kau telah berhasil menyulap anak kecil yang hoby mengompol dan mengisap jempol menjadi sosok anak yang berdasi, berjas, dan bahkan bermobil. Saat aku menatap gambar wajahmu dikertas berukuran 4R ditanganku, pikiraku sejenak melayang.

Membayangkan bagaimana jika mendadak tubuhmu tak bergoyang lagi.
Membayangkan jantungmu tak berdenyut lagi,
Membayangkan semua tugasmu beralih menjadi tugasku.
Membayangkan jika dirimu tak bisa ku jamah lagi.
Ohh Tuhan.. Kumohon jangan. Aku tak sanggup,benar-benar aku belum siap kehilangannya Tuhan. Dirinya terlalu berarti bagiku.
Teringat aku pada semua tangisanmu yang keluar dari kelopak matamu saat membesarkanku, semua bulir keringatmu saat merawatku, semua ocehan yang keluar dari bibirmu hanya untuk menuntunku memberikanku petunjuk untuk menapaki dunia ini. Aku kembali teringat akan semua hal kecil hingga hal besar yang kau lakukan untuk menunjukkan cintamu.

          Ibu, aku telah menyita waktumu, membuatmu marah, menangis, kebingunggan,  khawatir,  resah, pusing dan yang kubalas hanyalah sikap kurang ajar. Dan untuk semua sikap burukku padamu kau tidak membenciku.



         Jika dibandingkan semua usahamu untukku, intan, berlian, permata, bahkan dunia ini tak akan cukup untuk membalas semuanya Ibu. Aku meminta maaf atas segala sifat burukku padamu. Atas segala bentuk lupa diriku atas semua pengorbananmu. Aku mencintaimu.

          Duhai ibuku, terima kasih telah menjadi Ibuku. Terima kasih telah mencintaiku. Terima kasih telah menerimaku dan manyayangiku.

          Ibu, kau segalanya bagiku. Untukmu peluk hangat dan cium mesraku.

                                                                                                                               Selamat hari ibu

                                                                                                                Terima kasih telah menjadi
                                                                                                               ibu yang sempurna bagiku!
Baca Selengkapnya...

09 May 2013

entah

entah,
berpikir, berpikir,
aku tak mengerti,
mungkinkah begitu banyak kesalahanku?
entah,
tangis seakan memaksa untuk keluar dari peraduannya
inginnya tertumpahkan,
batin mencoba bertahan,
sampai kapan?
entah,
tanya demi tanya
berkeliaran dalam pikirku.
aku lelah,
aku lelah,
bolehkah aku mundur dari semua ini?
Baca Selengkapnya...

28 April 2013

Aku


Aku akan berhenti tertawa ketika tahu neraka bukanlah dusta
Aku akan berhenti mencaci ketika tahu mulia adalah puji
Aku akan berhenti berpikir ketika tahu percaya lebih utama
Aku akan berhenti bernyayi ketika tahu berita kematian tetanggaku
Aku akan berhenti merasa rupawan ketika tahu aku sdg didepan cermin
Aku akan berhenti merasa pintar ketika tahu merasa bodoh lebih berguna
Aku akan berhenti menuntut derajat ketika tahu apa itu kodrat
Aku akan berhenti menipu ketika tahu korbanku diri sendiri
Aku akan berhenti bolos kuliah ketika tahu org tua ku susah dirumah
Aku akan berhenti kuliah ketika tahu itu tak berguna
Aku akan berhenti  tak berguna ketika tahu banyak tahu itu bahaya
Aku akan berhenti berlari ketika tahu tujuan tak pernah kemana
Aku akan berhenti membakar uang ketika tahu itu membuatku sakit paru
Aku akan berhenti menangis ketika tahu air mataku tdk berarti apa
Aku akan berhenti menyesal ketika tahu esok ada harap
Aku akan berhenti menulis ketika tahu kau mulai bosan membaca
Aku akan berhenti menyanyi ketika tahu kau bilang berisik
Sayangnya aku tidak akan tahu, atau tidak mau tahu, mungkin juga kau kawan.

Cassava levi
2013
Baca Selengkapnya...

03 February 2013

Kisah Si Kecil Dewi

Seorang gadis kecil bernama Dewi...4 tahun usianya. Hari itu diantar oleh ibundanya masuk sekolah Taman Kanak-kanak. Betapa bahagia hati Dewi, dengan langkah pasti dan berseragam lengkap, terbayang di benaknya dia akan banyak teman, bisa bermain, saling berbagi, dan bergembira di lingkungan barunya. Hati sang Bunda pun juga bahagia mengantar putri satu-satunya tercinta, ke dunia baru sang putri untuk meraih masa depan.

Keduanya bergandeng tangan melangkah pintu gerbang sekolah dan disambut para guru TK dengan sapaan ramah. Sang ibu memperkenalkan putrinya kepada seluruh guru-guru di sekolah tersebut dengan penuh asih mereka menyambut Dewi sebagai murid spesial-nya. Murid spesial, karena Dewi adalah satu-satunya murid yang cacat. Sejak lahir Dewi hanya bertangan satu, tangan kanannya cacat, dan hanya tumbuh kecil bagai seonggok daging.

Dewi-pun dibimbing masuk ke kelas bersama teman-temannya yang lain sementara puluhan mata memandang dengan heran, sinis dan cibiran. Teman-teman kecilnya dengan polos menertawakan dirinya karena berbeda dengan yang lain. Sungguh rasanya Dewi ingin menahan tangis dan sakit hatinya ditertawakan teman-temannya.

Tidak kuasa membendung rasa malu dan air matanya, Dewi-pun berlari keluar ruangan dan menemui Bundanya, "....Bunda kita pulang saja.... Dewi tidak mau sekolah!!!..."

Sungguh kaget sang Bunda mendengar ucapan Dewi. Beberapa saat yang lalu putri tercintanya begitu bahagia, tapi sekejap telah berubah bagai awan mendung hitam. Sang Bunda pun segera membimbing Dewi pulang ke rumah. Sesampai di rumah Bunda dan Dewi terduduk dalam diam. Tidak tahu harus bagaimana memulai kalimat, Sang bunda pun kebingungan harus bagaimana membujuk sang bidadarinya untuk ceria dan bersemangat sekolah kembali.

Dalam kesunyian, bidadari kecil itu dalam tangisnya mulai memecah keheningan, "Bunda, mengapa Dewi hanya punya tangan satu? Sementara teman-teman Dewi yang lain punya dua tangan? Mengapa Tuhan nggak adil Bunda???" Pedih sekali sang Bunda mendengar pertanyaan malaikat kecilnya itu. Sesak nafas sang Bunda, ingin dia menangis di depan putri satu-satunya itu.

Sambil menata hati dan perasaannya sang bunda mendekat pada Dewi dan ilham terbit di benaknya. Dipeluknya dan dihapus air mata bidadari kecilnya seraya berbisik, "Sayangku, Tuhan Maha Adil. Tuhan teramat sayang sama Dewi. Sungguh Tuhan amat mencintaimu Nak. SEBENARNYA-LAH TUHAN MENYIMPAN SATU TANGANMU DI SURGA. Dia menjaga tanganmu di sana dengan keindahanNya. Menjaga tanganmu dari dosa dan maksiat. Suatu saat kita kembali kepada-Nya pasti akan dikembalikan pada tubuhmu sayang. Putriku, tanganmu akan menyambut dirimu dengan bahagia jika dirimu selalu berbuat baik di dunia dan mematuhi perintah Tuhan......"

Hening sesaat, di wajah bidadari kecil itu pun mulai tersungging senyuman dan berkata, "Benarkah itu Bunda? Berarti Dewi tetap punya dua tangan ya?"

Jawab sang bunda, "Iya sayang, kamu tetap punya dua tangan dan kamu harus sabar menjemput tanganmu di sorga".

Mendung di wajah bidadari kecil itupun lenyap dan berganti mentari ceria kembali..... 


ibu, anak, kisah, cacat, terharu, kehidupan, inspirasi, renungan

Baca Selengkapnya...

Ketika Tuhan Menciptakan Wanita

Ketika Tuhan menciptakan wanita, malaikat datang dan bertanya, “Mengapa begitu lama menciptakan wanita, Tuhan?”
Tuhan menjawab, “Sudahkah engkau melihat setiap detail yang saya ciptakan untuk wanita? Lihatlah dua tangannya mampu menjaga banyak anak pada saat bersamaan, punya pelukan yang dapat menyembuhkan sakit hati dan keterpurukan, dan semua itu hanya dengan dua tangan“.

Malaikat menjawab dan takjub, “Hanya dengan dua tangan? tidak mungkin!
Tuhan menjawab, “Tidakkah kau tahu, dia juga mampu menyembuhkan dirinya sendiri dan bisa bekerja 18 jam sehari“.

Malaikat mendekat dan mengamati wanita tersebut dan bertanya, “Tuhan, kenapa wanita terlihat begitu lelah dan rapuh seolah-olah terlalu banyak beban baginya?”
Tuhan menjawab, “Itu tidak seperti yang kau bayangkan, itu adalah air mata.”
“Untuk apa?“, tanya malaikat.

Tuhan melanjutkan, “Air mata adalah salah satu cara dia mengekspresikan kegembiraan, kegalauan, cinta, kesepian, penderitaan, dan kebanggaan, serta wanita ini mempunyai kekuatan mempesona laki-laki, ini hanya beberapa kemampuan yang dimiliki wanita. Dia dapat mengatasi beban lebih hebat dari laki-laki, dia mampu menyimpan kebahagiaan dan pendapatnya sendiri, dia mampu tersenyum saat hatinya menjerit, mampu menyanyi saat menangis, menangis saat terharu, bahkan tertawa saat ketakutan. Dia berkorban demi orang yang dicintainya, dia mampu berdiri melawan ketidakadilan, dia menangis saat melihat anaknya adalah pemenang, dia girang dan bersorak saat kawannya tertawa bahagia, dia begitu bahagia mendengar suara kelahiran. Dia begitu bersedih mendengar berita kesakitan dan kematian, tapi dia mampu mengatasinya. Dia tahu bahwa sebuah ciuman dan pelukan dapat menyembuhkan luka.”

“Cintanya tanpa syarat. Hanya ada satu yang kurang dari wanita, Dia sering lupa betapa berharganya dia.....” 

Baca Selengkapnya...

16 January 2013

Sebuah Renungan; Tentang Hidup


Saya sedang merenungkan sebuah perjalanan hidup yang mungkin bisa jadi perjalanan hidup saya atau orang lain di masa depan.

Saya mungkin terlalu banyak merenung sehingga saya terkesan lebih sensitive terhadap sekitar saya. Saya merenungkan, betapa hidup ini harus dilalui dengan penuh keberanian dan tanggung jawab. Banyak orang beruntung, tetapi lebih banyak lagi yang kurang beruntung.

Yang menjadi permasalahannya adalah bagi orang-orang yang kurang beruntung jika mereka tak cerdas, tak bijaksana menghadapi ketidakberuntungannya pastilah kehidupan tak tenang yang akan mereka dapatkan. Mungkin sebagian mereka akan melakukan banyak tindak kejahatan, sebagian melakukan tindakan asusila atau hal-hal lain yang tak dibenarkan oleh norma-norma agama maupun norma yang berlaku di dalam kehidupan lainnya.

Baca Selengkapnya...

Postingan Terpopuler

Postingan Terbaru