Showing posts with label #LoveFiction. Show all posts
Showing posts with label #LoveFiction. Show all posts

02 October 2013

Cinta Setoples Rasa

Jariku saat ini sedang menari-menari. Berputar-putar, maju mundur, kiri kanan diatas papan tombol qwerty yang pasti kita jumpai di semua komputer.
Mataku sedang bertarung dengan halaman putih kosong di layar. Halaman yang menuntut sebuah cerita.
Kepala terus berusaha menafsirkan apa yang sedang ini melandaku.
Penyakit merah jambu.

Aku sedang berusaha mengungkapkan semua perasaan kecamuk ini dalam selembar entri blog. Aku tahu ini akan di publis. Aku berharap semua orang membacanya. Ikut turut merasakan kecamuk merah jambu dikepala dan hatiku.
Tapi, aku tak mau kau membacanya.
Aku takut kau tahu perasaan terselubung ini. Perasaan yang menghampiriku tak lebih dari lima jam yang lalu.
Romansa merah jambu ini membuatmu melayang-layang di balik pelupuk mataku. Tak ada namun, begitu nyata.

Beberapa hari  yang lalu aku mengutukmu sebagai sosok paling semenah-menah. Sampai sekarangpun begitu. Tapi, sedikit berbeda. Dulu kau semenah-menah memerintahku. kini kau semenah-menah menarik perhatianku. Tulariku penyakit merah jambu.
Aku terus saja mengutukmu yang kemarin selalu membuatku kesal. Membuatku mengitari tangga berkali-kali hanya demi membantumu menyelesaikan tugas. Membuatmu terhindar dari rasa lelah yang kurasakan.
Aku menganggapmu sosok kakak senior yang selalu memerintah sesuka hati.
Tanpa memikirkan orang lain. Tanpa sekali pun membayangkan berganti posisi denganku.

Aku membencimu, kemarin.
Tapi tidak untuk hari ini.
Tepatnya beberapa jam yang lalu.
Sikapmu sangat manis.
Kau layaknya anjing buas yang disuntik penenang.
Kata-katamu jauh lebih sopan dari biasanya,
Senyummu lebih bahagia dari biasanya.

Kau membuatku tenggelam dengan perasaan yang setahun ini tak pernah lagi menyambangiku.
Kau berubah menjadi sosok laki-laki hebat yang selalu kuidamkan.

Kau membuatku tersihir.
Hanya karena tiga kedipan mata kanan untukku.
Jantungku lepas dari orbit.
Lututku layu.
Aku tertunduk.
Dan tersenyum beberapa detik ditengah tundukku.


Hari dimana kau menjadi orang yang berbeda.
Cinta setoples rasa.
_________________________________________________________________


Airly Latifah.
Latifahtifa.blogspot.com


Baca Selengkapnya...

19 April 2013

MAYA




Sudah satu bulan aku tidak mengunjungi dunia maya, padahal biasanya hampir di setiap saat aku berkunjung di dunia maya. Bukan karena sibuk atau keperluan penting lainnya, aku hanya ingin menikmati dunia nyata. Aku ingin menikmati sesuatu yang benar-benar ada, yang benar-benar nampak di pelupuk mata. Aku merasa jenuh dengan kepura-puraan yang ada di dunia maya. Banyak orang menekan tombol like di jejaring sosial facebook, tapi dalam dunia nyata mereka mengejek status tersebut, bahkan ada yang menekan tombol like padahal tidak mengerti dengan isi status tersebut.
Tapi kali kini aku akan menceritakan salah satu pengalamanku di dunia maya yang merubah hidupku di dunia nyata. Kisah ini dimulai sekitar pertengahan bulan Januari lalu. Seperti pagi-pagi sebelumnya, setelah bangun tidur aku langsung menyalakan laptop dan memasang modem pada slot yang ada di laptopku dengan satu tujuan, online. Tapi ada yang aneh, pagi ini aku tak menemukan satupun pemberitahuan pada akun facebook-ku.
“Tumben, biasanya pagi-pagi begini banyak banget pemberitahuan.” gumamku dalam hati.
Aku pun berniat untuk keluar dari akun facebook-ku.  Namun tepat sebelum aku mengeklik tombol keluar, laptopku berbunyi dan menampilkan sebuah percakapan, salah satu temanku di facebook mengirim pesan padaku. Afriana Asri, nama tersebut muncul di bagian atas percakapan itu.
“Hai Arga…!!!” pesan tersebut yang muncul di jedela percakapan facebook-ku.
Awalnya aku bingung, karena seingatku tak ada teman facebook-ku yang bernama Afriana Asri. Aku mengingatnya, karena teman facebook-ku masih sedikit, dan semua adalah orang yang aku kenal di dunia nyata. Tapi, daripada tidak ada yang kulakukan, lebih baik aku meladeni dia. Cukup lama kami bercakap-cakap hal yang sebenarnya tidak terlalu penting, tapi cukup mengasikkan.
Aku bercakap-cakap dengannya sambil melihat-lihat akunnya untuk mencari tahu siapakah dia. Pertama, aku membuka fotonya, karena inilah yang paling dapat menentukan, apakah aku mengenalnya atau tidak. Aku mengeklik pada foto profilnya. Setelah terbuka, aku mengamati fotonya dengan seksama.
“Hmm, siapa ya? Kayaknya aku gak pernah lihat deh. Tapi cantik sih.” ucapku sambil mengamati fotonya dan senyum-senyum sendiri.
Untuk mendapatkan informasi yang lebih detail, akupun membuka halaman info profilnya, siapa tahu dia tetangga atau siswi satu sekolahku. Setelah membuka halaman profilnya, aku baca semua info tentang dirinya.
“Owh, anak SMU Dwi Pena juga. Tapi kok kayaknya aku gak pernah lihat dia ya.” ucapku bingung.
Setelah setengah jam kami bercakap-cakap, tiba-tiba dia offline. Jengkel juga sih, lagi asik-asiknya ngobrol, malah off tanpa pemberitahuan. Tapi tak apalah, aku juga harus bersiap-siap berangkat ke sekolah, mungkin dia juga.
***
Sepulang sekolah, aku tidak langsung pulang. Aku berdiri di dekat gerbang sekolah, berharap menemukan dia di antara puluhan siswi yang keluar melalui pintu gerbang sekolah. Namun, hingga sekolah sepi, aku tak menemukan wajah yang ada di foto yang kulihat pagi tadi. Aku segera pulang, ingin membuka facebook, berharap dia sedang online.
Sesampaiku di rumah, aku langsung menyalakan laptop-ku dan online lagi. Tapi aneh, lagi-lagi pemberitahuanku kosong. Kulihat di daftar obrolah, hanya ada satu nama yang sedang online, Afriana Asri. Aneh, tapi biarlah. Mungkin yang  lain sedang sibuk. Aku langsung memulai percakapan dengannya.
“Hai Ana… ^_^” begitulah aku menyapanya.
“Hai juga, Arga… ^_^ baru pulang sekolah ya?” dia membalas sapaanku.
“Iya nih, baru pulang. Kamu kok sudah OL? Pulang cepat kah? Atau jangan-jangan, kamu gak masuk sekolah ya?”
“Iya nih, aku lagi sakit. Makanya aku gak pergi sekolah.”
“Owh… pantesan aku gak lihat kamu di gerbang sekolah.”
“Hah? Kamu nunggu aku di gerbang sekolah?”
“Iya. Hehehe…”
“Maaf ya, bikin kamu menunggu.”
Baru saja aku ingin membalasnya, tiba-tiba dia offline lagi. Semua kejadian itu berlangsung terus menerus selama dua pekan. Tak ada pemberitahuan, hanya dia yang online, dan saat ngobrol, dia offline tiba-tiba. Satu lagi, aku tak pernah menemukannya di sekolah.
 Hingga suatu hari sebuah pesan dari dia masuk ke inbox-ku dan membuat aku terkejut.
“Arga, kamu mau gak jadi pacarku?”
Rasanya tidak percaya saat aku membaca pesan tersebut. Pasalnya, aku baru mengenalnya dua pekan yang lalu, itupun melalui dunia maya. Selain itu, yang membuat aku terkejut sekaligus senang adalah, wanita secantik dia ingin menjadi pacarku. Ini adalah hal yang sangat luar biasa untukku.
“Mau sih. Tapi, apa kamu yakin dengan ucapanmu itu?” balasku.
Dia tak membalas. Setelah cukup lama aku menunggu balasannya, tiba-tiba dia offline lagi. Aku makin bingung, sebenarnya apa yang terjadi. Apakah yang tadi dia katakan adalah benar? Apakah dia serius dengan ucapannya? Atau balasanku yang menanyakan keyakinannya tersebut salah?
Keesokan paginya, setelah bangun tidur aku langsung membuka facebook-ku lagi. Hari ini ada yang berbeda, ada satu pemberitahuan untukku.

Afriana Asri mencantumkan Anda sebagai pacarnya.
Terima ∙ Tolak

Aku sempat terkejut dan bingung. Tapi aku langsung menerimanya, aku merasa cocok dengannya. Aku juga merasa percakapanku dengannya selama dua pekan ini cukup untuk mengenal satu sama lain.
***
Sudah satu pekan setelah aku dan Ana berstatus pacaran. Tapi selama satu pekan itu juga, aku tak pernah melihatnya online lagi. Aneh, pikirku. Hal ini membuatku penasaran. Akupun membuka info profilnya dan mencari alamat rumahnya. Setelah kudapatkan, aku langsung bergegas ke rumahnya. Selama di perjalanan, aku terus memikirkannya. Apa sebenarnya yang terjadi padanya? Mengapa dia tidak pernah menghubungi aku lagi? Apa ini salahku? Atau dia yang merasa bersalah padaku? Aku semakin bingung.
Setelah limabelas menit perjalanan, aku tiba di rumahnya. Tak terlalu besar, berwarna putih, berpagar besi warna hitam. Tapi, terlihat sepi. Aku menekan tombol yang ada di sisi kiri pagarnya. Berkali-kali kutekan, tak ada satupun orang keluar dari balik pintu itu. Tak lama kemudian, ada seorang perempuan keluar dari rumah yang ada di samping rumah Ana. Akupun menyapanya dan menanyakan tentang Ana.
“Permisi bu, apakah rumah di itu benar milik keluarga Afriana Asri?” tanyaku sambil menunjuk rumah Ana.
“Oh, iya dek. Tapi, semua penghuninya pulang kampung setelah Afriana meninggal.” Jawaban ibu tersebut membuatku sangat syok.
“Me-meninggal? Kapan?” tanyaku tergagap.
“Kalau tidak salah, saat tahun baru. Dia kecelakaan saat akan merayakan tahun baru bersama teman-temannya.”
“Terima kasih infonya, bu.” jawabku seraya berbalik dan langsung mengendarai motorku menuju rumah.
Ucapan ibu tadi masih mengiang di telingaku, rasanya sungguh tak percaya. Akupun mencoba untuk berpikir positif.
“Ah, mungkin ada orang iseng yang menggunakan akunnya untuk mengerjaiku. Atau mungkin ada temanku yang merubah nama dan seluruh info profilnya untuk mengerjaiku.” pikirku.
Akupun menyalakan laptop-ku lagi dan membuka facebook-ku, berharap dia online lalu aku akan menginterogasinya.
Saat akun facebook-ku terbuka, betapa terkejutnya aku. Suatu hal yang aneh terjadi, membuatku bingung dan tak dapat berpikir jernih. Terdapat delapan puluh lima pemberitahuan dan tujuh pesan. Saat kubuka, beberapa pemberitahuan yang belum dibaca dan beberapa pesan masuk sejak tiga pekan yang lalu, tapi aku tak pernah menerima pemberitahuan dan pesan sejak tiga pekan yang lalu, kecuali dari Ana.
“Gak, gak mungkin.” ucapku.
Akupun mengetikkan nama Afriana Asri di pencarian. Aku menemukan hanya ada satu-satunya nama itu dalam pencarian. Kubuka akun itu. Benar, itu adalah akunnya, ku lihat dari fotonya. Tapi aku tidak berteman dengannya, dan aku juga menemukan pesan dinding dari beberapa temannya yang mengungkapkan rasa sedih mereka. Lalu, siapa yang kutemani mengobrol selama ini? Siapa yang menjadi pacarku selama satu pekan ini? Ternyata, pacarku di dunia maya benar-banar maya. Dia sudah tak ada di dunia nyata.

Baca Selengkapnya...

01 March 2013

Bagian Kedua, Surat yang Tak Pernah Sampai Buat Bidadari Kecil.

dan lagi, kutulis ini hanya untukmu, tuk membuktikan bahwa ku masih mengingatmu selalu, manisku..

mungkin hanya sepucuk surat ini yang bisa ku persembahkan untukmu, surat yang amat sangat jauh pentingnya dibanding impian, cita dan cintamu selama ini..

semoga segala tawa dan tangis yang menemanimu selama ini, mampu membuatmu menjadi sosok yang terbaik untuk dirimu sendiri, dan orang-orang di sekitarmu yang selalu menyayangimu..

maaf, ku tak dapat menelponmu ataupun mengirimimu sms hari ini seperti orang-orang di sana, pulsaku tak lagi mencukupi. maaf, ku tak dapat memberimu hadiah spesial hari ini seperti orang-orang di sana, hutangku sudah bertebaran di mana-mana. maaf, ku tak dapat membawakanmu makanan kesukaanmu hari ini seperti orang-orang di sana, uang kirimanku sudah habis kupakai biaya kostku. dan hanya ini yg dapat ku persembahkan untukmu sayangku..

jaga selalu senyum indahmu, setidaknya untukku yang jauh di sini, salah satu dari sekian orang yang menginginkan senyum itu selalu tersungging di bibir manismu..

andai kelak ku tak lagi berarti, izinkan aku menghiasi mimpi indahmu, menjadi bayang-bayang harimu yg ‘kan selalu membilas air matamu..

dan 27 juni
kuingin ada sebuah kebahagiaan terpancar dari bening sorot matamu. saat ku ucapkan tulus dari palung hati yang terdalam. selamat ulang tahun kekasihku..

dan 27 juni
aku masih menyayangimu di sini..

“seandainya Tuhan tak membuatmu nyata dalam hidupku, ku harap dengan sangat, agar kau tetap hadir dalam mimpi dan khayalku sampai ku yakin kau benar-benar bukanlah tulang rusukku..”


nb: #inibukancurhattapiinisurat :)
#jika anda bertemu bidadari kecil malam ini tolong sampaikan suratku yg tak pernah sampai ini.

follow : @pasirhening
Baca Selengkapnya...

22 February 2013

Surat yang Tak Pernah Sampai Buat Bidadari Kecil


Kutulis ini hanya untukmu, membuktikan bahwa aku masih menginginkanmu selalu, manisku..

Entah dengan cara apalagi yang harus kulakukan tuk mengungkapkan perasaanku. Mungkin dengan hal bodoh ini, aku bisa dengan tenang menyayangimu..

Orang-orang disana menyanyikan lagu-lagu cinta. Orang-orang disana berunjuk rasa menuntut keadilan. Orang-orang disana sibuk berdiskusi masalah politik. Orang-orang disana berpuisi mengenai kehidupan. Orang-orang disana melukiskan keindahan. Tapi, aku disini hanya ingin bersamamu bercerita tentang aku dan kau kasihku..

Sesungguhnya ku masih menginginkanmu, mengakhiri hari di tepi pantai bersamamu, menggenggam erat jemarimu, menikmati silaunya senja yang selalu terhalangi oleh gumpalan awan. Sesungguhnya ku masih menginginkanmu melalui hari di kota penat ini bersamamu, menggandengmu takkan ku lepas, menikmati hangatnya d'crepes bersamamu dengan teh kotak dari pendingin. Sesungguhnya ku masih menginginkanmu hari ini, mendekap tubuhmu mesra, ku kecup keningmu dan berbisik, sungguh ku menyayangimu selalu.. 

Mungkin tak terlintas dibenakmu tuk memilikiku lagi.. Aku sadar, ku sangat bersalah, telah gagal tuk membahagiakanmu, tak dapat membantumu tuk melupaknnya hingga kau lebih mencoba memilih yang lain..

Darah akibat ulah bodohku, airmata yang pernah kuteteskan, hal gila yang telah kulakukan, semuanya hanya untukmu sayangku.. dan bila suatu saat kau sedang sendiri, terluka, dan rapuh.. datanglah, mengadulah, bersandarlah di bahuku dan keluarkan keluh kesahmu karna ku kan selalu ada untukmu..

Aku tak butuh permaisuri dengan gaunnya yang indah. Aku pun tak butuh ratu dengan mahkotanya yang berkilauan. Tapi aku butuh kau, Bidadari Kecilku.. Terima kasih atas semua yang pernah kau berikan dan lakukan untukku. 'kan selalu ku ingat segalanya karna itu adalah kenangan terindah dalam hidupku..

Maaf bila caraku berlebihan mencintaimu. Maaf bila ku sangat menyayangimu. Maaf bila ku terlanjur mengasihimu. Karna ku hanya ingin Kau.. itu saja..

“Seandainya Tuhan tak membuatmu nyata dalam hidupku, ku harap kau tetap hadir dalam mimpi dan khayalku sampai ku yakin kau bukanlah tulang rusukku..”

nb: jika anda bertemu bidadari kecil malam ini tolong sampaikan suratku yang tak pernah sampai ini.

oleh : @pasirhening
Baca Selengkapnya...

25 January 2013

Kereta Malam



Stasiun Rawabuntu, 20.30
“Kamu udah beli tiketnya?” tanyanya seraya menghampiriku dan duduk tepat di sampingku. Tangan kanannya menyorongkan sebotol minuman ke arahku.
“Udah, kereta terakhir kayak biasanya.” Jawabku sambil menerima botol minumnya. Aku tak lantas meminum isi dari minuman berperisa teh tersebut. Aku justru memainkannya di tanganku. “Besok kamu jadi?”
Dia menyunggingkan senyum, “Kamu tau sendiri, Chik, aku udah pegang tiketnya. Gak mungkin diundur lagi.” Ia menghela nafas, “Lagian…” kata-katanya terhenti. Aku menanti sambil memandangi wajah putihnya yang kini terlihat kecoklatan.
“Lagian?” desakku.
Jemarinya menarik jari-jari kurusku, digenggamnya erat. “Semakin ditunda, aku semakin gak ingin pergi. Kamu tahu sendiri, aku harus pulang.”
Hening menyelimuti kami. Udara malam yang mengeluarkan aroma tanah sehabis hujan semakin menyesakkan rasa kami yang tak singkron pada nyata. Jemari kami semakin kuat bertaut, mengisyaratkan rasa yang tak mudah diungkap kata.
“Kamu harus balik ke sini lagi. Aku tunggu…” mulaiku dengan suara bergetar.
Cowok disampingku menoleh. Tangannya memegang daguku lalu mengarahkannya hingga kami saling menatap.
“Chika, tapi aku gak tahu kapan bisa balik ke sini lagi. Malah mungkin enggak balik. Kamu pahamkan kalo aku harus terusin bisnis Papaku di Sintang?”
Aku menggigit bibir bawahku kencang. Berliter-liter air yang terproduksi di belakang bola mataku mendesak ingin keluar. Aku mati-matian menahannya. Sungguh, aku tak ingin menangis di hadapan dia…
“Sempetin Dion…” pintaku. “Atau kalo emang kamu gak bisa, tolong bilang sama aku sekarang bahwa aku harus berhenti seperti ini ke kamu. Supaya aku menghentikan semua kegilaanku sama kamu. Tolong Di… aku butuh itu untuk ngebenci kamu…”
Dion merangkul bahuku, “Sungguh, saat ini yang aku mau hanya bersama kamu, Chik. Gak tau sampe kapan…” dikecupnya keningku.
“Pengumuman, kereta api commuter line tujuan akhir tanah abang akan segera tiba di Peron satu.”
“Ini kereta yang mau kamu naikin, Chik?” tanya Dion. Tangannya membebaskan bahuku dari rangkulannya.
“Iya.” Aku menarik lagi tangan Dion. Menggenggamnya dan mengamatinya, mungkin untuk yang terakhir kali.
Tangan kanan Dion yang bebas mengacak-acak rambutku. “Besok kalo harus nunggu kereta sendirian, kamu gak usah kangen aku ya…” pesannya sambil menyunggingkan senyum.
Well, aku gak bakal kangen. Paling mataku iseng noleh kesamping terus.” Jawabku nyengir.
Dion terkekeh dan mendorong kepalaku lembut. “Dasar sakit jiwa.” Ledeknya.
Tak berapa lama kemudian dari kejauhan tampak lampu kereta commuter line menyoroti tempatku dan Dion duduk. disusul dengan pengumuman jika kereta tujuan akhir Stasiun Tanah Abang sudah datang.
“This is the time… I have to go home.” Lirihku menatap Dion.
Dia memegangi tanganku, “Hati-hati, ya. Sms aku kalo udah sampe.” Pesannya.
Kuarahkan tangan Dion ke dahiku. Kebiasaanku ketika akan berpisah dengannya. Kemudian berlari ke dalam kereta yang tak terlalu penuh oleh penumpang. Pintu otomatis kereta mulai menutup dan kaleng mahal ini perlahan melaju meninggalkan stasiun Rawabuntu. Mataku masih bersitatap dengan mata sayu Dion hingga kemudian sosok yang kusayangi itu berbalik dan menyisakan punggungnya untuk mataku. Aku masih terus memandangi tempat Dion berdiri hingga tak bisa kulihat lagi.
Kereta melaju semakin cepat, membawaku menjauh dari Dion. Kupejamkan mata, memohon dalam hati pada Tuhan supaya akan ada lagi masa dimana aku bisa menemukan senyum dan lambaian tangan Dion di luar kereta.
Semoga…
cerita cinta fiksi kereta malam
Baca Selengkapnya...

17 December 2012

#LoveFiction: LUPA



 “Lo pulang sama siapa?” tanya Denis atau lebih tepat disebut menodong.
Ulin mengatur nafasnya yang tersengal tiap berhadap dengan makhluk songong namun diam-diam ia sukai itu.
“Sendiri.” Jawabnya berusaha sebiasa mungkin.
“Gue anter ya.”
“Hm… makasih, tapi gak perlu.” Tolak Ulin halus tapi makhluk ganteng didepannya ini bukan tipe mudah menyerah, cukup ngeyel malah. Jadi, ia telah bersiap membuka mulut untuk mencoba mengajak Ulin pulang bersamanya lagi. Namun, sebelum niat itu terlaksana, satu tangan kekar berwarna kecoklatan dengan dihiasi sedikit bulu-bulu halus telah memegang lengan Ulin. Bukan hanya memegang tapi juga mencengkram.
“Sori, Den, Ulin pulang sama gue, Pras dan Ava. Tadi kita udah janjian mau nonton, tapi si Ulin malah lupa makanya gue susulin kesini.” Cerocos Leno, sahabat Ulin sejak TK yang tak mempedulikan kekecewaan tergambar jelas di wajah Denis.
“Gue boleh ikut kalian nonton? Gue yang traktir deh.” Pinta Denis. “Hari ini anniversarrynya LUPA, jadi khusus anggota LUPA aja.”
Kemudian, setelah menyentak pelan lengan Ulin, mereka berlalu meninggalkan Denis yang terpaku memandangi punggung Ulin. Hatinya perih sekali…
JJJ
“Lo jahat!” cetus Ulin ketika mereka telah sampai tempat parkir dan jauh dari Denis. Ava sudah pergi duluan ke XXI di Supermall Lippo Karawaci bersama Pras untuk memesan tiket bagi mereka berempat.
“Lin, gue bukan jahat, tapi ini demi elo juga.” Ujarnya kalem sambil membuka pintu mobil Starlet putih miliknya. “Kalo terlalu dekat sama Denis, nanti lo bisa jatuh cinta sama dia. Itu bahaya, Lin… setidaknya untuk sekarang.”
‘Udah jatuh cinta duluan gue!’ umpat Ulin dalam hati.
JJJ
Denis berdiri dengan wajah garang didepan kelas 2IPS2 menghadang laju Leno, Ava dan Pras.
“Apa-apaan nih?” tanya Leno tak senang.
“Gue mau bicara sama lo bertiga sekarang juga.”
“Tentang apa?” sahut Ava lembut.
“Ngomong tinggal ngomong. Susah bener.” Sungut Leno.
“Sabar dong, Len.” Kata Pras. “Kita ngobrol di kantin kalo lo mau. Mumpung jam masuk juga masih lama.” Tawar Pras bijak yang langsung di iyakan oleh mereka.
 Denis menatap mata para sahabat terdekat Ulin itu lekat-lekat. “Ada apa sama Ulin?”
Tiga sahabat itu saling pandang, “Emang Ulin kenapa?” tanya Ava khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada Ulin.
“Ulin baik-baik aja, dia lagi on the way ke sekolah kok sekarang.” Pras menjawab dengan tenang.
Denis terlihat frustasi, kemudian ia menghitung sampai tiga dan akhirnya berkata, “Gue kemarin nembak Ulin.” Mulainya. “Tapi, Ulin nolak dengan alasan yang sama sekali gak jelas. Dia bilang kalo dia gak mau ngekhianatin elo bertiga. Gue mohon, jelasin duduk perkaranya sama gue. Sekarang.”
Ava dan Pras menatap tajam pada Leno yang mendengus pada Denis, “Ulin emang gak suka kali sama lo.” Ujarnya ketus.
Dengan raut penuh rasa bersalah, Ava bersuara, “Gini Den… kita punya perjanjian KONYOL gagasan Leno.” Ava sengaja menekan bagian kata Konyol. “Sebelum selesai UAN, kita gak pacaran. Itu perjanjian LUPA namanya. Leno, Ulin, Pras, Ava.
.“Sebenarnya, Ulin suka sama lo, Den. dia pernah cerita. Tapi lo tau sifat Ulin gimana kan? Sama janji yang udah dia buat, gak gampang bagi dia untuk dibatalin gitu aja.” Tambah Pras.
Denis tersenyum.
“Oke, semua jadi lebih jelas buat gue sekarang. Thanks ya.” Ujar Denis tulus lalu bangun dari duduknya.
“Kalo emang lo beneran suka Ulin, lo pasti gak keberatan buat nunggu Ulin. UAN sebentar lagi, kok.” Kata Leno tanpa menatap Denis.
Denis Cuma tersenyum mendengar kalimat Leno. Cowok itu sudah tau apa yang harus ia lakukan. Setelah berterima kasih pada Leno, Ava dan Pras, Denis bergegas kembali kekelas.
JJJ
Aku udah tau masalahnya, aku juga udah tau kamu suka juga sama aku. Jadi, aku rasa gak ada masalah lagi. Aku akan nunggu kamu hingga batas perjanjian itu berakhir. Aku sayang banget sama kamu, Lin… -Denis.’
Baca Selengkapnya...

Postingan Terpopuler

Postingan Terbaru