Showing posts with label Kehidupan. Show all posts
Showing posts with label Kehidupan. Show all posts

20 August 2013

Surat Untuk Ibu

Ibu, untuk menghargai dan mengenang semua jasa-jasamu untuk dunia ini telah diciptakan satu hari khusus yaitu “Hari ibu”. Hari ini diciptakan hanya untuk mengingat jasa luar biasamu, jasa yang hanya bisa dilakukan oleh kaum hawa. Dan hanya pada kaum hawa yang terpilih saja yang bisa melakukan tugasnya dengan baik.
          
          Ibu, terima kasih telah menyimpanku ditempat yang paling kokoh didunia ini, tempat yang paling nyaman dan aman selama perjalanan hidupku. Aku yang hanya sebuah sperma kecil selama sembilan bulan penuh melewati tahapan-tahapan sempurna sehingga menjelma menjadi seorang manusia kecil, yang kemudian kau lahirkan kedunia ini dengan jutaan tetesan darah. Dengan satu tujuan, memperlihatkan dunia padaku. Kau telah memberikanku kesempatan mencicipi indahnya kehidupan.

            Tak cukup hanya menumpang dalam tubuhmu. Kau memberikanku asupan ASI, zat paling berharga untuk pembentukan energi dalam tubuhku yang mungil, kecil dan lemah tak berdaya. Tanpa berfikir untuk meminta balas jasa apapun dariku.

           Ibu, Disaat aku mulai menapaki kehidupan sebagai seorang pelajar, dirimu tak henti-hentinya mengambil peran dalam tiap-tiap baitnya. Kau yang memberiku semangat tuk meraih cita-citaku. Agarku tak berhenti belajar. Disetiap pagi, kau menjadi alarm pagiku, kau juga menjadi koki untuk sarapanku, dan diwaktu lainnya kau menjadi pelayan laundri untuk semua pakaian dan kelengkapan sekolahku. Kau juga tak pernah berhenti mengingatkanku untuk mengerjakan PR-ku.

            Tubuhmu yang seksi, molek, mulus dan putih perlahan berubah menjadi kendor. Berlemak tak terawat karena semua perhatianmu kini tertuju padaku. Dan kau tak pernah marah padaku karena menjadi penyebab rusaknya bentuk tubuhmu. Kau malah menganggap ini sebuah bentuk kasih sayang.
     
            Tanganmu yang gemulai dan halus ikut berubah kasar dikarenakan terlalu sering berjabatan dengan deterjen. Matamu yang indah dan tajam kini memiliki kantung mata akibat kelelahan, dulu waktu tidurmu 8 jam penuh, tapi setelah aku masuk dalam kehidupanmu. Perlahan jam tidurmu terpotong kau bagi untukku. Wajahmu kini kusam terhantam sinar matahari, bahumu kini semakin jatuh termakan waktu.



            Disetiap tapak kakimu, akan selalu diiringi dengan tarikan nafas yang tak henti-hantinya terpanjatkan namaku seperti dalam bait-bait harapanmu untukku dalam do’amu. Sebersalah apapun aku, kau selalu punya jutaan alasan untuk tidak membenciku. Sejelek apapun diriku kau juga tak pernah memakiku. Sebodoh apapun diriku kau juga tak pernah menyerah ingin membimbingku. Ibu kau tak henti-hentinya memaklumi kesalahanku, bagimu kesalahan yang kulakukan hanya berupa proses penemuan jati diri.

            Ibu, tak cukup dengan mengurus ayah, kau juga disibukkan dengan aktivitas mengurusiku, menyiapkan makanan untuk keluarga kecilmu. Menyulap pakaian lusuh dan kotor penuh keringan menjadi pakaian siap pakai, memberantas semua debu disudut-sudut ruangan, lemari dan juga jendela dirumah kesayangan kita. Menyapu dan mengepel rumah hingga mengkilap. Dan sadarkah ibu, ibu melakukan semua itu bukan hanya untuk 1,2,3 hari, bukan juga hanya dalam hitungan bulan, tapi sejak awal ibu membina rumah tangga hingga saat ini dan akan terus begitu.

            Dan ketika aku masuk dalam keluarga kecilmu ini, tugasmu semakin terlipat ganda. Tugas yang menambah kerut diwajahmu .Tugas yang membuat tangan dan kakimu keram Tugas yang membuat waktumu tersita dirumah. Tugas yang membengkokkan tulang punggungmu, dan atas semua tugas rumah itu aku jarang membantumu. Dan yang ku dapati ibu malah memakluminya. Disaat aku lebih memilih jalan-jalan ke mall, menghabiskan uang ayah dengan alasan ingin bersenang-senang setelah ujian kau tetap memakluminya. Kau tak marah aku tak membantumu mengerjakan tugas-tugas beratmu.

            Aku kembali teringat saat aku tertawa hebat melihatmu gagap akan tekhnologi. Aku menertawaimu yang tidak peka akan zaman. Aku yang malu akan aksenmu yang berantakan dan kental akan bahasa daerah. Aku juga sering menggerutu dan mogok makan jika masakanmu tidak mengairahkan bagiku. Tanpa sekalipun aku menyadari, bahwa aku tak bisa masak sehebat dirimu.

            Ibu, aku selalu marah padamu disaat kau mengganggu tidur nyenyakku, aku selalu menggerutu disaat kau menggerecok aktivitas menyenangkanku, akitivitas bersantaiku, aku selalu memakimu saat kau berusaha mendidikku. Aku juga selalu mencemoohmu karena tak mengerti kehidupan remajaku, tak lupa juga aku selalu medumel disaat kau memarahiku, aku juga selalu memasang wajah tak bergairah seakan telah mengelilingi kota dengan jalan kaki saat kau meminta tolong dariku.

            Tubuh yang menua seakan menyadarkanku Aku terduduk. Terdiam dalam sepi. Kupandangi gambarmu. Sekilas terbayangkan semua kenangan indah masa-masa bersamamu. Saat kau merawatku, mengganti popokku, mengelitiku, menciumku, memijatku dan semuanya. Padahal kau bisa mengaborsiku, tapi mengapa kau lebih memilih melahirkanku, memilih untuk menanggung beban merawatku, membesarkanku, dan membuatmu kehilangan kebebasan bergerakmu.

             Entahlah inilah mungkin bukti saktinya cintamu padaku. Bukti kasih sayangmu padaku. Ibu kau telah berhasil menyulap anak kecil yang hoby mengompol dan mengisap jempol menjadi sosok anak yang berdasi, berjas, dan bahkan bermobil. Saat aku menatap gambar wajahmu dikertas berukuran 4R ditanganku, pikiraku sejenak melayang.

Membayangkan bagaimana jika mendadak tubuhmu tak bergoyang lagi.
Membayangkan jantungmu tak berdenyut lagi,
Membayangkan semua tugasmu beralih menjadi tugasku.
Membayangkan jika dirimu tak bisa ku jamah lagi.
Ohh Tuhan.. Kumohon jangan. Aku tak sanggup,benar-benar aku belum siap kehilangannya Tuhan. Dirinya terlalu berarti bagiku.
Teringat aku pada semua tangisanmu yang keluar dari kelopak matamu saat membesarkanku, semua bulir keringatmu saat merawatku, semua ocehan yang keluar dari bibirmu hanya untuk menuntunku memberikanku petunjuk untuk menapaki dunia ini. Aku kembali teringat akan semua hal kecil hingga hal besar yang kau lakukan untuk menunjukkan cintamu.

          Ibu, aku telah menyita waktumu, membuatmu marah, menangis, kebingunggan,  khawatir,  resah, pusing dan yang kubalas hanyalah sikap kurang ajar. Dan untuk semua sikap burukku padamu kau tidak membenciku.



         Jika dibandingkan semua usahamu untukku, intan, berlian, permata, bahkan dunia ini tak akan cukup untuk membalas semuanya Ibu. Aku meminta maaf atas segala sifat burukku padamu. Atas segala bentuk lupa diriku atas semua pengorbananmu. Aku mencintaimu.

          Duhai ibuku, terima kasih telah menjadi Ibuku. Terima kasih telah mencintaiku. Terima kasih telah menerimaku dan manyayangiku.

          Ibu, kau segalanya bagiku. Untukmu peluk hangat dan cium mesraku.

                                                                                                                               Selamat hari ibu

                                                                                                                Terima kasih telah menjadi
                                                                                                               ibu yang sempurna bagiku!
Baca Selengkapnya...

19 April 2013

MAYA




Sudah satu bulan aku tidak mengunjungi dunia maya, padahal biasanya hampir di setiap saat aku berkunjung di dunia maya. Bukan karena sibuk atau keperluan penting lainnya, aku hanya ingin menikmati dunia nyata. Aku ingin menikmati sesuatu yang benar-benar ada, yang benar-benar nampak di pelupuk mata. Aku merasa jenuh dengan kepura-puraan yang ada di dunia maya. Banyak orang menekan tombol like di jejaring sosial facebook, tapi dalam dunia nyata mereka mengejek status tersebut, bahkan ada yang menekan tombol like padahal tidak mengerti dengan isi status tersebut.
Tapi kali kini aku akan menceritakan salah satu pengalamanku di dunia maya yang merubah hidupku di dunia nyata. Kisah ini dimulai sekitar pertengahan bulan Januari lalu. Seperti pagi-pagi sebelumnya, setelah bangun tidur aku langsung menyalakan laptop dan memasang modem pada slot yang ada di laptopku dengan satu tujuan, online. Tapi ada yang aneh, pagi ini aku tak menemukan satupun pemberitahuan pada akun facebook-ku.
“Tumben, biasanya pagi-pagi begini banyak banget pemberitahuan.” gumamku dalam hati.
Aku pun berniat untuk keluar dari akun facebook-ku.  Namun tepat sebelum aku mengeklik tombol keluar, laptopku berbunyi dan menampilkan sebuah percakapan, salah satu temanku di facebook mengirim pesan padaku. Afriana Asri, nama tersebut muncul di bagian atas percakapan itu.
“Hai Arga…!!!” pesan tersebut yang muncul di jedela percakapan facebook-ku.
Awalnya aku bingung, karena seingatku tak ada teman facebook-ku yang bernama Afriana Asri. Aku mengingatnya, karena teman facebook-ku masih sedikit, dan semua adalah orang yang aku kenal di dunia nyata. Tapi, daripada tidak ada yang kulakukan, lebih baik aku meladeni dia. Cukup lama kami bercakap-cakap hal yang sebenarnya tidak terlalu penting, tapi cukup mengasikkan.
Aku bercakap-cakap dengannya sambil melihat-lihat akunnya untuk mencari tahu siapakah dia. Pertama, aku membuka fotonya, karena inilah yang paling dapat menentukan, apakah aku mengenalnya atau tidak. Aku mengeklik pada foto profilnya. Setelah terbuka, aku mengamati fotonya dengan seksama.
“Hmm, siapa ya? Kayaknya aku gak pernah lihat deh. Tapi cantik sih.” ucapku sambil mengamati fotonya dan senyum-senyum sendiri.
Untuk mendapatkan informasi yang lebih detail, akupun membuka halaman info profilnya, siapa tahu dia tetangga atau siswi satu sekolahku. Setelah membuka halaman profilnya, aku baca semua info tentang dirinya.
“Owh, anak SMU Dwi Pena juga. Tapi kok kayaknya aku gak pernah lihat dia ya.” ucapku bingung.
Setelah setengah jam kami bercakap-cakap, tiba-tiba dia offline. Jengkel juga sih, lagi asik-asiknya ngobrol, malah off tanpa pemberitahuan. Tapi tak apalah, aku juga harus bersiap-siap berangkat ke sekolah, mungkin dia juga.
***
Sepulang sekolah, aku tidak langsung pulang. Aku berdiri di dekat gerbang sekolah, berharap menemukan dia di antara puluhan siswi yang keluar melalui pintu gerbang sekolah. Namun, hingga sekolah sepi, aku tak menemukan wajah yang ada di foto yang kulihat pagi tadi. Aku segera pulang, ingin membuka facebook, berharap dia sedang online.
Sesampaiku di rumah, aku langsung menyalakan laptop-ku dan online lagi. Tapi aneh, lagi-lagi pemberitahuanku kosong. Kulihat di daftar obrolah, hanya ada satu nama yang sedang online, Afriana Asri. Aneh, tapi biarlah. Mungkin yang  lain sedang sibuk. Aku langsung memulai percakapan dengannya.
“Hai Ana… ^_^” begitulah aku menyapanya.
“Hai juga, Arga… ^_^ baru pulang sekolah ya?” dia membalas sapaanku.
“Iya nih, baru pulang. Kamu kok sudah OL? Pulang cepat kah? Atau jangan-jangan, kamu gak masuk sekolah ya?”
“Iya nih, aku lagi sakit. Makanya aku gak pergi sekolah.”
“Owh… pantesan aku gak lihat kamu di gerbang sekolah.”
“Hah? Kamu nunggu aku di gerbang sekolah?”
“Iya. Hehehe…”
“Maaf ya, bikin kamu menunggu.”
Baru saja aku ingin membalasnya, tiba-tiba dia offline lagi. Semua kejadian itu berlangsung terus menerus selama dua pekan. Tak ada pemberitahuan, hanya dia yang online, dan saat ngobrol, dia offline tiba-tiba. Satu lagi, aku tak pernah menemukannya di sekolah.
 Hingga suatu hari sebuah pesan dari dia masuk ke inbox-ku dan membuat aku terkejut.
“Arga, kamu mau gak jadi pacarku?”
Rasanya tidak percaya saat aku membaca pesan tersebut. Pasalnya, aku baru mengenalnya dua pekan yang lalu, itupun melalui dunia maya. Selain itu, yang membuat aku terkejut sekaligus senang adalah, wanita secantik dia ingin menjadi pacarku. Ini adalah hal yang sangat luar biasa untukku.
“Mau sih. Tapi, apa kamu yakin dengan ucapanmu itu?” balasku.
Dia tak membalas. Setelah cukup lama aku menunggu balasannya, tiba-tiba dia offline lagi. Aku makin bingung, sebenarnya apa yang terjadi. Apakah yang tadi dia katakan adalah benar? Apakah dia serius dengan ucapannya? Atau balasanku yang menanyakan keyakinannya tersebut salah?
Keesokan paginya, setelah bangun tidur aku langsung membuka facebook-ku lagi. Hari ini ada yang berbeda, ada satu pemberitahuan untukku.

Afriana Asri mencantumkan Anda sebagai pacarnya.
Terima ∙ Tolak

Aku sempat terkejut dan bingung. Tapi aku langsung menerimanya, aku merasa cocok dengannya. Aku juga merasa percakapanku dengannya selama dua pekan ini cukup untuk mengenal satu sama lain.
***
Sudah satu pekan setelah aku dan Ana berstatus pacaran. Tapi selama satu pekan itu juga, aku tak pernah melihatnya online lagi. Aneh, pikirku. Hal ini membuatku penasaran. Akupun membuka info profilnya dan mencari alamat rumahnya. Setelah kudapatkan, aku langsung bergegas ke rumahnya. Selama di perjalanan, aku terus memikirkannya. Apa sebenarnya yang terjadi padanya? Mengapa dia tidak pernah menghubungi aku lagi? Apa ini salahku? Atau dia yang merasa bersalah padaku? Aku semakin bingung.
Setelah limabelas menit perjalanan, aku tiba di rumahnya. Tak terlalu besar, berwarna putih, berpagar besi warna hitam. Tapi, terlihat sepi. Aku menekan tombol yang ada di sisi kiri pagarnya. Berkali-kali kutekan, tak ada satupun orang keluar dari balik pintu itu. Tak lama kemudian, ada seorang perempuan keluar dari rumah yang ada di samping rumah Ana. Akupun menyapanya dan menanyakan tentang Ana.
“Permisi bu, apakah rumah di itu benar milik keluarga Afriana Asri?” tanyaku sambil menunjuk rumah Ana.
“Oh, iya dek. Tapi, semua penghuninya pulang kampung setelah Afriana meninggal.” Jawaban ibu tersebut membuatku sangat syok.
“Me-meninggal? Kapan?” tanyaku tergagap.
“Kalau tidak salah, saat tahun baru. Dia kecelakaan saat akan merayakan tahun baru bersama teman-temannya.”
“Terima kasih infonya, bu.” jawabku seraya berbalik dan langsung mengendarai motorku menuju rumah.
Ucapan ibu tadi masih mengiang di telingaku, rasanya sungguh tak percaya. Akupun mencoba untuk berpikir positif.
“Ah, mungkin ada orang iseng yang menggunakan akunnya untuk mengerjaiku. Atau mungkin ada temanku yang merubah nama dan seluruh info profilnya untuk mengerjaiku.” pikirku.
Akupun menyalakan laptop-ku lagi dan membuka facebook-ku, berharap dia online lalu aku akan menginterogasinya.
Saat akun facebook-ku terbuka, betapa terkejutnya aku. Suatu hal yang aneh terjadi, membuatku bingung dan tak dapat berpikir jernih. Terdapat delapan puluh lima pemberitahuan dan tujuh pesan. Saat kubuka, beberapa pemberitahuan yang belum dibaca dan beberapa pesan masuk sejak tiga pekan yang lalu, tapi aku tak pernah menerima pemberitahuan dan pesan sejak tiga pekan yang lalu, kecuali dari Ana.
“Gak, gak mungkin.” ucapku.
Akupun mengetikkan nama Afriana Asri di pencarian. Aku menemukan hanya ada satu-satunya nama itu dalam pencarian. Kubuka akun itu. Benar, itu adalah akunnya, ku lihat dari fotonya. Tapi aku tidak berteman dengannya, dan aku juga menemukan pesan dinding dari beberapa temannya yang mengungkapkan rasa sedih mereka. Lalu, siapa yang kutemani mengobrol selama ini? Siapa yang menjadi pacarku selama satu pekan ini? Ternyata, pacarku di dunia maya benar-banar maya. Dia sudah tak ada di dunia nyata.

Baca Selengkapnya...

01 April 2013

masih ada lagi cinta

saat pengantar malam itu tidak lagi datang menghampiri
bentuk perhatian yang salah dan berbeda dengan yang lain

saat tidak lagi terbangun malam hari
seperti ada sebuah penyesalan kenapa ini harus terjadi

kepercayaan ini masih lekat dan harus berjalan
beriringan dan berdampingan secara selaras

pandangan ini yang seharusnya aku pegang
perasaan ini yang seharusnya aku tanam

bukan rasa penyesalan yang selalu tertujam
melayang, merasuk dan menghinggapi hati ini

tetapi rasa syukur yang aku hantarkan
diberi sedikit cubitan yang penuh kasih sayang

rasa ikhlas bahwa semua itu berjalan lebih baik lagi
mengindahkan dunia ini lagi

menghijaukan pikiran dan nurani
penyebab gelap itu akan sirna

dibalik semua itu masih ada sisa cinta
bukan, bukan sisa cinta
tetapi cinta yang baru akan ku rasakan
mulai hari ini dan selanjutnya melekat dalam diri

terima kasih sudah menungguku berubah
menyadarkan semuanya dari lamunan gelap berbayang

:") #fullnotes.wordpress.com#

Baca Selengkapnya...

11 March 2013

Hubungan Tanpa Perhatian



Tahukah kamu para pecinta..
jangan pernah bilang suka kalau sebenarnya tak suka
jangan pernah bilang cinta kalau memang tak cinta
jangan pernah bilang sayang kalau sesungguhnya sayang itu tak pernah ada


coba lihat dari dasar hati mu
apakah sudah yaqin dengan namanya cinta
jika memang sudah cinta
tahukah kamu apa yang seharusnya kamu lakukan ??

"Memberikan yang Terbaik"

ya, memang benar, memberikan yang terbaik
berikan yang terbaik semampu mu
apapun itu
yang membuat siDia bahagia bersamamu


bukan dengan materi
bukan dengan hadiah-hadiah
bukan dengan kemewahan.
karna tak selamanya semua kemewahan itu bisa membuat seseorang bahagia


yang paling terpenting dalam mejalin suatu hubungan adalah
membuat siDia Bahagia bersamamu walau hanya dengan sebuah  "PERHATIAN"


renungkan saja
tanpa perhatian hubungan akan suram
tanpa perhatian hubungan akan terasa biasa saja
walau banyak kemewahan yang kau berikan tapi tanpa Perhatian semua itu tak ada artinya


terkadang hidup ini memang serba salah
karna tak semua orang berpikir hal yang sama dengan aku
kalau bagi aku
sebuah perhatian itu sangat lah penting
walau hanya perhatian kecil namun sangat berarti

"sayang.., udah makan belum ??"
 
satu minggu saja tanpa pernah mendapat perhatian seperti itu
pasti kangen nya berasa banget..
bener gak ??

.....

by. fachzaina.blogspot. follow. @syarifah_zainab
Baca Selengkapnya...

01 March 2013

Bagian Kedua, Surat yang Tak Pernah Sampai Buat Bidadari Kecil.

dan lagi, kutulis ini hanya untukmu, tuk membuktikan bahwa ku masih mengingatmu selalu, manisku..

mungkin hanya sepucuk surat ini yang bisa ku persembahkan untukmu, surat yang amat sangat jauh pentingnya dibanding impian, cita dan cintamu selama ini..

semoga segala tawa dan tangis yang menemanimu selama ini, mampu membuatmu menjadi sosok yang terbaik untuk dirimu sendiri, dan orang-orang di sekitarmu yang selalu menyayangimu..

maaf, ku tak dapat menelponmu ataupun mengirimimu sms hari ini seperti orang-orang di sana, pulsaku tak lagi mencukupi. maaf, ku tak dapat memberimu hadiah spesial hari ini seperti orang-orang di sana, hutangku sudah bertebaran di mana-mana. maaf, ku tak dapat membawakanmu makanan kesukaanmu hari ini seperti orang-orang di sana, uang kirimanku sudah habis kupakai biaya kostku. dan hanya ini yg dapat ku persembahkan untukmu sayangku..

jaga selalu senyum indahmu, setidaknya untukku yang jauh di sini, salah satu dari sekian orang yang menginginkan senyum itu selalu tersungging di bibir manismu..

andai kelak ku tak lagi berarti, izinkan aku menghiasi mimpi indahmu, menjadi bayang-bayang harimu yg ‘kan selalu membilas air matamu..

dan 27 juni
kuingin ada sebuah kebahagiaan terpancar dari bening sorot matamu. saat ku ucapkan tulus dari palung hati yang terdalam. selamat ulang tahun kekasihku..

dan 27 juni
aku masih menyayangimu di sini..

“seandainya Tuhan tak membuatmu nyata dalam hidupku, ku harap dengan sangat, agar kau tetap hadir dalam mimpi dan khayalku sampai ku yakin kau benar-benar bukanlah tulang rusukku..”


nb: #inibukancurhattapiinisurat :)
#jika anda bertemu bidadari kecil malam ini tolong sampaikan suratku yg tak pernah sampai ini.

follow : @pasirhening
Baca Selengkapnya...

Tentang Hidup

Hidup ini sangat sulit di tebak.
Kadang senang, kadang juga sedih.
Namun aku menganggap bahwa semua itu
adalah warna dari sebuah kehidupan.
Apa yg ku jalani saat ini,
hanyalah sebuah proses.
Karena hidup ini bagaikan anak tangga
yg tak selalu naik, tapi juga turun.
Butuh perjuangan dan sedikit pengorbanan
untuk mendapatkan apa yg kita inginkan.
Setiap manusia ingin yg terbaik untuk dirinya.
Namun terkadang kenyataan yg ada
tak sesuai dengan angan-angan.
Mungkin memang itulah yg terbaik.
Karena Tuhan lebih tau
bagaimana cara mencintai hamba-Nya.

By: Rina Maniez
Baca Selengkapnya...

26 February 2013

Jeritan Perjodohan



...

waktu terus bergulir,,
detik..menit..jam..
hari ..bulan..
bahkan tahun..
silih berganti...

sampai saat ini..
dan beberapa bulan lagi
aku dan dia
akan bersanding

dan
haruskah aku bahagia..
padahal hatiku menangis

haruskah aku tersenyum
padahal bibirku tak mampu tersenyum

bukan ku tak mau dengan perjodohan ini

tapi..
hatiku sampai detik ini masih tak mau menerima kenyataan
bahwa aku akan berojdoh dengan dia..

dia yang baru aku kenal
dan dia juga baru mengenal aku..

hari demi hari
aku belajar menerima..
belajar menyukainya..
belajar menyayanginya..
tapi tidak mencintainya..

karna cintaku masih tidak bisa ku berikan

waktu pun berlalu
sampai saat ini
1 setengah bulan menuju hari H tiba
akupun mulai menyadari
bahwa perasaan itu tak pernah ada
hanya kekosongan Hati yang ku rasa..

mungkin karna dia kurang begitu perhatian
dan kurang sering berkomunikasi dengan aku..
aku mencoba berusaha semampuku
agar bisa menerima dia..

tapi pengertian dan usahaku sia-sia belaka..
karna sikap dia yang begitu egois dan keras kepala..

ingin berontak
agar perjodohan ini tak terlaksana..
aku sungguh tak sanggup..

membayangkan
kesedihan dan rasa kecewa orang tua serasa ada didepan mata..

biarlah ini menjadi jeritan hatiku saja...
aku hanya ingin orang tuaku bahagia melihat aku dengan dia..
tak mengapa kesedihanku ini..
tak mengapa tangisku ini
hanya waktu yang akan membawaku kepada..
kesedihan atau kebahagian..

bagiku
orang tua segalanya
meski mengorbakan kebahagiaanku sendiri..


by. @syarifah_zainab , fachzaina_alkaff

Baca Selengkapnya...

20 February 2013

Gejolak Hatiku

mengerti akan hal buruk..
tapi tetap dikerjakan..
seakan-akan keburukan itu kebaikan yang patut tuk dilakukan

hati pun mulai berontak tuk tak melakukan hal itu lagi..
tapi keadaan memaksa ntuk memperbuat hal buruk itu..

harus bagaimanakah,, ??
diri ini menghadapi semeraut kehidupan kejam ini..

harus bagaimanakah..??
hati ini menyikapi..

adakah yang mngerti..??
adakah yang perduli akan hal ini..

walau djelaskan..
tak ada satu pun yang mengerti

Gejolak Hatiku ini...
terkecuali ALLAH ∂άn Aku..



by. fachzaina_alkaff @syarifah_zainab
Baca Selengkapnya...

18 February 2013

Aku, Kau, Kita...

aku tak pernah menyesali telah bertemu denganmu. hanya saja ketika kau hadir, aku tak lagi sendiri, begitu juga dirimu. kau berikan warna yang aku butuhkan kan dalam jalani hidup. aku, kau, kita menunggu. menunggu untuk berjalan masing-masing.

kini ku tlah sendiri, tapi tidak denganmu. kau bermulut manis, kau umbar semua janjimu. tahukah kau? aku tak ingin janjimu, aku butuh buktimu. aku ingin kau disini, disisiku seutuhnya. aku tahu, tak semua inginku adalah yang kubutuhkan, tapi dapatkah kau mengabulkannya untukku? aku tak sanggup bila selamanya menjadi yang kesekian dihatimu.

aku tetap mencoba bertahan, entah karena cinta atau egoku. aku masih berharap agar kau menjadi yang kuinginkan. aku, kau, akankah menjadi kita selamanya?

Baca Selengkapnya...

03 February 2013

Kisah Si Kecil Dewi

Seorang gadis kecil bernama Dewi...4 tahun usianya. Hari itu diantar oleh ibundanya masuk sekolah Taman Kanak-kanak. Betapa bahagia hati Dewi, dengan langkah pasti dan berseragam lengkap, terbayang di benaknya dia akan banyak teman, bisa bermain, saling berbagi, dan bergembira di lingkungan barunya. Hati sang Bunda pun juga bahagia mengantar putri satu-satunya tercinta, ke dunia baru sang putri untuk meraih masa depan.

Keduanya bergandeng tangan melangkah pintu gerbang sekolah dan disambut para guru TK dengan sapaan ramah. Sang ibu memperkenalkan putrinya kepada seluruh guru-guru di sekolah tersebut dengan penuh asih mereka menyambut Dewi sebagai murid spesial-nya. Murid spesial, karena Dewi adalah satu-satunya murid yang cacat. Sejak lahir Dewi hanya bertangan satu, tangan kanannya cacat, dan hanya tumbuh kecil bagai seonggok daging.

Dewi-pun dibimbing masuk ke kelas bersama teman-temannya yang lain sementara puluhan mata memandang dengan heran, sinis dan cibiran. Teman-teman kecilnya dengan polos menertawakan dirinya karena berbeda dengan yang lain. Sungguh rasanya Dewi ingin menahan tangis dan sakit hatinya ditertawakan teman-temannya.

Tidak kuasa membendung rasa malu dan air matanya, Dewi-pun berlari keluar ruangan dan menemui Bundanya, "....Bunda kita pulang saja.... Dewi tidak mau sekolah!!!..."

Sungguh kaget sang Bunda mendengar ucapan Dewi. Beberapa saat yang lalu putri tercintanya begitu bahagia, tapi sekejap telah berubah bagai awan mendung hitam. Sang Bunda pun segera membimbing Dewi pulang ke rumah. Sesampai di rumah Bunda dan Dewi terduduk dalam diam. Tidak tahu harus bagaimana memulai kalimat, Sang bunda pun kebingungan harus bagaimana membujuk sang bidadarinya untuk ceria dan bersemangat sekolah kembali.

Dalam kesunyian, bidadari kecil itu dalam tangisnya mulai memecah keheningan, "Bunda, mengapa Dewi hanya punya tangan satu? Sementara teman-teman Dewi yang lain punya dua tangan? Mengapa Tuhan nggak adil Bunda???" Pedih sekali sang Bunda mendengar pertanyaan malaikat kecilnya itu. Sesak nafas sang Bunda, ingin dia menangis di depan putri satu-satunya itu.

Sambil menata hati dan perasaannya sang bunda mendekat pada Dewi dan ilham terbit di benaknya. Dipeluknya dan dihapus air mata bidadari kecilnya seraya berbisik, "Sayangku, Tuhan Maha Adil. Tuhan teramat sayang sama Dewi. Sungguh Tuhan amat mencintaimu Nak. SEBENARNYA-LAH TUHAN MENYIMPAN SATU TANGANMU DI SURGA. Dia menjaga tanganmu di sana dengan keindahanNya. Menjaga tanganmu dari dosa dan maksiat. Suatu saat kita kembali kepada-Nya pasti akan dikembalikan pada tubuhmu sayang. Putriku, tanganmu akan menyambut dirimu dengan bahagia jika dirimu selalu berbuat baik di dunia dan mematuhi perintah Tuhan......"

Hening sesaat, di wajah bidadari kecil itu pun mulai tersungging senyuman dan berkata, "Benarkah itu Bunda? Berarti Dewi tetap punya dua tangan ya?"

Jawab sang bunda, "Iya sayang, kamu tetap punya dua tangan dan kamu harus sabar menjemput tanganmu di sorga".

Mendung di wajah bidadari kecil itupun lenyap dan berganti mentari ceria kembali..... 


ibu, anak, kisah, cacat, terharu, kehidupan, inspirasi, renungan

Baca Selengkapnya...

Ketika Tuhan Menciptakan Wanita

Ketika Tuhan menciptakan wanita, malaikat datang dan bertanya, “Mengapa begitu lama menciptakan wanita, Tuhan?”
Tuhan menjawab, “Sudahkah engkau melihat setiap detail yang saya ciptakan untuk wanita? Lihatlah dua tangannya mampu menjaga banyak anak pada saat bersamaan, punya pelukan yang dapat menyembuhkan sakit hati dan keterpurukan, dan semua itu hanya dengan dua tangan“.

Malaikat menjawab dan takjub, “Hanya dengan dua tangan? tidak mungkin!
Tuhan menjawab, “Tidakkah kau tahu, dia juga mampu menyembuhkan dirinya sendiri dan bisa bekerja 18 jam sehari“.

Malaikat mendekat dan mengamati wanita tersebut dan bertanya, “Tuhan, kenapa wanita terlihat begitu lelah dan rapuh seolah-olah terlalu banyak beban baginya?”
Tuhan menjawab, “Itu tidak seperti yang kau bayangkan, itu adalah air mata.”
“Untuk apa?“, tanya malaikat.

Tuhan melanjutkan, “Air mata adalah salah satu cara dia mengekspresikan kegembiraan, kegalauan, cinta, kesepian, penderitaan, dan kebanggaan, serta wanita ini mempunyai kekuatan mempesona laki-laki, ini hanya beberapa kemampuan yang dimiliki wanita. Dia dapat mengatasi beban lebih hebat dari laki-laki, dia mampu menyimpan kebahagiaan dan pendapatnya sendiri, dia mampu tersenyum saat hatinya menjerit, mampu menyanyi saat menangis, menangis saat terharu, bahkan tertawa saat ketakutan. Dia berkorban demi orang yang dicintainya, dia mampu berdiri melawan ketidakadilan, dia menangis saat melihat anaknya adalah pemenang, dia girang dan bersorak saat kawannya tertawa bahagia, dia begitu bahagia mendengar suara kelahiran. Dia begitu bersedih mendengar berita kesakitan dan kematian, tapi dia mampu mengatasinya. Dia tahu bahwa sebuah ciuman dan pelukan dapat menyembuhkan luka.”

“Cintanya tanpa syarat. Hanya ada satu yang kurang dari wanita, Dia sering lupa betapa berharganya dia.....” 

Baca Selengkapnya...

29 January 2013

Suatu Paruh Hari Yang Tak Akan Kembali Lagi

Terik sinar matahari itu, tak mungkin hadir lagi.
Corak aspal yang tergenangi bias matahari itu, tak mungkin tercipta lagi.
Hembusan angin itu, tak mungkin menerpanya lagi.
Tangis yang tak membuatnya malu itu, sulit untuk hadir lagi.
Tawa yang riang itu, sulit untuk menggema di telinga semesta lagi.
Kaki-kaki mungil itu tak mungkin menginjak raut wajah sang bumi lagi.
Bahagia lalu itu tak akan hinggap dalam dirinya lagi. 
Ada anak kecil yang masih tak mengerti bahagia, apa kenangan, kekejaman kenyataan dan kepingan-kepingan kesedihan yang sedang berjalan menujunya, kelak, untuk merangkainya menjadi seseorang. Ia hanya mengerti akan tawa jika dibelikan robot dan akan tangis jika tak dibelikan es krim..
Suatu hari, suatu waktu, suatu jam, suatu detik, ia bermain bersama teman-temannya, terik matahari memenuhi beberapa bagian kulitnya yang tak terlindungi baju mungilnya, tak peduli akan hitam yang hinggap di kulitnya jika terlalu lama berlindung di genggaman jemari cahaya matahari. Hembusan angin siang tak sedikitpun menghempaskan debu-debu semangatnya, aspal kering yang tergenangi oleh terik matahari tak cukup untuk menghentikan lembut derap langkah kaki kecilnya yang tak beralaskan sendal mungil.. Sore datang bersama senja yang berjalan di belakangnya. Untuk permainan terakhir kalinya sebelum ia akan kembali pulang karna matahari akan terbenam, ia memutuskan untuk bermain lomba kejar-kejaran bersama teman-temannya, siapa yang berdiri di atas batu yang berjarak sekitar 50 meter dari tempat berdirinya, dialah pemenangnya. Di tengah-tengah lomba kejar-kejarannya ia terjatuh, lututnya mencium aspal, tak ada luka, namun tangis tercipta, ia begitu mudah untuk menangis. Ia menangis memegangi lututnya yang memerah, teman-temannya mencoba untuk menenangkannya untuk tidak menangis, isak tangisnya sedikit berhenti, ia kembali berdiri, ia merasa sudah bisa lari lagi, seketika ia langsung lari, menipu teman-temannya yang masih berhenti di sekitarnya tadi, teman-temannya sedikit jengkel karna ulahnya dengan berteriak “kamu curang”, ia tidak memperdulikan teriakan teman-temannya, ia tertawa sembari terus berlari, teman-temannya ikut tertawa karna merasa tertipu dan terus mengejarnya. Kembali, kaki-kaki mungilnya membawa ia berlarian diantara bias cahaya jingga senja, menginjak-injak raut wajah sang bumi. Hanyut dalam aliran arus tawa teman-temannya, gema tawanya terdengar hingga rongga telinga semesta, nada-nadanya tersimpan di antara rerimbunan pohon-pohon tua, yang suatu saat akan di perdengarkan kembali oleh angin kepadanya.. Berhenti, ia berdiri di atas batu yang tak lebih besar darinya, dari atas batu yang ia pijak itu, ia tertawa, ia menang, ia sampai di batu pertama kalinya..
Sejenak ia beristirahat, ia merasakan capek pada kedua kakinya, nafasnya sedikit terengah-engah.. Dari jauh terdengar gema dari suara teriakan sesosok malaikat, Ibu, ia memanggilnya, ia menyuruhnya untuk pulang, karna sebentar lagi gelap akan memeluk semesta. Dari jauh ia melihat ibu tersenyum, memandang senyum ibu adalah cara ia belajar menemukan sesuatu yang lebih penting. Ia berlari kecil, kembali menapaki jalanan yang penuh akan tawa beberapa menit lalu untuk menuju tempat dimana disana cinta selalu ada, rumah. Di depan rumah sudah menunggu pria paruh baya dengan sebatang rokok di  jemarinya, ayah, dia tersenyum melihatnya yang baru pulang dengan baju yang kotor.. Senyum itu, senyum ayah, senyum yang menutup paruh harinya dengan penuh kebahagian yang tak ia sadari..
Tak sadar ia telah meletakkan potongan-potongan kecil ingatan di laci kenangannya di hari itu..
Ia adalah Aku
Dengan mudah potongan-potongan kecil itu memenuhi kepalaku, kadang aku ingin kembali ke hari itu, untuk tertawa riang tanpa beban atau menangis tanpa harus malu..

clock, jam, jam dinding, waktu
By: @zackiid (http://sczac.tumbrl.com)
Baca Selengkapnya...

25 January 2013

Musim Hujan Kali Ini

Setibanya awan berjuta-juta dari arah pegunungan
Aku dan kamu berimbun dalam kenangan
Hanya kenangan
Bibit kisah yang sama-sama kita tabur
telah lama tegak sebagai pepohonan
Namun, tak satu pun kita berteduh di sana
yang bersisa hanya rimbunan tak bertuan
Musim Hujan kali ini,
aku dan kamu masih berharap pada dedaunan
dari dahan-dahan yang berakar pada kisah
meski tak lama setelah itu,
akan bergulung-gulung ombak menghempas
menyapu semuanya
yang bersisa hanya tanah yang basah

Musim Hujan Kali Ini
Baca Selengkapnya...

24 January 2013

Aku dan Kamu

Aku dan kamu jatuh ..lalu saling cinta!
Menggambar langit sendiri menuju bintang yang berkilauan buktikan rasa
Menapakkan kaki penuh legar tawa
Menyisakan waktu untuk menggenggam remuk asa di jiwa 


Aku dan kamu jauh..lalu saling rindu!
Ketika mata terhalang oleh malam yang mendayu
Ketika telinga tertutup oleh mentari yang merayu
Ketika itu jarak menyatukan kita dalam pilu.

Aku dan kamu keruh..lalu saling benci!
Kekeringan ini membentuk gumpalan sakit melebihi tercabik duri
Kemudahan menyelusuri rongga-rongga bahagia terkunci
Kehancuran tak berujung mewancanakan arti kata caci.

Aku dan kamu meriuh..lalu saling sedu!
Sebuah kisah telah diakhiri dengan penuh sesak menderu
Walau terikat irama nada biru
Menjanjikan senja semu. 


aku kamu cinta sayang pacar

By: @zaujahmuth
Baca Selengkapnya...

20 January 2013

Pancake Philosophy

Akhir-akhir ini saya senang sekali bicara tentang Pancake. Pancake bukan kue atau kudapan favorit saya, tapi saya suka memakannya sebagai menu sarapan terutama jika ini buatan saya sendiri.

Dan berawal dari sini saya memikirkan sesuatu yang lebih manis dari Pancake yaitu Philosophy konyol atau mungkin analogy yang saya ciptakan sendiri. Beberapa follower saya di Twitter mungkin sudah pernah membaca twit saya dengan hastag #PhilosophyPancake yang sebenarnya tak lebih dari sebuah analogy terhadap kehidupan ini, maybe....

Semua saya tulis dalam Bahasa Inggris karena lebih mudah merangkai katanya, tetapi saya bukan native speaker jadi Bahasa Inggris saya kurang bagus juga.


1. Pancake is simply sweet. Never have too much, or you might hate it.

Maksud saya di sini adalah dalam hidup kita jangan menyukai sesuatu ataupun membenci sesuatu dengan "terlalu" karena apapun yang serba terlalu itu tak baik, hanya itu.


2. To get a smooth, sweet and delicious pancake, you have to add enough milk and eggs.

Untuk mendapatkan kehidupan yang baik, kesuksesan, kemakmuran, kebahagiaan, itu butuh satu perhatian khusus terhadapnya, entah perhatian itu berupa kerja keras, kegigihan ataupun ketekunan.


3. If you want to enjoy the delicious pancake, you have to enjoy the process.

Jikalau kita ingin sukses kita juga harus menikmati prosesnya.



4. It's not just about the Pancake. But it is an art of how to make, get, and enjoy it.

Sukses bukanlah permasalahannya, tetapi bagaimana cara/proses mendapatkannya dan apakah kita menikmatinya.


5. Pancake stays sweet, even though we do not like it anymore.

Hidup ini tetap indah meskipun kita tidak menyukainya, jadi apakah ada alasan tidak ingin hidup? Life is beautiful!


6. You can enjoy it! Only if you like it.

Kita bisa menikmati hidup hanya jika kita menyukai dan mengisinya dengan penuh rasa cinta (suka).


7. Pancake or waffle? I'd rather eat pancake because I like it.

Bahagia atau tidak, suka atau tidak, itu pilihan kita bukan bergantung pada orang lain.


8. Green tea is a nice companion for eating pancake.

Dalam hidup, apapun itu harus berimbang. Tidak boleh berlebihan. Life is all about balance.
Baca Selengkapnya...

16 January 2013

Sebuah Renungan; Tentang Hidup


Saya sedang merenungkan sebuah perjalanan hidup yang mungkin bisa jadi perjalanan hidup saya atau orang lain di masa depan.

Saya mungkin terlalu banyak merenung sehingga saya terkesan lebih sensitive terhadap sekitar saya. Saya merenungkan, betapa hidup ini harus dilalui dengan penuh keberanian dan tanggung jawab. Banyak orang beruntung, tetapi lebih banyak lagi yang kurang beruntung.

Yang menjadi permasalahannya adalah bagi orang-orang yang kurang beruntung jika mereka tak cerdas, tak bijaksana menghadapi ketidakberuntungannya pastilah kehidupan tak tenang yang akan mereka dapatkan. Mungkin sebagian mereka akan melakukan banyak tindak kejahatan, sebagian melakukan tindakan asusila atau hal-hal lain yang tak dibenarkan oleh norma-norma agama maupun norma yang berlaku di dalam kehidupan lainnya.

Baca Selengkapnya...

Postingan Terpopuler

Postingan Terbaru