Showing posts with label #tentangkamu. Show all posts
Showing posts with label #tentangkamu. Show all posts

03 January 2015

Berharap pada Waktu

Di kala pagi menjeratku dengan sebuah kenangan
maka sesak yg mulai ku rasa
Cerita cinta yg tak pernah usai
mulai merangkum berbagai pertanyaan
Entah sekuat apa ku harus berdiri
pada sebuah kenyataan
Kamu yg kini entah dimana
membuatku kesal menjalani kehidupan
Sekian lama ku gantungkan asa ini
Berharap kan ku temukan kepastian
Namun jika kamu tak pernah datang menjamah hati ini,
jiwaku tetap saja terbuai oleh angan-angan
Berapa lama harus ku tunggu dirimu ?
Berapa banyak lagi waktu yg harus ku habiskan
untuk sebuah ketidakpastian ?
Ku harap kamu segera mengerti
dan menyelesaikan cerita ini



By : Rina Maniez






Baca Selengkapnya...

18 June 2014

Kau dan Kertas yang Menguning


 

Kau dan Kertas yang Menguning
Oleh : Airly Latifah
Airlylatifah.blogspot.com
@AirlyLatifah


Tak pernah aku berhayal setinggi itu untuk bertemu lagi denganmu. Aku terlalu takut akan anganku sendiri. Takut mimpi ini bermetafora menjadi racun. Menusukku dengan sembilu. Memilukan sekali.
 Tapi, Tuhanku punya permainannya sendiri, maha baiknya dia, kita dipertemukan dengan caranya, dengan baju sekolah penuh keringat, dengan wajah kusam, dengan sepatu berdebu, dan tubuh lelah dihantam perjalanan jauh. Dengan gaya semiris itu aku dipertemukan denganmu. Tak ada semangat hidup dan Passion Fashion sedikitpun, gaya anak sekolah yang acuh. Pertemuan yang dirancang beberapa menit setelah teman dekatku bertanya tentangmu. Bertanya apakah kau akan datang, yang kujawab dengan kata “Tidak”. Aku jelas sekaali telah salah.
Skenario Tuhan yang cantik sekali, bukan?
Jauh dalam lubuk hatiku, aku masih mencintaimu. Kau berhasil mengetuk ulang pintu hati yang pernah kututup rapat. Tergembok baja yang dilapisi rantai besi. Pandai sekali kau bermain kunci, kau sangat pandai memainkan hatiku. Menitip ricik-ricik rindu yang datang di langit-langit gedung IPTEK Unhas, Senin, 16 Juni 2014, sepandai hujan mengetuk dedaunan, ranting, batang, hingga atap gedung (kita).  Aku hanya ingin membuang gelisah ini. Menulis ini ditengah mata yang tak kunjung merasa kantuk, yang sepertinya karenamu. Membuang resah akan hadirmu yang menghilang beberapa tahun terakhir.
 Bukankah kau yang dulu selalu hadir dengan tawa berbehel, senyuman manis, dan berkacamata. Kau yang selalu pandai memainkan degup jantungku. Cantik memainkan perasaan. Perasaanku.
Langit begitu cerah pagi itu, secerah tatapanmu. Tak ada sapaan, tak ada teguran, hanya secangkir rasa canggung, dan secerek malu, entah pemanisnya kau buat dari apa, rasa benci, rindu, marah, sayang. Aku tak akan pernah tahu. Tak akan. Sesenti pun. Sesapan yang pahit.
Di sini, di balik riuh penonton mataku setia menyorotmu, mencuri tiap gerak gerikmu, tapi kau hanya tertunduk, tak sepeduli dan sesemangat aku yang bertemu denganmu. Kau lelaki berkemeja hitam yang pandai tiada dua.
Betapa ingatnya aku tentang pesan-pesan yang selalu singgah dari esemes-mu "HND" kau ingat artinya? Have A Nice dream, bukan? Aku masih menyimpan puluhan pesan itu, pesan yang telah kubaca jutaan kali.
Ahhh, sadarkan aku, cerita ini tentang luka, tentangmu, yang hilang ditelan waktu. Di saat yang paling berbunga di hatiku. Kini, kau datang, mengetuknya lagi. Mengetuk pintu yang tertutup rapat. Pandai sekali kau bermain kunci. Jangan berikan aku harapan abu-abu itu.
Kau datang memekarkan bunga dengan segelas susu. Lalu esoknya? Segelas air pun tak kau bawa, bahkan ragamu tak pernah kau langkahkan mendekatiku. Tak ada pesan, tak ada panggilan, menghilang tenggelam di balik derasnya Rinai Rindu, yang telah kubelah berkali-kali.
Dan terus hilang berkali-kali pula.

Dibuat di bilik masa lalu
Ditulis dengan begitu nyata, kian sempurna menggelitik rindu

Baca Selengkapnya...

29 May 2014

entah

Setidaknya sekarang aku sedikit mengerti,
Bahwa kau mulai untuk tidak peduli,
Ketika aku melakukan segalanya agar kau juga melakukan itu,
Kenyataannya nihil
Ketika aku selalu mencoba mengalahkan egoku agar kau juga meredam egomu,
Nyatanya akupun salah menilai
Apakah kita masih bisa disebut kekasih
Bukankah harusnya kita saling mengasihi?
Aku ragu,
Entah
Dimatamu aku selalu salah,
Aku yang harus menyesuaikanmu, hanya aku
Kau melarangku untuk menangis,
Tapi kau sering membuatnya jatuh
Aku pikir, nyamanmu bukan di sisiku
Entah

Baca Selengkapnya...

20 September 2013

Karenamu Aku Setia

Kau pikir untuk apa aku bertahan?
Ku coba kuatkan hati dari hasutan orang lain.
Aku pura-pura tak mendengar apa kata mereka.
Aku tak peduli mereka menghujatmu di depanku.
Karena aku mempercayaimu.
Meski jarak menjadi penghalang hubungan kita,
namun itu bukanlah alasan untuk ku tak setia.
Aku selalu menunggu kehadiranmu.
Sesekali ku berdiri di balik jendela rumah.
Barangkali kau datang untuk menemuiku.
Namun tak ku temukan bayangmu di ujung sana.
Aku tetap bersabar dengan keadaan ini.
Sampai kau benar-benar datang
dan berdiri di hadapanku.
Betapa telah lama aku merindukanmu
dengan segala keresahanku.
Aku ingin cepat bertemu denganmu
Karena hanya kau yg ku tunggu.
Tanpamu, aku gelisah.
Namun alasan di balik itu semua adalah dirimu.
Karena dirimu aku setia.

By : Rina Maniez
@rina_maniez on twitter
Baca Selengkapnya...

20 August 2013

Pelabuhan Terakhir

Sejenak aku berfikir tak bisa berhenti mencintaimu, Dirimu yang selalu sempurna dimataku. Dirimu yang selalu bertingkah cerdas dan membuat jutaan decak kagum. Aku selalu berharap menjadi dambaanmu. Seperti kata-kata manis yang selalu kau lontarkan " Kau yang terbaik untukku, Kau yang terindah untukku. " Namun kini kata-kata itu hanyalah racun. Racun yang membuatku terlempar pada dasar jurang yang paling dalam. Racun yang membuatku tercekik oleh kekecewaan. Sungguh kau hanyalah kenangan pahit masa lalu. Yah, Kenangan pahit yang sangat menjenuhkan, mengingat kau meninggalkanku tanpa sepatah katapun. Dan saat kau menatapku saat ini kau merasa sama sekali tak bersalah.

Aku tak selemah yang dulu, Tak lagi. Sama sekali tidak.
Aku jauh lebih baik dari pada yang pernah kau kenal sebelumnya.
Telah kutemukan orang yang lebih darimu. Bukan karena hebatnya, bukan karena banyaknya pemujanya tapi karena caranya mencintaiku lebih dari yang pernah kuimpikan.
Ku tahu dia bukanlah orang yang sangat tampan. Dia bukanlah putra kerajaan. Dia bukanlah jelmaan malaikat. Tapi dialah yang bisa menedukan kekeruan kekecewaan yang pernah kau tumpah didasar hatiku.
Oh. Kutahu Tuhan tak buta, Kutahu Tuhan menyimpan naskah bahagia untukku. Untuk kami.

Sedetik yang lalu kupikir tak akan ada yang mampu meneduhkan kerinduanku akan cintamu. Tapi sedetik kemudian dirinya hadir. Tawarkan tawa yang lebih lepas. Tawarkan air yang lebih jernih. Tawarkan hari penuh kebahagiaan. Tawarkan pengorbanan yang tak kenal jenuh.

Sudah kupastikan, Tuhan telah menciptakan pertemuan yang lebih baik dibalik perpisahan yang kau torehkan.
Selama tinggal Pelabuhan seberang. Selamat menetap Pelabuhan terakhirku.

Dari Cinta yang pernah kau hempaskan.


Makassar, 20 Agustus 2013 ( Nurul Latifah Nurdin )
Baca Selengkapnya...

01 June 2013

Tentang Rasaku



Bila mana senja telah menenggelamkan cahaya mentari,
aku mulai resah melewati petang tanpamu.
Aku ingin sebentar saja bertemu denganmu
sebelum malam datang menyiksaku dengan kerinduan.
Betapa telah lama aku menyimpan rindu ini.
Namun kau tak pernah datang menemuiku.
Masih melekat di benakku
ketika kau pergi bersama mimpi-mimpimu.
Bahkan aku serasa masih mendengar
derap langkahmu yg kian menjauh.
Sesaat sebelum kau pergi, kau kecup keningku
dan kau berkata bahwa kau akan kembali
dengan membawa cinta kita.
Namun mengapa hingga kini kau tak kunjung datang?
Apa kau telah lupa dengan janjimu?
Berapa lama lagi ku harus menghabiskan waktu
untuk menunggu kehadiranmu?
Aku telah melewati tiga kali pergantian musim tanpamu.
Aku semakin gelisah karena tak pernah ada kabar darimu.
Apa lagi yg bisa ku harapkan darimu?
Mungkin di seberang sana, kau terlalu gembira
dengan mimpi yg telah berhasil kau wujudkan.
Hingga tak pernah kau beri kabar padaku
yg selalu setia dalam penantian.
Mungkin sebaiknya ku kikis saja harapanku.
Biarlah aku menelan kepahitan dustamu.
Karena aku tak ingin lagi merasakan sakit ini.


By : Rina Maniez
@rina_maniez on Twitter
Baca Selengkapnya...

24 May 2013

Jika



Jika saja kita tak pernah  bertemu,
mungkin aku tak akan mengenalmu.
Jika saja kita tak saling bertegur sapa,
mungkin tak kan pernah ada perbincangan antara kita.
Jika saja kau tak pernah memberiku perhatian,
mungkin aku tak kan merasa suka.
Jika saja ku tau bahwa mencintaimu
adalah suatu kesalahan,
mungkin aku akan mengabaikan perhatianmu.
Ahh.. lelah..
Payah sudah ku memikirkanmu.
Mencintaimu bagai menyatukan medan magnet yg sama jenisnya.
Kita tak pernah bisa bersatu.
Tak pernah ada kesamaan antara kita.
Aku selalu mengalah atas dirimu.
Namun kau tak pernah menganggapnya.
Selalu aku yg kau salahkan
setiap kali terjadi pertengkaran dalam hubungan kita.
Apapun yg ku lakukan, tak ada artinya untukmu.
Aku sempat putus asa,
ingin rasanya segera ku akhiri ini semua.
Mungkin kau melihat senyum terkembang di wajahku.
Namun kau tak pernah tau bahwa jauh di lubuk hatiku,
aku merasakan kepahitan yg teramat dalam.
Taukah kau bahwa itu semua karena sikapmu?
Itu semua karena kau yg kurang mengertiku.
Kau selalu ingin  di mengerti,
Namun kau tak pernah lebih mengertiku.
Itukah yg kau sebut cinta sejati?
Jika saja ku tau akhir dari kisah ini,
aku pasti takkan memulainya.
Namun semua telah terlanjur terjadi.
Jika saja waktu dapat mengembalikanku ke masa lalu,
aku ingin kembali pada saat aku belum mengenalmu.
Kini aku ingin mengubur dalam kisah itu.
Ku harap aku lupa pernah mengenal dirimu.


By : Rina Maniez
rina_maniez on Twitter
Baca Selengkapnya...

01 April 2013

Bahagia Tanpamu



Kegalauan itu kini telah musnah.
Kepahitan itu juga telah pupu
seiring berlalunya dirimu dari hidupku.
Hadirmu hanyalah menambah luka bagiku.
Tak sekalipun kau hadirkan canda ataupun tawa
di sepanjang perjalanan yg kita tempuh bersama.
Rasa sakit pun menyusup dalam jiwaku
hingga melekat kuat di dinding hatiku.
Andai kau tau alasanku tetap bertahan
dalam kerasnya sifatmu.
Mungkin kau akan lebih menghargai
setiap pengorbanan yg ku lakukan untukmu.
Bukan salah takdir jika akhirnya kita berpisah.
Karena perpisahan itu kau sendiri yg membuat.
Kini aku mengerti,
Mempertahankanmu adalah sebuah kebodohan.
Bagaikan menggenggam erat mawar berduri.
yg sangat menyakitkan.
Aku salah telah mempercayai dirimu.
Aku juga salah telah menganggapmu baik untukku.
Perpisahaan ini telah menyadarkanku
yg selama ini buta akan cintamu.
Tanpamu, hidupku jadi semakin bermakna.


By : Rina Maniez
@rina_maniez on Twitter
Baca Selengkapnya...

10 March 2013

Saat Kau Pergi



Aku tersudut dalam suatu kehampaan.
Aku hampir tak mampu melihat.
Bahkan bayanganmu sekalipun.
Aku tak tau mengapa aku seperti ini.
Yg ku tau, bayanganmu kini telah lenyap.
Dan mungkin aku sudah tidak dapat melihatnya lagi.
Aku bingung dengan perasaanku sendiri.
Seakan ada sesuatu yg menyesak di dada.
Andai saja kau tak pergi,
mungkin aku tak akan merasakan ini semua
Andai saja kau tetap teguh dengan pegangan tangan kita,
mungkin kita masih bisa melewati hari bersama.
Namun kau renggangkan eratnya genggaman kita yg saling berpaut.
Sehingga perlahan, genggaman kita pun terlepas.
Jujur, aku tak sanggup jauh darimu.
Namun kau telah memilih untuk menjauh.
Apa dayaku menahan dirimu?
Lebih baik begini, sendiri dalam kehampaan
dan berkawan dengan sepi.
Pergilah jika memang itu bisa membuatmu bahagia.
Aku takkan menyesali apapun.
Karena sejatinya, aku tak pernah sendiri di dunia ini.

By ; Rina Maniez
@rina_maniez on twitter
Baca Selengkapnya...

09 March 2013

aku tanpamu tak akan menjadi "KITA"


...

aku tanpamu tak akan menjadi "KITA"
begitulah, jika kamu tak ada bersamaku
begitulah, jika kamu tak ada waktu untukku
begitulah, jika kamu tak ada pengertian sedikitpun

...

aku tanpamu tak akan menjadi "KITA"
yaa, tak akan pernah bisa
dan tak akan pernah bisa
jika kamu hanya mementingkan ke egoisanmu saja

...

aku tanpamu tak akan menjadi "KITA"
tak sanggup aku membayangkannya
seandainya saja aku dan kamu
tak akan menjadi "KITA"

...

aku tanpamu tak akan menjadi "KITA"
selamanya tak akan menjadi "KITA"
bila kamu pergi meninggalkan diriku
dengan kesendirian dan kekecewaan mendalam

...

aku tanpamu tak akan menjadi "KITA"
ingat lah itu
agar kau sadar dan mengerti diriku
agar kau kembali dan akan..

menjadi "KITA" selamanya


by. fachzaina.blogspot. follow @syarifah_zainab
Baca Selengkapnya...

02 March 2013

( Tiga ) Sekeping asa terjepit diantara siang dan sore.



Terjepit diantara siang dan sore, sekeping asa.

Momen di sela siang dan sore yang tak lama, cukup singkat walau sekedar merajut asa, terhadap kamu yang telah lebih dari sahabat semata, terhadap kamu yang disana, yang tak jua sadari tumbuhnya sebuah rasa, antara kita, berdua, sebuah rasa yang tak biasa,  mungkin memang belum menjamah fase yang menjelma atau bertmetamorfosa, menjadi lebih dari sekedar suka, belum lah menyentuh tahap berlabel cinta, tapi ini nyata, bukan rekayasa, bukan halusinasi semata, bukan bualan para pendusta, bukan pula celoteh ria, rasa itu ada, walau tak bisa diraba, tak bisa ditatap mata, tak bisa ditangkap dengar telinga, tapi itu jelas terasa, biar hati yang bicara, kepada kamu yang disana, sebuah rasa yang terjepit diantara siang dan sore, sekeping asa.
Terjepit diantara siang dan sore, sekeping asa.

Hembus napas yang meniupkan udara kerinduan tiada terkira, rindu yang seolah membakar sukma, berpacu degup jantung menatap potret kamu dalam pigura, begitu harap ingin segera jumpa, kamu yang disana,  saling sapa, berbagi cerita, tertawa, bercanda, dan bersama, terkenang nostalgia, tentang kita, dahulu kala, hanya alunan nada rindu yang setia menggema di setiap inci ruang hati yang di dendangkan oleh lara, terukir sebuah nama, dalam hati dengan suka dan duka, yang datang silih-berganti hingga kadang ada kalanya terasa hampa, walau tak bisa diraba, tak bisa ditatap mata, tak bisa ditangkap dengar telinga, tapi itu jelas terasa, biar hati yang bicara, kepada kamu yang disana, sebuah rasa yang terjepit diantara siang dan sore, sekeping asa.



Terjepit diantara siang dan sore, sekeping asa.

Menerawang mata pada langit biru bercahaya, ada segerombolan awan putih menggantung diangkasa raya,  sederhana tapi mempesona, menebar aura ceria, suka cita, damai bahagia, luluhkan rindu ingin jumpa, pudarkan lara, usir duka, sembuhkan luka, enyahkan derita, tak lagi merana, berhenti melalang buana dalam padang asmara, yang kata orang tak ada logika, gila, sebab sebuah rasa, bernama suka ataupun cinta, terhadap seorang insan biasa, hanyalah sebuah rasa, namun berdampak luar biasa, walau tak bisa diraba, tak bisa ditatap mata, tak bisa ditangkap dengar telinga, tapi itu jelas terasa, biar hati yang bicara, kepada kamu yang disana, sebuah rasa yang terjepit diantara siang dan sore, sekeping asa.


Terjepit diantara siang dan sore, sekeping asa.

Ini hanya seonggok hal sederhana, ya, sebuah asa kecil tentang ingin jumpa, ketika sosok kamu terpantul di bola mata, yang artinya, kita, telah bersua, walau hanya seketika, diantara jeda, sedari siang hingga sore tiba, namun akan sangat berharga, karena ada sesuatu diantara kita, sebuah rasa, bernama suka, atau mungkin cinta, sebuah cinta pertama, walau tak bisa diraba, tak bisa ditatap mata, tak bisa ditangkap dengar telinga, tapi itu jelas terasa, biar hati yang bicara, kepada kamu yang disana, sebuah rasa yang terjepit diantara siang dan sore, sekeping asa.








Terjepit diantara siang dan sore, sekeping asa. SELESAI.




( by: @ladilacious )

Baca Selengkapnya...

01 March 2013

Bagian Kedua, Surat yang Tak Pernah Sampai Buat Bidadari Kecil.

dan lagi, kutulis ini hanya untukmu, tuk membuktikan bahwa ku masih mengingatmu selalu, manisku..

mungkin hanya sepucuk surat ini yang bisa ku persembahkan untukmu, surat yang amat sangat jauh pentingnya dibanding impian, cita dan cintamu selama ini..

semoga segala tawa dan tangis yang menemanimu selama ini, mampu membuatmu menjadi sosok yang terbaik untuk dirimu sendiri, dan orang-orang di sekitarmu yang selalu menyayangimu..

maaf, ku tak dapat menelponmu ataupun mengirimimu sms hari ini seperti orang-orang di sana, pulsaku tak lagi mencukupi. maaf, ku tak dapat memberimu hadiah spesial hari ini seperti orang-orang di sana, hutangku sudah bertebaran di mana-mana. maaf, ku tak dapat membawakanmu makanan kesukaanmu hari ini seperti orang-orang di sana, uang kirimanku sudah habis kupakai biaya kostku. dan hanya ini yg dapat ku persembahkan untukmu sayangku..

jaga selalu senyum indahmu, setidaknya untukku yang jauh di sini, salah satu dari sekian orang yang menginginkan senyum itu selalu tersungging di bibir manismu..

andai kelak ku tak lagi berarti, izinkan aku menghiasi mimpi indahmu, menjadi bayang-bayang harimu yg ‘kan selalu membilas air matamu..

dan 27 juni
kuingin ada sebuah kebahagiaan terpancar dari bening sorot matamu. saat ku ucapkan tulus dari palung hati yang terdalam. selamat ulang tahun kekasihku..

dan 27 juni
aku masih menyayangimu di sini..

“seandainya Tuhan tak membuatmu nyata dalam hidupku, ku harap dengan sangat, agar kau tetap hadir dalam mimpi dan khayalku sampai ku yakin kau benar-benar bukanlah tulang rusukku..”


nb: #inibukancurhattapiinisurat :)
#jika anda bertemu bidadari kecil malam ini tolong sampaikan suratku yg tak pernah sampai ini.

follow : @pasirhening
Baca Selengkapnya...

23 February 2013

(Dua) Sebongkah Lara Di Pagi Kelabu



Lara dan pagi kelabu.

Semilir angin menderu, di sebuah lokal lantai 4 gedung ungu, mengambil tempat di pojok kanan depan pintu, menanti dosen yang minta ditunggu, menatap jauh ke luar jendela sembari bertopang dagu,  membisu, menghela napas dengan lesu, mata terpaku pada langit kelabu, merasuk rindu dalam kalbu, seruan sendu kepada kamu, kamu di masa lalu, ketika masih saling bertemu, terkenang akan mimik wajahmu, getar vokalmu, jemari meliuk lincah membentuk guratan-guratan artistik bermutu, di sketsa biru itu, mungkin kah itu dilukis untuk dihadiahkan kepada si penunggu kamu, atau orang itu, yang sama sekali tak menunggu hadirmu, ah, ini kah sebongkah lara dan pagi kelabu, yang menyatu menjadi satu, menghasut rindu, menjadi kian menggebu, bergemuruh sendu dalam kalbu, ketika bibir hanya bisa terkatup membisu, dan badan kaku membatu, sebab gugup yang tak menentu, ketika menemukan kamu, di suatu waktu.



Lara dan pagi kelabu.

Ketukan-ketukan kecil di lantai oleh ujung kuku, bolak-balik buku, seharga dua puluh  delapan ribu, duduk-duduk di pinggir jendela berdebu, teman-teman yang melucu, dan sesekali mengganggu, tapi terasa seru, hingga jenuh pun mulai menyerbu, lantaran yang ditunggu tak jua muncul di depan pintu, lalu datang sebuah kabar dari ketua kelas dengan napas yang memburu, setelah mendaki lantai 4 gedung ungu yang tinggi menjulang itu, sebab rusaknya lift yang seharusnya sangat membantu, sebuah kabar tentang dosen tak datang tentu, sorak sorai layaknya anak SD yang lugu, tapi tunggu dulu, ada satu hal yang tak berubah sejak 1 jam lalu, yaitu, ah, ini kah sebongkah lara dan pagi kelabu, yang menyatu menjadi satu, menghasut rindu, menjadi kian menggebu, bergemuruh sendu dalam kalbu, ketika bibir hanya bisa terkatup membisu, dan badan kaku membatu, sebab gugup yang tak menentu, ketika menemukan kamu, di suatu waktu.



Lara dan pagi kelabu.

Menapak di sepanjang jalan pulang ke rumah di bawah langit kelabu, awan-awan sendu, langit yang entah kapan kan kembali membiru, dengan gerombolan awan putih saling beradu, tak lagi penuh haru, berulang kali menghembuskan napas rindu, ingin bertemu, kamu, sungguh tak tahu, mengapa bisa sampai seperti itu, tiba dirumah dan membuka pintu, duduk di lantai yang baru disapu, menonton televisi yang menayangkan acara terbaru, melirik jam dinding biru, pukul sembilan lewat 15 menit kala itu, berencana hendak mencuci baju, hendak pudarkan rindu dengan cara sibukkan diri dengan setumpuk pekerjaan yang menunggu, tapi sialnya taktik itu tak jitu, gagal dan gagal melulu, rindu masih saja menyesak mengisi ruang kalbu, yang terus menyeru nama kamu, selalu seperti itu, ah, ini kah sebongkah lara dan pagi kelabu, yang menyatu menjadi satu, menghasut rindu, menjadi kian menggebu, bergemuruh dalam  kalbu, ketika bibir hanya bisa terkatup membisu, dan badan kaku membatu, sebab gugup yang tak menentu, ketika menemukan kamu, di suatu waktu.




 
Lara dan pagi kelabu. SELESAI.



( By: @ladilacious )

Baca Selengkapnya...

Anda Adalah Cahaya Dari Bayangan Saya



Pada Rabu di bulan Desember 2012, pagi menjelang siang, di tempat biasa. Ketika saya menemukan ekpresi itu kembali terlukis di paras Anda, walau dari jarak pandang yang tidak lebih dekat dari dulu, Anda yang sedang menggambar dengan fokus untuk tugas akhir semester. Dan ternyata, debar-debar jantung saya persis seperti 2 tahun lalu, hati terasa hangat dan damai untuk tetap terjerat pada ekspresi serius itu, bahkan rasanya bibir ingin terus tersenyum dengan ringan. Ah, entahlah, ini tampak begitu berlebihan ketika saya ceritakan ulang, seperti biasa. Intinya, saya sungguh senang sekali berkesempatan menangkap ekspresi itu, kembali, dan saya ingin sekali lagi, lagi, dan lagi.


Ekspresi itu, setelah sekian lama, periode 2010-2011, dalam balutan seragam putih abu-abu. Ekspresi paling keren yang pernah saya temukan pada sosok Anda. Anda yang berjuang membuka gerbang dunia seni Anda, menerjang berbagai rintangan, hingga akhirnya mampu berpijak dengan mantap dimana Anda dapat menjadi diri Anda sendiri. Sejujurnya, saya sangat khawatir pada awal-awal perjuangan ekstrem Anda, 2012, saya bahkan masih ingat dengan begitu jelas, Anda yang marah besar pada saya. Itu wajar, saya menyadari bahwa saya tak seharusnya begitu menggusarkan bagaimana Anda akan berdiri di masa depan kelak. Saya hanya seseorang yang tak sengaja dipertemukan takdir dalam kepingan masa lalu Anda. Singkatnya, Anda tak lagi menemukan eksistensi saya yang dulu masih samar-samar, lalu sekarang kian redup, hingga sepenuhnya padam suatu saat nanti. Pada akhirnya, akan kembali seperti sedia kala, dimana Anda dan saya adalah dua orang yang sama sekali tidak saling mengenal.



Saya teringat momen ketika putih abu-abu dulu, insiden sebuah pin Zoom In ITB, dimana Anda berkoar-koar tentang dunia seni yang begitu ingin Anda raih. Waktu itu, menjelang jam pulang sekolah, guru tak datang. Sungguh, saya hanya iseng, saya tak pernah menyangka Anda akan menjadi sepanik itu. Sepulang sekolah, saya menanti Anda keluar kelas cukup lama, untuk mengembalikan pin itu. Tapi, Anda tak kunjung keluar, saya kira Anda sudah pulang. Betapa kagetnya saya, ketika mengintip di balik tirai jendela, Anda yang masih sibuk mencari pin seharga sekian ribu itu. Saya mengamati sosok Anda dari pintu biru kelas kita, hanya Anda yang tersisa dalam kelas di lantai dua itu, saya sedang berpikir dan merasa-rasakan, apakah yang telah saya lakukan ini adalah sesuatu yang begitu jahat. Maaf.


Anda yang duduk di bangku nomor tiga barisan nomor dua dari pintu, bahkan tak sekalipun bertanya tentang keberadaan pin Anda pada saya, padahal saya sedari tadi duduk tak jauh dari Anda, di barisan kiri Anda, bangku nomor empat dekat dinding yang sejajar dengan pintu. Mengapa hanya saya yang tak Anda beri kesempatan untuk di-interogasi diantara mereka yang berada disekitar Anda. Ah, mungkin, karena saya memang hanyalah bayangan yang selalu terabaikan oleh cahaya Anda. Lagipula, ada sebuah ‘cahaya terang’ yang menerangi hari-hari Anda di kelas kita. Baiklah, saya mengerti, it’s okay.


Ah, saya jadi benostalgia. Mungkin Anda tak mengingat hal ini lagi, tapi bagi saya, ini adalah salah satu faktor yang membuat saya menjadi begitu percaya pada pilihan Anda, hingga detik ini. Seperti cambuk yang menyadarkan saya, membuka mata saya, dan membisikkan pada hati saya, bahwa ini bukan hanya sekedar kata-kata belaka yang sedikit demi sedikit akan luruh dimakan waktu. Benda bulat kecil ini mewakili jiwa Anda, menyimpan mimpi Anda, dan akan mengokohkan pondasi dunia Anda. Anda dan ekspresi Anda, Anda dan mimpi dalam genggamanan Anda, Anda dan keyakinan diri Anda untuk membangun dunia Anda. Sepenuhnya, saya, percaya, pada Anda.


Saya masih dan akan selalu percaya pada Anda. Dimana mimpi-mimpi kecil Anda mulai terangkai menjadi harapan nyata yang semakin besar, dimana perjuangan Anda akan membuahkan hasil yang memuaskan. Saya percaya akan bersinar dengan sangat terang suatu saat kelak, dan semoga sinar itu tak akan redup apalagi padam hingga akhir. Amin.


Tetaplah bersinar dengan terang, agar saya bisa selalu menemukan arah untuk menyusuri tapak demi tapak perjalanan Anda, dimanapun itu, kapanpun itu, atau bahkan bersama siapapun itu. Seperti bayangan yang selalu berkesempatan muncul saat ada cahaya, seperti itulah saya kepada Anda. Jangan pernah padam, karena bayangan juga tak akan sanggup untuk menampakkan diri. Seperti bayangan yang secara alami ditakdirkan menyertai cahaya. Saya tidak ingin kehilangan cahaya saya, saya ingin selalu menemukan Anda. Walau dari jauh, walau Anda justru mengejar sumber cahaya lain yang lebih terang dan berbagi sinar bersamanya, menjadi begitu terang bersama. Walau saya hanya akan menjadi bayang-bayang yang mengikuti Anda, walau tanpa Anda sadari bahwa saya selalu ada membayangi cahaya Anda. Tetaplah menjadi terang.


Bahkan jika suatu ketika, cahaya Anda meredup dan padam, bayangan sejatinya tak akan pernah hilang, bayangan hanya tersembunyi dibalik kegelapan. Bayangan akan tetap ada, bersama Anda, cahayanya. Jangan takut, Anda tidak akan pernah sendiri. Ada bayangan yang setia menemani dan menanti cahaya untuk kembali segera bersinar terang. Ada do’a yang mengiringi setiap langkah tegar Anda.


Anda adalah cahaya bagi dunia saya, dan saya dengan bodohnya tak keberatan menjadi bayangan untuk dunia Anda yang akan bersinar dengan begitu terang suatu saat nanti. Mungkin, kelak, Anda dan saya akan sengaja digiring sang takdir untuk saling menemukan dalam dunia yang sama, entah bagaimana, dimana, atau kapan. Dunia saya, entah akan tumbuh menjadi dunia yang seperti apa, tapi saya akan berusaha membuatnya bersinar cukup terang agar suatu ketika Anda dapat menemukan dunia itu, setidaknya Anda sempat melihat atau mendengarnya sekali. Saya tidak tahu seberapa tidak pantasnya dunia saya untuk sekedar Anda singgahi, tapi saya ingin sekali mencoba berkelana dalam dunia Anda. Tentu, tetap, saya akan berperan sebagai bayang-bayang untuk cahaya terang Anda. Sekali lagi, saya ingatkan: Anda, jangan pernah lupa untuk terus bersinar terang agar saya tak akan kehilangan jejak melacak keberadaan Anda.


Ini memang terdengar sangat berlebihan ketika saya ucapkan dalam barisan kata. Maaf. Seandainya, saya fasih secara lisan maupun tulisan. Tapi setidaknya saya sedikit lebih lega, saya memang bukan pembicara yang baik, saya selalu kehilangan kata-kata ketika menemukan Anda. Saya hanya akan membuang waktu berharga Anda, lalu Anda pergi, tanpa ada sepatah kata berarti yang sempat saya sampaikan pada Anda. Bahkan, seiring berlalunya waktu, sekarang  saya bahkan tak memiliki sedikit saja keberanian untuk ditemukan oleh Anda, rasanya saya ingin bersembunyi, biar hanya saya saja yang menemukan Anda, diam-diam, dan membangun kekuatan sedikit demi sedikit. Cukup dengan menemukan Anda dalam keadaan yang baik-baik saja, itu sudah membuat saya begitu senang. Ah, betapa pengecutnya saya.


Ini memang teramat berlebihan, itu benar. Inilah saya, kepada Anda, dengan segala ‘keberlebihan’ yang melekat pada diri saya. Saya hanya saya, saya tidak mampu dan tidak mau menjadi dia yang Anda puja. Saya hanya saya, apa yang saya pikirkan, apa yang saya rasakan, kepada Anda. Ya, itu saja.


Dimana ada cahaya, disitu ada bayangan.


Anda adalah cahaya dari bayangan saya.





By: Rahmadila Eka Putri ( @ladilacious , Blog: Bacotan si dilacious )


Baca Selengkapnya...

22 February 2013

(Satu) Di Selembar Fajar Berembun



Di selembar fajar berembun.

Terjaga ketika adzan berkumandang di Mushalla Nurul Fajri, berdiri, menunaikan kewajiban sebagai seorang muslimah yang tahu diri, waktu pun bergulir tiada henti, kini sedang mengukir sebuah simbol hati, inisial nama milik seseorang yang pergi, dan lambang tak berhingga berkali-kali, kebiasaan jika tengah gundah dan tak cukup berani, ungkapkan sebuah arti, yang melompat-lompat gusar dalam nurani, lalu jemari hanya mampu menari, dikaca jendela kamar yang berembun ini, dikala pagi belum menyapa jiwa yang masih sepi, bahkan kadang merasa tak berarti, tanpa kamu disini, tak temani dia yang tak bisa jika tak terus menanti, dan faktanya dia hanya seorang diri, di selembar fajar berembun ini.



Di selembar fajar berembun.

Berbekas hujan semalam tadi, basah dan lembab di balik jendela yang baru dipasangi terali besi, dingin menghampiri, merasuk dari kepala hingga ujung kaki, kembali ke kasur bermotif bunga daisy, yang mekar di padang hijau tak berpenghuni, selimuti diri hingga dingin tak terasa begitu menjangkiti, dibalik selimut berwarna merah muda dengan hiasan Hello Kitty, mencoba menghangatkan hati yang menggigil diterjang rindu yang tak jera menyerang hari demi hari, dan faktanya dia hanya seorang diri, di selembar fajar berembun ini.


Di selembar fajar berembun.

Menangkap bunyi dentang jam dalam sunyi, menatap tanggal demi tanggal di kalender dalam hape yang belum lama dibeli, menghela napas dengan segudang rasa iri, terhadap mereka yang bisa bertemu setiap saat dengan dambaan hati, bermain kesana-kemari, mendengar getar vokal si doi, menatap paras yang selalu membuat grogi, kala berhadapan atau bicara dari hati ke hati, ah pasti amat senang sekali, jika bisa seperti itu kini, andai itu tak sebatas mimpi, imajinasi, ilusi, fiksi, yang tak terpenuhi, dan faktanya dia hanya seorang diri, di selembar fajar berembun ini.


Di selembar fajar berembun.

Berdendang kecil mengusir risau dihati, menanti mentari pagi yang kan segera mengusir sang fajar pergi, dan pagi pun kembali, mengawali hari, meniupkan udara diantara telapak tangan untuk ditempelkan di wajah yang mulai pucat pasi, fajar kali ini, sungguh dingin sekali, ah, tapi tetap saja jadwal hari ini, harus dijalani dengan semangat yang tinggi, dimulai dari Shalat Shubuh tadi, lalu sekitar 15 menit lagi, akan segera mandi, berpakaian rapi, sarapan bergizi, kemudian ucapkan selamat datang pada sang pagi, senang bertemu kembali, dan satu yang tak jua berubah hingga kini, yaitu faktanya dia masih saja seorang diri, di selembar berembun fajar ini.






Di selembar fajar berembun. SELESAI.


( by: @ladilacious )


Baca Selengkapnya...

Surat yang Tak Pernah Sampai Buat Bidadari Kecil


Kutulis ini hanya untukmu, membuktikan bahwa aku masih menginginkanmu selalu, manisku..

Entah dengan cara apalagi yang harus kulakukan tuk mengungkapkan perasaanku. Mungkin dengan hal bodoh ini, aku bisa dengan tenang menyayangimu..

Orang-orang disana menyanyikan lagu-lagu cinta. Orang-orang disana berunjuk rasa menuntut keadilan. Orang-orang disana sibuk berdiskusi masalah politik. Orang-orang disana berpuisi mengenai kehidupan. Orang-orang disana melukiskan keindahan. Tapi, aku disini hanya ingin bersamamu bercerita tentang aku dan kau kasihku..

Sesungguhnya ku masih menginginkanmu, mengakhiri hari di tepi pantai bersamamu, menggenggam erat jemarimu, menikmati silaunya senja yang selalu terhalangi oleh gumpalan awan. Sesungguhnya ku masih menginginkanmu melalui hari di kota penat ini bersamamu, menggandengmu takkan ku lepas, menikmati hangatnya d'crepes bersamamu dengan teh kotak dari pendingin. Sesungguhnya ku masih menginginkanmu hari ini, mendekap tubuhmu mesra, ku kecup keningmu dan berbisik, sungguh ku menyayangimu selalu.. 

Mungkin tak terlintas dibenakmu tuk memilikiku lagi.. Aku sadar, ku sangat bersalah, telah gagal tuk membahagiakanmu, tak dapat membantumu tuk melupaknnya hingga kau lebih mencoba memilih yang lain..

Darah akibat ulah bodohku, airmata yang pernah kuteteskan, hal gila yang telah kulakukan, semuanya hanya untukmu sayangku.. dan bila suatu saat kau sedang sendiri, terluka, dan rapuh.. datanglah, mengadulah, bersandarlah di bahuku dan keluarkan keluh kesahmu karna ku kan selalu ada untukmu..

Aku tak butuh permaisuri dengan gaunnya yang indah. Aku pun tak butuh ratu dengan mahkotanya yang berkilauan. Tapi aku butuh kau, Bidadari Kecilku.. Terima kasih atas semua yang pernah kau berikan dan lakukan untukku. 'kan selalu ku ingat segalanya karna itu adalah kenangan terindah dalam hidupku..

Maaf bila caraku berlebihan mencintaimu. Maaf bila ku sangat menyayangimu. Maaf bila ku terlanjur mengasihimu. Karna ku hanya ingin Kau.. itu saja..

“Seandainya Tuhan tak membuatmu nyata dalam hidupku, ku harap kau tetap hadir dalam mimpi dan khayalku sampai ku yakin kau bukanlah tulang rusukku..”

nb: jika anda bertemu bidadari kecil malam ini tolong sampaikan suratku yang tak pernah sampai ini.

oleh : @pasirhening
Baca Selengkapnya...

Postingan Terpopuler

Postingan Terbaru