Showing posts with label Tentang Hidup. Show all posts
Showing posts with label Tentang Hidup. Show all posts

20 August 2013

Surat Untuk Ibu

Ibu, untuk menghargai dan mengenang semua jasa-jasamu untuk dunia ini telah diciptakan satu hari khusus yaitu “Hari ibu”. Hari ini diciptakan hanya untuk mengingat jasa luar biasamu, jasa yang hanya bisa dilakukan oleh kaum hawa. Dan hanya pada kaum hawa yang terpilih saja yang bisa melakukan tugasnya dengan baik.
          
          Ibu, terima kasih telah menyimpanku ditempat yang paling kokoh didunia ini, tempat yang paling nyaman dan aman selama perjalanan hidupku. Aku yang hanya sebuah sperma kecil selama sembilan bulan penuh melewati tahapan-tahapan sempurna sehingga menjelma menjadi seorang manusia kecil, yang kemudian kau lahirkan kedunia ini dengan jutaan tetesan darah. Dengan satu tujuan, memperlihatkan dunia padaku. Kau telah memberikanku kesempatan mencicipi indahnya kehidupan.

            Tak cukup hanya menumpang dalam tubuhmu. Kau memberikanku asupan ASI, zat paling berharga untuk pembentukan energi dalam tubuhku yang mungil, kecil dan lemah tak berdaya. Tanpa berfikir untuk meminta balas jasa apapun dariku.

           Ibu, Disaat aku mulai menapaki kehidupan sebagai seorang pelajar, dirimu tak henti-hentinya mengambil peran dalam tiap-tiap baitnya. Kau yang memberiku semangat tuk meraih cita-citaku. Agarku tak berhenti belajar. Disetiap pagi, kau menjadi alarm pagiku, kau juga menjadi koki untuk sarapanku, dan diwaktu lainnya kau menjadi pelayan laundri untuk semua pakaian dan kelengkapan sekolahku. Kau juga tak pernah berhenti mengingatkanku untuk mengerjakan PR-ku.

            Tubuhmu yang seksi, molek, mulus dan putih perlahan berubah menjadi kendor. Berlemak tak terawat karena semua perhatianmu kini tertuju padaku. Dan kau tak pernah marah padaku karena menjadi penyebab rusaknya bentuk tubuhmu. Kau malah menganggap ini sebuah bentuk kasih sayang.
     
            Tanganmu yang gemulai dan halus ikut berubah kasar dikarenakan terlalu sering berjabatan dengan deterjen. Matamu yang indah dan tajam kini memiliki kantung mata akibat kelelahan, dulu waktu tidurmu 8 jam penuh, tapi setelah aku masuk dalam kehidupanmu. Perlahan jam tidurmu terpotong kau bagi untukku. Wajahmu kini kusam terhantam sinar matahari, bahumu kini semakin jatuh termakan waktu.



            Disetiap tapak kakimu, akan selalu diiringi dengan tarikan nafas yang tak henti-hantinya terpanjatkan namaku seperti dalam bait-bait harapanmu untukku dalam do’amu. Sebersalah apapun aku, kau selalu punya jutaan alasan untuk tidak membenciku. Sejelek apapun diriku kau juga tak pernah memakiku. Sebodoh apapun diriku kau juga tak pernah menyerah ingin membimbingku. Ibu kau tak henti-hentinya memaklumi kesalahanku, bagimu kesalahan yang kulakukan hanya berupa proses penemuan jati diri.

            Ibu, tak cukup dengan mengurus ayah, kau juga disibukkan dengan aktivitas mengurusiku, menyiapkan makanan untuk keluarga kecilmu. Menyulap pakaian lusuh dan kotor penuh keringan menjadi pakaian siap pakai, memberantas semua debu disudut-sudut ruangan, lemari dan juga jendela dirumah kesayangan kita. Menyapu dan mengepel rumah hingga mengkilap. Dan sadarkah ibu, ibu melakukan semua itu bukan hanya untuk 1,2,3 hari, bukan juga hanya dalam hitungan bulan, tapi sejak awal ibu membina rumah tangga hingga saat ini dan akan terus begitu.

            Dan ketika aku masuk dalam keluarga kecilmu ini, tugasmu semakin terlipat ganda. Tugas yang menambah kerut diwajahmu .Tugas yang membuat tangan dan kakimu keram Tugas yang membuat waktumu tersita dirumah. Tugas yang membengkokkan tulang punggungmu, dan atas semua tugas rumah itu aku jarang membantumu. Dan yang ku dapati ibu malah memakluminya. Disaat aku lebih memilih jalan-jalan ke mall, menghabiskan uang ayah dengan alasan ingin bersenang-senang setelah ujian kau tetap memakluminya. Kau tak marah aku tak membantumu mengerjakan tugas-tugas beratmu.

            Aku kembali teringat saat aku tertawa hebat melihatmu gagap akan tekhnologi. Aku menertawaimu yang tidak peka akan zaman. Aku yang malu akan aksenmu yang berantakan dan kental akan bahasa daerah. Aku juga sering menggerutu dan mogok makan jika masakanmu tidak mengairahkan bagiku. Tanpa sekalipun aku menyadari, bahwa aku tak bisa masak sehebat dirimu.

            Ibu, aku selalu marah padamu disaat kau mengganggu tidur nyenyakku, aku selalu menggerutu disaat kau menggerecok aktivitas menyenangkanku, akitivitas bersantaiku, aku selalu memakimu saat kau berusaha mendidikku. Aku juga selalu mencemoohmu karena tak mengerti kehidupan remajaku, tak lupa juga aku selalu medumel disaat kau memarahiku, aku juga selalu memasang wajah tak bergairah seakan telah mengelilingi kota dengan jalan kaki saat kau meminta tolong dariku.

            Tubuh yang menua seakan menyadarkanku Aku terduduk. Terdiam dalam sepi. Kupandangi gambarmu. Sekilas terbayangkan semua kenangan indah masa-masa bersamamu. Saat kau merawatku, mengganti popokku, mengelitiku, menciumku, memijatku dan semuanya. Padahal kau bisa mengaborsiku, tapi mengapa kau lebih memilih melahirkanku, memilih untuk menanggung beban merawatku, membesarkanku, dan membuatmu kehilangan kebebasan bergerakmu.

             Entahlah inilah mungkin bukti saktinya cintamu padaku. Bukti kasih sayangmu padaku. Ibu kau telah berhasil menyulap anak kecil yang hoby mengompol dan mengisap jempol menjadi sosok anak yang berdasi, berjas, dan bahkan bermobil. Saat aku menatap gambar wajahmu dikertas berukuran 4R ditanganku, pikiraku sejenak melayang.

Membayangkan bagaimana jika mendadak tubuhmu tak bergoyang lagi.
Membayangkan jantungmu tak berdenyut lagi,
Membayangkan semua tugasmu beralih menjadi tugasku.
Membayangkan jika dirimu tak bisa ku jamah lagi.
Ohh Tuhan.. Kumohon jangan. Aku tak sanggup,benar-benar aku belum siap kehilangannya Tuhan. Dirinya terlalu berarti bagiku.
Teringat aku pada semua tangisanmu yang keluar dari kelopak matamu saat membesarkanku, semua bulir keringatmu saat merawatku, semua ocehan yang keluar dari bibirmu hanya untuk menuntunku memberikanku petunjuk untuk menapaki dunia ini. Aku kembali teringat akan semua hal kecil hingga hal besar yang kau lakukan untuk menunjukkan cintamu.

          Ibu, aku telah menyita waktumu, membuatmu marah, menangis, kebingunggan,  khawatir,  resah, pusing dan yang kubalas hanyalah sikap kurang ajar. Dan untuk semua sikap burukku padamu kau tidak membenciku.



         Jika dibandingkan semua usahamu untukku, intan, berlian, permata, bahkan dunia ini tak akan cukup untuk membalas semuanya Ibu. Aku meminta maaf atas segala sifat burukku padamu. Atas segala bentuk lupa diriku atas semua pengorbananmu. Aku mencintaimu.

          Duhai ibuku, terima kasih telah menjadi Ibuku. Terima kasih telah mencintaiku. Terima kasih telah menerimaku dan manyayangiku.

          Ibu, kau segalanya bagiku. Untukmu peluk hangat dan cium mesraku.

                                                                                                                               Selamat hari ibu

                                                                                                                Terima kasih telah menjadi
                                                                                                               ibu yang sempurna bagiku!
Baca Selengkapnya...

10 July 2013

Coretan Malam


Hari ini telah berlalu dengan berbagai cerita.
Tepat tanggal 1 Ramadhan, ku awali langkah dengan basmalah.
Meniti kembali langkah yg tak terarah.
dan menyucikan hati yg sempat kotor.
Ku langkahkan kaki ini menuju kebaikan.
Berharap bahwa Tuhan senantiasa meridhoi.
Bukan karena siapa aku berubah.
Terlebih karena waktuku yg singkat di dunia ini.
Tak ada gunanya menyesali takdir hidup ini.
Karena kita tak pernah tau rencana Tuhan untuk kita.
Di setiap kesulitan yg kita hadapi,
pasti terselip kemudahan yg kadang tidak kita sadari.
Semua itu hanyalah sebuah ujian dari Tuhan
agar kita semakin bertaqwa.
Ku harap aku bisa dengan sabar
melalui ujian dan cobaan yg Tuhan berikan untukku.
Ku harap Tuhan melapangkan hatiku atas ini semua.


By :Rina Maniez
@rina_maniez on Twitter
Baca Selengkapnya...

28 April 2013

Aku


Aku akan berhenti tertawa ketika tahu neraka bukanlah dusta
Aku akan berhenti mencaci ketika tahu mulia adalah puji
Aku akan berhenti berpikir ketika tahu percaya lebih utama
Aku akan berhenti bernyayi ketika tahu berita kematian tetanggaku
Aku akan berhenti merasa rupawan ketika tahu aku sdg didepan cermin
Aku akan berhenti merasa pintar ketika tahu merasa bodoh lebih berguna
Aku akan berhenti menuntut derajat ketika tahu apa itu kodrat
Aku akan berhenti menipu ketika tahu korbanku diri sendiri
Aku akan berhenti bolos kuliah ketika tahu org tua ku susah dirumah
Aku akan berhenti kuliah ketika tahu itu tak berguna
Aku akan berhenti  tak berguna ketika tahu banyak tahu itu bahaya
Aku akan berhenti berlari ketika tahu tujuan tak pernah kemana
Aku akan berhenti membakar uang ketika tahu itu membuatku sakit paru
Aku akan berhenti menangis ketika tahu air mataku tdk berarti apa
Aku akan berhenti menyesal ketika tahu esok ada harap
Aku akan berhenti menulis ketika tahu kau mulai bosan membaca
Aku akan berhenti menyanyi ketika tahu kau bilang berisik
Sayangnya aku tidak akan tahu, atau tidak mau tahu, mungkin juga kau kawan.

Cassava levi
2013
Baca Selengkapnya...

19 April 2013

MAYA




Sudah satu bulan aku tidak mengunjungi dunia maya, padahal biasanya hampir di setiap saat aku berkunjung di dunia maya. Bukan karena sibuk atau keperluan penting lainnya, aku hanya ingin menikmati dunia nyata. Aku ingin menikmati sesuatu yang benar-benar ada, yang benar-benar nampak di pelupuk mata. Aku merasa jenuh dengan kepura-puraan yang ada di dunia maya. Banyak orang menekan tombol like di jejaring sosial facebook, tapi dalam dunia nyata mereka mengejek status tersebut, bahkan ada yang menekan tombol like padahal tidak mengerti dengan isi status tersebut.
Tapi kali kini aku akan menceritakan salah satu pengalamanku di dunia maya yang merubah hidupku di dunia nyata. Kisah ini dimulai sekitar pertengahan bulan Januari lalu. Seperti pagi-pagi sebelumnya, setelah bangun tidur aku langsung menyalakan laptop dan memasang modem pada slot yang ada di laptopku dengan satu tujuan, online. Tapi ada yang aneh, pagi ini aku tak menemukan satupun pemberitahuan pada akun facebook-ku.
“Tumben, biasanya pagi-pagi begini banyak banget pemberitahuan.” gumamku dalam hati.
Aku pun berniat untuk keluar dari akun facebook-ku.  Namun tepat sebelum aku mengeklik tombol keluar, laptopku berbunyi dan menampilkan sebuah percakapan, salah satu temanku di facebook mengirim pesan padaku. Afriana Asri, nama tersebut muncul di bagian atas percakapan itu.
“Hai Arga…!!!” pesan tersebut yang muncul di jedela percakapan facebook-ku.
Awalnya aku bingung, karena seingatku tak ada teman facebook-ku yang bernama Afriana Asri. Aku mengingatnya, karena teman facebook-ku masih sedikit, dan semua adalah orang yang aku kenal di dunia nyata. Tapi, daripada tidak ada yang kulakukan, lebih baik aku meladeni dia. Cukup lama kami bercakap-cakap hal yang sebenarnya tidak terlalu penting, tapi cukup mengasikkan.
Aku bercakap-cakap dengannya sambil melihat-lihat akunnya untuk mencari tahu siapakah dia. Pertama, aku membuka fotonya, karena inilah yang paling dapat menentukan, apakah aku mengenalnya atau tidak. Aku mengeklik pada foto profilnya. Setelah terbuka, aku mengamati fotonya dengan seksama.
“Hmm, siapa ya? Kayaknya aku gak pernah lihat deh. Tapi cantik sih.” ucapku sambil mengamati fotonya dan senyum-senyum sendiri.
Untuk mendapatkan informasi yang lebih detail, akupun membuka halaman info profilnya, siapa tahu dia tetangga atau siswi satu sekolahku. Setelah membuka halaman profilnya, aku baca semua info tentang dirinya.
“Owh, anak SMU Dwi Pena juga. Tapi kok kayaknya aku gak pernah lihat dia ya.” ucapku bingung.
Setelah setengah jam kami bercakap-cakap, tiba-tiba dia offline. Jengkel juga sih, lagi asik-asiknya ngobrol, malah off tanpa pemberitahuan. Tapi tak apalah, aku juga harus bersiap-siap berangkat ke sekolah, mungkin dia juga.
***
Sepulang sekolah, aku tidak langsung pulang. Aku berdiri di dekat gerbang sekolah, berharap menemukan dia di antara puluhan siswi yang keluar melalui pintu gerbang sekolah. Namun, hingga sekolah sepi, aku tak menemukan wajah yang ada di foto yang kulihat pagi tadi. Aku segera pulang, ingin membuka facebook, berharap dia sedang online.
Sesampaiku di rumah, aku langsung menyalakan laptop-ku dan online lagi. Tapi aneh, lagi-lagi pemberitahuanku kosong. Kulihat di daftar obrolah, hanya ada satu nama yang sedang online, Afriana Asri. Aneh, tapi biarlah. Mungkin yang  lain sedang sibuk. Aku langsung memulai percakapan dengannya.
“Hai Ana… ^_^” begitulah aku menyapanya.
“Hai juga, Arga… ^_^ baru pulang sekolah ya?” dia membalas sapaanku.
“Iya nih, baru pulang. Kamu kok sudah OL? Pulang cepat kah? Atau jangan-jangan, kamu gak masuk sekolah ya?”
“Iya nih, aku lagi sakit. Makanya aku gak pergi sekolah.”
“Owh… pantesan aku gak lihat kamu di gerbang sekolah.”
“Hah? Kamu nunggu aku di gerbang sekolah?”
“Iya. Hehehe…”
“Maaf ya, bikin kamu menunggu.”
Baru saja aku ingin membalasnya, tiba-tiba dia offline lagi. Semua kejadian itu berlangsung terus menerus selama dua pekan. Tak ada pemberitahuan, hanya dia yang online, dan saat ngobrol, dia offline tiba-tiba. Satu lagi, aku tak pernah menemukannya di sekolah.
 Hingga suatu hari sebuah pesan dari dia masuk ke inbox-ku dan membuat aku terkejut.
“Arga, kamu mau gak jadi pacarku?”
Rasanya tidak percaya saat aku membaca pesan tersebut. Pasalnya, aku baru mengenalnya dua pekan yang lalu, itupun melalui dunia maya. Selain itu, yang membuat aku terkejut sekaligus senang adalah, wanita secantik dia ingin menjadi pacarku. Ini adalah hal yang sangat luar biasa untukku.
“Mau sih. Tapi, apa kamu yakin dengan ucapanmu itu?” balasku.
Dia tak membalas. Setelah cukup lama aku menunggu balasannya, tiba-tiba dia offline lagi. Aku makin bingung, sebenarnya apa yang terjadi. Apakah yang tadi dia katakan adalah benar? Apakah dia serius dengan ucapannya? Atau balasanku yang menanyakan keyakinannya tersebut salah?
Keesokan paginya, setelah bangun tidur aku langsung membuka facebook-ku lagi. Hari ini ada yang berbeda, ada satu pemberitahuan untukku.

Afriana Asri mencantumkan Anda sebagai pacarnya.
Terima ∙ Tolak

Aku sempat terkejut dan bingung. Tapi aku langsung menerimanya, aku merasa cocok dengannya. Aku juga merasa percakapanku dengannya selama dua pekan ini cukup untuk mengenal satu sama lain.
***
Sudah satu pekan setelah aku dan Ana berstatus pacaran. Tapi selama satu pekan itu juga, aku tak pernah melihatnya online lagi. Aneh, pikirku. Hal ini membuatku penasaran. Akupun membuka info profilnya dan mencari alamat rumahnya. Setelah kudapatkan, aku langsung bergegas ke rumahnya. Selama di perjalanan, aku terus memikirkannya. Apa sebenarnya yang terjadi padanya? Mengapa dia tidak pernah menghubungi aku lagi? Apa ini salahku? Atau dia yang merasa bersalah padaku? Aku semakin bingung.
Setelah limabelas menit perjalanan, aku tiba di rumahnya. Tak terlalu besar, berwarna putih, berpagar besi warna hitam. Tapi, terlihat sepi. Aku menekan tombol yang ada di sisi kiri pagarnya. Berkali-kali kutekan, tak ada satupun orang keluar dari balik pintu itu. Tak lama kemudian, ada seorang perempuan keluar dari rumah yang ada di samping rumah Ana. Akupun menyapanya dan menanyakan tentang Ana.
“Permisi bu, apakah rumah di itu benar milik keluarga Afriana Asri?” tanyaku sambil menunjuk rumah Ana.
“Oh, iya dek. Tapi, semua penghuninya pulang kampung setelah Afriana meninggal.” Jawaban ibu tersebut membuatku sangat syok.
“Me-meninggal? Kapan?” tanyaku tergagap.
“Kalau tidak salah, saat tahun baru. Dia kecelakaan saat akan merayakan tahun baru bersama teman-temannya.”
“Terima kasih infonya, bu.” jawabku seraya berbalik dan langsung mengendarai motorku menuju rumah.
Ucapan ibu tadi masih mengiang di telingaku, rasanya sungguh tak percaya. Akupun mencoba untuk berpikir positif.
“Ah, mungkin ada orang iseng yang menggunakan akunnya untuk mengerjaiku. Atau mungkin ada temanku yang merubah nama dan seluruh info profilnya untuk mengerjaiku.” pikirku.
Akupun menyalakan laptop-ku lagi dan membuka facebook-ku, berharap dia online lalu aku akan menginterogasinya.
Saat akun facebook-ku terbuka, betapa terkejutnya aku. Suatu hal yang aneh terjadi, membuatku bingung dan tak dapat berpikir jernih. Terdapat delapan puluh lima pemberitahuan dan tujuh pesan. Saat kubuka, beberapa pemberitahuan yang belum dibaca dan beberapa pesan masuk sejak tiga pekan yang lalu, tapi aku tak pernah menerima pemberitahuan dan pesan sejak tiga pekan yang lalu, kecuali dari Ana.
“Gak, gak mungkin.” ucapku.
Akupun mengetikkan nama Afriana Asri di pencarian. Aku menemukan hanya ada satu-satunya nama itu dalam pencarian. Kubuka akun itu. Benar, itu adalah akunnya, ku lihat dari fotonya. Tapi aku tidak berteman dengannya, dan aku juga menemukan pesan dinding dari beberapa temannya yang mengungkapkan rasa sedih mereka. Lalu, siapa yang kutemani mengobrol selama ini? Siapa yang menjadi pacarku selama satu pekan ini? Ternyata, pacarku di dunia maya benar-banar maya. Dia sudah tak ada di dunia nyata.

Baca Selengkapnya...

01 April 2013

masih ada lagi cinta

saat pengantar malam itu tidak lagi datang menghampiri
bentuk perhatian yang salah dan berbeda dengan yang lain

saat tidak lagi terbangun malam hari
seperti ada sebuah penyesalan kenapa ini harus terjadi

kepercayaan ini masih lekat dan harus berjalan
beriringan dan berdampingan secara selaras

pandangan ini yang seharusnya aku pegang
perasaan ini yang seharusnya aku tanam

bukan rasa penyesalan yang selalu tertujam
melayang, merasuk dan menghinggapi hati ini

tetapi rasa syukur yang aku hantarkan
diberi sedikit cubitan yang penuh kasih sayang

rasa ikhlas bahwa semua itu berjalan lebih baik lagi
mengindahkan dunia ini lagi

menghijaukan pikiran dan nurani
penyebab gelap itu akan sirna

dibalik semua itu masih ada sisa cinta
bukan, bukan sisa cinta
tetapi cinta yang baru akan ku rasakan
mulai hari ini dan selanjutnya melekat dalam diri

terima kasih sudah menungguku berubah
menyadarkan semuanya dari lamunan gelap berbayang

:") #fullnotes.wordpress.com#

Baca Selengkapnya...

03 March 2013

Seorang Mantan Kekasih



Mantan Kekasih, pasti semua orang mempunyai mantan kekasih. Dia adalah seseorang yang dulu selalu ada disaat kita sedang dilanda kesepian, dia adalah seseorang yang dulu pernah membuat hati kita mati rasa akan apa yang dinamakan cinta. Tapi sekarang? Dia adalah kenangan terindah yang seiring bergulirnya waktu akan menghilang ditelan kenangan-kenangan indah yang lain.
Jangan mendefinisikan bahwa seorang mantan itu adalah musuh. Masihkah ingat engkau saat dia pertama kali mengatakan cinta padamu? Masihkah ingat engkau saat dia pertama kali mengecup mesra keningmu? Tapi kini dengan gampangnya engkau mulai mengatakan bahwa mantan kekasih itu adalah musuh. Biar bagaimanapun, dia adalah seseorang yang dulu pernah kita sayangi. Biar bagaimanapun, dia adalah seseorang yang dulu pernah kita cintai, menjadi urutan kedua setelah Ibu.
Mungkin banyak yang mengatakan bahwa seorang mantan kekasih itu patut untuk dibenci, sadarkah kamu, bahwa kebencian itu adalah tanda sikap keburukan seseorang? Hanya dengan sirnahnya sebuah hubungan berpacaran, kamu bisa dengan mudahnya berfikir bahwa mantan kekasih itu patut untuk dibenci? Cobalah berfikir yang lebih logis, status kalian masih berpacaran, bukan sebuah ikatan pernikahan? Jadi wajar saja jika dalam dunia percintaan itu ada sesi putus dan ada sesi jadiannya. Kita semua juga pernah merasakan pengkhianatan yang tak akan pernah mungkin dapat dengan mudah kita lupakan, namun tak ada salahnya bila kita mencoba menjadikan seorang mantan kekasih kita menjadi sahabat kita, atau menganggapnya sebagai saudara sendiri, sulit memang untuk mengubah status seorang mantan kekasih menjadi sahabat. Namun seiring bejalannya waktu, kita akan bisa dengan mudah menjadikan mantan kekasih kita menjadi seorang sahabat, atau mungkin kerabat.


Follow My Twitter: @Romy_Dinasty
Join My Blog: romy-dinasty.blogspot.com
Baca Selengkapnya...

02 March 2013

( Tiga ) Sekeping asa terjepit diantara siang dan sore.



Terjepit diantara siang dan sore, sekeping asa.

Momen di sela siang dan sore yang tak lama, cukup singkat walau sekedar merajut asa, terhadap kamu yang telah lebih dari sahabat semata, terhadap kamu yang disana, yang tak jua sadari tumbuhnya sebuah rasa, antara kita, berdua, sebuah rasa yang tak biasa,  mungkin memang belum menjamah fase yang menjelma atau bertmetamorfosa, menjadi lebih dari sekedar suka, belum lah menyentuh tahap berlabel cinta, tapi ini nyata, bukan rekayasa, bukan halusinasi semata, bukan bualan para pendusta, bukan pula celoteh ria, rasa itu ada, walau tak bisa diraba, tak bisa ditatap mata, tak bisa ditangkap dengar telinga, tapi itu jelas terasa, biar hati yang bicara, kepada kamu yang disana, sebuah rasa yang terjepit diantara siang dan sore, sekeping asa.
Terjepit diantara siang dan sore, sekeping asa.

Hembus napas yang meniupkan udara kerinduan tiada terkira, rindu yang seolah membakar sukma, berpacu degup jantung menatap potret kamu dalam pigura, begitu harap ingin segera jumpa, kamu yang disana,  saling sapa, berbagi cerita, tertawa, bercanda, dan bersama, terkenang nostalgia, tentang kita, dahulu kala, hanya alunan nada rindu yang setia menggema di setiap inci ruang hati yang di dendangkan oleh lara, terukir sebuah nama, dalam hati dengan suka dan duka, yang datang silih-berganti hingga kadang ada kalanya terasa hampa, walau tak bisa diraba, tak bisa ditatap mata, tak bisa ditangkap dengar telinga, tapi itu jelas terasa, biar hati yang bicara, kepada kamu yang disana, sebuah rasa yang terjepit diantara siang dan sore, sekeping asa.



Terjepit diantara siang dan sore, sekeping asa.

Menerawang mata pada langit biru bercahaya, ada segerombolan awan putih menggantung diangkasa raya,  sederhana tapi mempesona, menebar aura ceria, suka cita, damai bahagia, luluhkan rindu ingin jumpa, pudarkan lara, usir duka, sembuhkan luka, enyahkan derita, tak lagi merana, berhenti melalang buana dalam padang asmara, yang kata orang tak ada logika, gila, sebab sebuah rasa, bernama suka ataupun cinta, terhadap seorang insan biasa, hanyalah sebuah rasa, namun berdampak luar biasa, walau tak bisa diraba, tak bisa ditatap mata, tak bisa ditangkap dengar telinga, tapi itu jelas terasa, biar hati yang bicara, kepada kamu yang disana, sebuah rasa yang terjepit diantara siang dan sore, sekeping asa.


Terjepit diantara siang dan sore, sekeping asa.

Ini hanya seonggok hal sederhana, ya, sebuah asa kecil tentang ingin jumpa, ketika sosok kamu terpantul di bola mata, yang artinya, kita, telah bersua, walau hanya seketika, diantara jeda, sedari siang hingga sore tiba, namun akan sangat berharga, karena ada sesuatu diantara kita, sebuah rasa, bernama suka, atau mungkin cinta, sebuah cinta pertama, walau tak bisa diraba, tak bisa ditatap mata, tak bisa ditangkap dengar telinga, tapi itu jelas terasa, biar hati yang bicara, kepada kamu yang disana, sebuah rasa yang terjepit diantara siang dan sore, sekeping asa.








Terjepit diantara siang dan sore, sekeping asa. SELESAI.




( by: @ladilacious )

Baca Selengkapnya...

26 February 2013

Jeritan Perjodohan



...

waktu terus bergulir,,
detik..menit..jam..
hari ..bulan..
bahkan tahun..
silih berganti...

sampai saat ini..
dan beberapa bulan lagi
aku dan dia
akan bersanding

dan
haruskah aku bahagia..
padahal hatiku menangis

haruskah aku tersenyum
padahal bibirku tak mampu tersenyum

bukan ku tak mau dengan perjodohan ini

tapi..
hatiku sampai detik ini masih tak mau menerima kenyataan
bahwa aku akan berojdoh dengan dia..

dia yang baru aku kenal
dan dia juga baru mengenal aku..

hari demi hari
aku belajar menerima..
belajar menyukainya..
belajar menyayanginya..
tapi tidak mencintainya..

karna cintaku masih tidak bisa ku berikan

waktu pun berlalu
sampai saat ini
1 setengah bulan menuju hari H tiba
akupun mulai menyadari
bahwa perasaan itu tak pernah ada
hanya kekosongan Hati yang ku rasa..

mungkin karna dia kurang begitu perhatian
dan kurang sering berkomunikasi dengan aku..
aku mencoba berusaha semampuku
agar bisa menerima dia..

tapi pengertian dan usahaku sia-sia belaka..
karna sikap dia yang begitu egois dan keras kepala..

ingin berontak
agar perjodohan ini tak terlaksana..
aku sungguh tak sanggup..

membayangkan
kesedihan dan rasa kecewa orang tua serasa ada didepan mata..

biarlah ini menjadi jeritan hatiku saja...
aku hanya ingin orang tuaku bahagia melihat aku dengan dia..
tak mengapa kesedihanku ini..
tak mengapa tangisku ini
hanya waktu yang akan membawaku kepada..
kesedihan atau kebahagian..

bagiku
orang tua segalanya
meski mengorbakan kebahagiaanku sendiri..


by. @syarifah_zainab , fachzaina_alkaff

Baca Selengkapnya...

23 February 2013

(Dua) Sebongkah Lara Di Pagi Kelabu



Lara dan pagi kelabu.

Semilir angin menderu, di sebuah lokal lantai 4 gedung ungu, mengambil tempat di pojok kanan depan pintu, menanti dosen yang minta ditunggu, menatap jauh ke luar jendela sembari bertopang dagu,  membisu, menghela napas dengan lesu, mata terpaku pada langit kelabu, merasuk rindu dalam kalbu, seruan sendu kepada kamu, kamu di masa lalu, ketika masih saling bertemu, terkenang akan mimik wajahmu, getar vokalmu, jemari meliuk lincah membentuk guratan-guratan artistik bermutu, di sketsa biru itu, mungkin kah itu dilukis untuk dihadiahkan kepada si penunggu kamu, atau orang itu, yang sama sekali tak menunggu hadirmu, ah, ini kah sebongkah lara dan pagi kelabu, yang menyatu menjadi satu, menghasut rindu, menjadi kian menggebu, bergemuruh sendu dalam kalbu, ketika bibir hanya bisa terkatup membisu, dan badan kaku membatu, sebab gugup yang tak menentu, ketika menemukan kamu, di suatu waktu.



Lara dan pagi kelabu.

Ketukan-ketukan kecil di lantai oleh ujung kuku, bolak-balik buku, seharga dua puluh  delapan ribu, duduk-duduk di pinggir jendela berdebu, teman-teman yang melucu, dan sesekali mengganggu, tapi terasa seru, hingga jenuh pun mulai menyerbu, lantaran yang ditunggu tak jua muncul di depan pintu, lalu datang sebuah kabar dari ketua kelas dengan napas yang memburu, setelah mendaki lantai 4 gedung ungu yang tinggi menjulang itu, sebab rusaknya lift yang seharusnya sangat membantu, sebuah kabar tentang dosen tak datang tentu, sorak sorai layaknya anak SD yang lugu, tapi tunggu dulu, ada satu hal yang tak berubah sejak 1 jam lalu, yaitu, ah, ini kah sebongkah lara dan pagi kelabu, yang menyatu menjadi satu, menghasut rindu, menjadi kian menggebu, bergemuruh sendu dalam kalbu, ketika bibir hanya bisa terkatup membisu, dan badan kaku membatu, sebab gugup yang tak menentu, ketika menemukan kamu, di suatu waktu.



Lara dan pagi kelabu.

Menapak di sepanjang jalan pulang ke rumah di bawah langit kelabu, awan-awan sendu, langit yang entah kapan kan kembali membiru, dengan gerombolan awan putih saling beradu, tak lagi penuh haru, berulang kali menghembuskan napas rindu, ingin bertemu, kamu, sungguh tak tahu, mengapa bisa sampai seperti itu, tiba dirumah dan membuka pintu, duduk di lantai yang baru disapu, menonton televisi yang menayangkan acara terbaru, melirik jam dinding biru, pukul sembilan lewat 15 menit kala itu, berencana hendak mencuci baju, hendak pudarkan rindu dengan cara sibukkan diri dengan setumpuk pekerjaan yang menunggu, tapi sialnya taktik itu tak jitu, gagal dan gagal melulu, rindu masih saja menyesak mengisi ruang kalbu, yang terus menyeru nama kamu, selalu seperti itu, ah, ini kah sebongkah lara dan pagi kelabu, yang menyatu menjadi satu, menghasut rindu, menjadi kian menggebu, bergemuruh dalam  kalbu, ketika bibir hanya bisa terkatup membisu, dan badan kaku membatu, sebab gugup yang tak menentu, ketika menemukan kamu, di suatu waktu.




 
Lara dan pagi kelabu. SELESAI.



( By: @ladilacious )

Baca Selengkapnya...

Anda Adalah Cahaya Dari Bayangan Saya



Pada Rabu di bulan Desember 2012, pagi menjelang siang, di tempat biasa. Ketika saya menemukan ekpresi itu kembali terlukis di paras Anda, walau dari jarak pandang yang tidak lebih dekat dari dulu, Anda yang sedang menggambar dengan fokus untuk tugas akhir semester. Dan ternyata, debar-debar jantung saya persis seperti 2 tahun lalu, hati terasa hangat dan damai untuk tetap terjerat pada ekspresi serius itu, bahkan rasanya bibir ingin terus tersenyum dengan ringan. Ah, entahlah, ini tampak begitu berlebihan ketika saya ceritakan ulang, seperti biasa. Intinya, saya sungguh senang sekali berkesempatan menangkap ekspresi itu, kembali, dan saya ingin sekali lagi, lagi, dan lagi.


Ekspresi itu, setelah sekian lama, periode 2010-2011, dalam balutan seragam putih abu-abu. Ekspresi paling keren yang pernah saya temukan pada sosok Anda. Anda yang berjuang membuka gerbang dunia seni Anda, menerjang berbagai rintangan, hingga akhirnya mampu berpijak dengan mantap dimana Anda dapat menjadi diri Anda sendiri. Sejujurnya, saya sangat khawatir pada awal-awal perjuangan ekstrem Anda, 2012, saya bahkan masih ingat dengan begitu jelas, Anda yang marah besar pada saya. Itu wajar, saya menyadari bahwa saya tak seharusnya begitu menggusarkan bagaimana Anda akan berdiri di masa depan kelak. Saya hanya seseorang yang tak sengaja dipertemukan takdir dalam kepingan masa lalu Anda. Singkatnya, Anda tak lagi menemukan eksistensi saya yang dulu masih samar-samar, lalu sekarang kian redup, hingga sepenuhnya padam suatu saat nanti. Pada akhirnya, akan kembali seperti sedia kala, dimana Anda dan saya adalah dua orang yang sama sekali tidak saling mengenal.



Saya teringat momen ketika putih abu-abu dulu, insiden sebuah pin Zoom In ITB, dimana Anda berkoar-koar tentang dunia seni yang begitu ingin Anda raih. Waktu itu, menjelang jam pulang sekolah, guru tak datang. Sungguh, saya hanya iseng, saya tak pernah menyangka Anda akan menjadi sepanik itu. Sepulang sekolah, saya menanti Anda keluar kelas cukup lama, untuk mengembalikan pin itu. Tapi, Anda tak kunjung keluar, saya kira Anda sudah pulang. Betapa kagetnya saya, ketika mengintip di balik tirai jendela, Anda yang masih sibuk mencari pin seharga sekian ribu itu. Saya mengamati sosok Anda dari pintu biru kelas kita, hanya Anda yang tersisa dalam kelas di lantai dua itu, saya sedang berpikir dan merasa-rasakan, apakah yang telah saya lakukan ini adalah sesuatu yang begitu jahat. Maaf.


Anda yang duduk di bangku nomor tiga barisan nomor dua dari pintu, bahkan tak sekalipun bertanya tentang keberadaan pin Anda pada saya, padahal saya sedari tadi duduk tak jauh dari Anda, di barisan kiri Anda, bangku nomor empat dekat dinding yang sejajar dengan pintu. Mengapa hanya saya yang tak Anda beri kesempatan untuk di-interogasi diantara mereka yang berada disekitar Anda. Ah, mungkin, karena saya memang hanyalah bayangan yang selalu terabaikan oleh cahaya Anda. Lagipula, ada sebuah ‘cahaya terang’ yang menerangi hari-hari Anda di kelas kita. Baiklah, saya mengerti, it’s okay.


Ah, saya jadi benostalgia. Mungkin Anda tak mengingat hal ini lagi, tapi bagi saya, ini adalah salah satu faktor yang membuat saya menjadi begitu percaya pada pilihan Anda, hingga detik ini. Seperti cambuk yang menyadarkan saya, membuka mata saya, dan membisikkan pada hati saya, bahwa ini bukan hanya sekedar kata-kata belaka yang sedikit demi sedikit akan luruh dimakan waktu. Benda bulat kecil ini mewakili jiwa Anda, menyimpan mimpi Anda, dan akan mengokohkan pondasi dunia Anda. Anda dan ekspresi Anda, Anda dan mimpi dalam genggamanan Anda, Anda dan keyakinan diri Anda untuk membangun dunia Anda. Sepenuhnya, saya, percaya, pada Anda.


Saya masih dan akan selalu percaya pada Anda. Dimana mimpi-mimpi kecil Anda mulai terangkai menjadi harapan nyata yang semakin besar, dimana perjuangan Anda akan membuahkan hasil yang memuaskan. Saya percaya akan bersinar dengan sangat terang suatu saat kelak, dan semoga sinar itu tak akan redup apalagi padam hingga akhir. Amin.


Tetaplah bersinar dengan terang, agar saya bisa selalu menemukan arah untuk menyusuri tapak demi tapak perjalanan Anda, dimanapun itu, kapanpun itu, atau bahkan bersama siapapun itu. Seperti bayangan yang selalu berkesempatan muncul saat ada cahaya, seperti itulah saya kepada Anda. Jangan pernah padam, karena bayangan juga tak akan sanggup untuk menampakkan diri. Seperti bayangan yang secara alami ditakdirkan menyertai cahaya. Saya tidak ingin kehilangan cahaya saya, saya ingin selalu menemukan Anda. Walau dari jauh, walau Anda justru mengejar sumber cahaya lain yang lebih terang dan berbagi sinar bersamanya, menjadi begitu terang bersama. Walau saya hanya akan menjadi bayang-bayang yang mengikuti Anda, walau tanpa Anda sadari bahwa saya selalu ada membayangi cahaya Anda. Tetaplah menjadi terang.


Bahkan jika suatu ketika, cahaya Anda meredup dan padam, bayangan sejatinya tak akan pernah hilang, bayangan hanya tersembunyi dibalik kegelapan. Bayangan akan tetap ada, bersama Anda, cahayanya. Jangan takut, Anda tidak akan pernah sendiri. Ada bayangan yang setia menemani dan menanti cahaya untuk kembali segera bersinar terang. Ada do’a yang mengiringi setiap langkah tegar Anda.


Anda adalah cahaya bagi dunia saya, dan saya dengan bodohnya tak keberatan menjadi bayangan untuk dunia Anda yang akan bersinar dengan begitu terang suatu saat nanti. Mungkin, kelak, Anda dan saya akan sengaja digiring sang takdir untuk saling menemukan dalam dunia yang sama, entah bagaimana, dimana, atau kapan. Dunia saya, entah akan tumbuh menjadi dunia yang seperti apa, tapi saya akan berusaha membuatnya bersinar cukup terang agar suatu ketika Anda dapat menemukan dunia itu, setidaknya Anda sempat melihat atau mendengarnya sekali. Saya tidak tahu seberapa tidak pantasnya dunia saya untuk sekedar Anda singgahi, tapi saya ingin sekali mencoba berkelana dalam dunia Anda. Tentu, tetap, saya akan berperan sebagai bayang-bayang untuk cahaya terang Anda. Sekali lagi, saya ingatkan: Anda, jangan pernah lupa untuk terus bersinar terang agar saya tak akan kehilangan jejak melacak keberadaan Anda.


Ini memang terdengar sangat berlebihan ketika saya ucapkan dalam barisan kata. Maaf. Seandainya, saya fasih secara lisan maupun tulisan. Tapi setidaknya saya sedikit lebih lega, saya memang bukan pembicara yang baik, saya selalu kehilangan kata-kata ketika menemukan Anda. Saya hanya akan membuang waktu berharga Anda, lalu Anda pergi, tanpa ada sepatah kata berarti yang sempat saya sampaikan pada Anda. Bahkan, seiring berlalunya waktu, sekarang  saya bahkan tak memiliki sedikit saja keberanian untuk ditemukan oleh Anda, rasanya saya ingin bersembunyi, biar hanya saya saja yang menemukan Anda, diam-diam, dan membangun kekuatan sedikit demi sedikit. Cukup dengan menemukan Anda dalam keadaan yang baik-baik saja, itu sudah membuat saya begitu senang. Ah, betapa pengecutnya saya.


Ini memang teramat berlebihan, itu benar. Inilah saya, kepada Anda, dengan segala ‘keberlebihan’ yang melekat pada diri saya. Saya hanya saya, saya tidak mampu dan tidak mau menjadi dia yang Anda puja. Saya hanya saya, apa yang saya pikirkan, apa yang saya rasakan, kepada Anda. Ya, itu saja.


Dimana ada cahaya, disitu ada bayangan.


Anda adalah cahaya dari bayangan saya.





By: Rahmadila Eka Putri ( @ladilacious , Blog: Bacotan si dilacious )


Baca Selengkapnya...

22 February 2013

(Satu) Di Selembar Fajar Berembun



Di selembar fajar berembun.

Terjaga ketika adzan berkumandang di Mushalla Nurul Fajri, berdiri, menunaikan kewajiban sebagai seorang muslimah yang tahu diri, waktu pun bergulir tiada henti, kini sedang mengukir sebuah simbol hati, inisial nama milik seseorang yang pergi, dan lambang tak berhingga berkali-kali, kebiasaan jika tengah gundah dan tak cukup berani, ungkapkan sebuah arti, yang melompat-lompat gusar dalam nurani, lalu jemari hanya mampu menari, dikaca jendela kamar yang berembun ini, dikala pagi belum menyapa jiwa yang masih sepi, bahkan kadang merasa tak berarti, tanpa kamu disini, tak temani dia yang tak bisa jika tak terus menanti, dan faktanya dia hanya seorang diri, di selembar fajar berembun ini.



Di selembar fajar berembun.

Berbekas hujan semalam tadi, basah dan lembab di balik jendela yang baru dipasangi terali besi, dingin menghampiri, merasuk dari kepala hingga ujung kaki, kembali ke kasur bermotif bunga daisy, yang mekar di padang hijau tak berpenghuni, selimuti diri hingga dingin tak terasa begitu menjangkiti, dibalik selimut berwarna merah muda dengan hiasan Hello Kitty, mencoba menghangatkan hati yang menggigil diterjang rindu yang tak jera menyerang hari demi hari, dan faktanya dia hanya seorang diri, di selembar fajar berembun ini.


Di selembar fajar berembun.

Menangkap bunyi dentang jam dalam sunyi, menatap tanggal demi tanggal di kalender dalam hape yang belum lama dibeli, menghela napas dengan segudang rasa iri, terhadap mereka yang bisa bertemu setiap saat dengan dambaan hati, bermain kesana-kemari, mendengar getar vokal si doi, menatap paras yang selalu membuat grogi, kala berhadapan atau bicara dari hati ke hati, ah pasti amat senang sekali, jika bisa seperti itu kini, andai itu tak sebatas mimpi, imajinasi, ilusi, fiksi, yang tak terpenuhi, dan faktanya dia hanya seorang diri, di selembar fajar berembun ini.


Di selembar fajar berembun.

Berdendang kecil mengusir risau dihati, menanti mentari pagi yang kan segera mengusir sang fajar pergi, dan pagi pun kembali, mengawali hari, meniupkan udara diantara telapak tangan untuk ditempelkan di wajah yang mulai pucat pasi, fajar kali ini, sungguh dingin sekali, ah, tapi tetap saja jadwal hari ini, harus dijalani dengan semangat yang tinggi, dimulai dari Shalat Shubuh tadi, lalu sekitar 15 menit lagi, akan segera mandi, berpakaian rapi, sarapan bergizi, kemudian ucapkan selamat datang pada sang pagi, senang bertemu kembali, dan satu yang tak jua berubah hingga kini, yaitu faktanya dia masih saja seorang diri, di selembar berembun fajar ini.






Di selembar fajar berembun. SELESAI.


( by: @ladilacious )


Baca Selengkapnya...

Postingan Terpopuler

Postingan Terbaru