Showing posts with label #cinta. Show all posts
Showing posts with label #cinta. Show all posts

03 January 2015

Berharap pada Waktu

Di kala pagi menjeratku dengan sebuah kenangan
maka sesak yg mulai ku rasa
Cerita cinta yg tak pernah usai
mulai merangkum berbagai pertanyaan
Entah sekuat apa ku harus berdiri
pada sebuah kenyataan
Kamu yg kini entah dimana
membuatku kesal menjalani kehidupan
Sekian lama ku gantungkan asa ini
Berharap kan ku temukan kepastian
Namun jika kamu tak pernah datang menjamah hati ini,
jiwaku tetap saja terbuai oleh angan-angan
Berapa lama harus ku tunggu dirimu ?
Berapa banyak lagi waktu yg harus ku habiskan
untuk sebuah ketidakpastian ?
Ku harap kamu segera mengerti
dan menyelesaikan cerita ini



By : Rina Maniez






Baca Selengkapnya...

28 December 2013

bila akhirnya kecewa

sebuah kisah cinta yang mungkin belum usai. kau dan aku, kita kembali memulai. tapi bukan pada saat sendiri.
kau telah dengannya, yang kemudian aku datang dalam hidupmu. aku salah? ya aku salah, bahkan aku merasa berdosa sekalipun. harusnya aku tutup pintu hatiku dengan rapat saat kau mengetuknya, hanya untuk sekedar menyapanya. terjebak dalam cinta segitiga, ya.
dan kau dihadapkan pada pilihan.
kau tahu, jauh di dalam hatiku, yang kurasa hambar dalam dirimu. cintamu tak lagi untukku, aku hanya kenanganmu, yang kau ingin mengulangnya. ingin menebus salahmu yang lalu, tapi itu bukan cinta. kau bersikukuh, akulah cintamu, akulah masa depanmu.
sikapmu melukainya, wanita yang sebenarnya kau cinta, tanpa kau sadari. dan sikapmu pula yang membuatku juga melukainya. akupun terluka.
tudingan ibumu, tentangan ibumu padaku. tapi kau selalu berkata, "tak apa, ibu akan menyukaimu".
tahukah kau, sejak dulupun ibumu tak pernah menyukaiku. aku bisa apa?
kemudian kudengar terucap darimu, kau ragukanku.
runtuh pertahananku, aku terluka lagi, bahkan lebih dari tolakan ibumu padaku.
bila tak ada lagi percaya, untuk apa kau bertahan? akhirilah aku. selesaikan kita.
masih aku mencoba bertahan, yang aku sendiri tak tahu untuk apa, aku hanya percaya padamu. ya, itulah ketololanku, bahkan dengan gamblang kau nyatakan itu didepanku.
dan pagi ini, tangis menetes lagi, aku ingin menangis sampai aku tak lagi bisa menangis. karena didepanmu aku tak ingin menangis. bukan karena janjiku padamu, tapi karena aku ingin menunjukkan padamu, aku bisa.
bahkan ketika akhirnya adalah kecewa, aku bisa tersenyum padamu.
Baca Selengkapnya...

07 December 2013

Harus berapa kali kubilang bahwa aku mencintaimu

Gadis itu terdiam kuyu. Aku tahu banyak hal  yang ia alami belakangan ini. Di samping ranjang putih berbahan besi. Dadaku semakin teriris melihatnya tertidur tanpa daya. Entah harus bagaimana cara agar dia kembali pulih. Tertawa bersamaku, menyuguhkan kopi terenak buatannya, dan bahkan jika dia harus merepotkanku dengan aturan-aturannya. Apapun itu asalkan ia bisa tersenyum sehangat minggu kemarin.

Dia gadis yang cantik. Clarisa, matanya cokelat gelap dengan kulit putih. Kami berbeda agama. Tapi itu tak pernah menyurutkan perasaanku padanya. Bahkan aku sendiri tak tahu, mungkinkah ada hal yang mampu menyurutkan perasaanku padanya. Aku selalu melihat cerahnya salju di dalam tatapan matanya.

"Apa yang kau lakukan disini?" Clarisa bangun dari tidurnya. Lagi-lagi dia menolak kehadiranku.
"Aku selalu datang. Tak pernah tidak!" jawabku tegas.
"Tapi, sudah kukatakan kau tak perlu datang. Tak ada yang mengharapkanmu." jawabnya sinis.
"Aku tahu kau membutuhkanku!" suaraku sedikit meninggi.
"Tidak sama sekali! Ada ayah dan ibuku. Aku tak membutuhkanmu." Clarisa enggan menatapku.
"Kenapa kau menghindariku?" tak ada yang terdengar. Clarisa enggan menjawab pertanyaanku. Seolah ia lumpuh berbicara.

Hari ini sudah genap dua minggu ia terbaring lemah di rumah sakit. Dan terhitung lima hari sudah dia tak mau menemuiku. Aku sendiri tak tahu apa alasannya. Dia menghindariku. Padahal masih teringat dengan jelas di memoriku. Sebelum tubuhnya tergulai seperti ini akulah orang yang dipeluknya. Akulah yang ia teriaki bantuan.
Sikapnya berubah lima hari terakhir. Semua penjenguk ia terima, sekali lagi terkecuali aku.

Sore itu aku berniat memperjelasnya. Aku tak ingin dia pergi dalam keadaan membenciku.

Langkahku sedikit ragu memasuki ruangannya. Sempat beberapa kali aku ingin mundur teratur. Tapi, aku yakin hanya pengecut yang akan melakukannya.
"Kenapa kau menghindariku?" aku menatapnya. Kali ini dia menatapku. Walaupun hanya sepersekian detik.
"Kenapa kau harus memperhatikanku?" balasnya.
"Kau konyol!" makiku, dia selalu pintar untuk mengalihkan pertanyaan. "Kau tahu aku mencintaimu!" lanjutku lagi.
"Kenapa kau mencintaiku?" Clarisa perlahan menunduk. Aku tahu suasana hatinya semakin teriris sekarang. Aku tahu dia menyembunyikan sesuatu dariku.
"Kumohon! Harus berapa kali kukatakan bahwa aku mencintaimu!" Clarisa terisak pelan. Menghapus airmatanya cepat. Ia tak ingin terlihat lemah dihadapanku. Akan selalu begitu.
"Apa maumu?" tanyanya dalam keadaan masih terisak.
"Aku mencintaimu! Sudah berapa kali aku mengatakan itu. Kau sudah mengetahui itu dengan pasti. Bolehkan aku mengetahui perasaanmu padaku?" tanganku mencoba meraih tangannya yang lemah.
Pipinnya semakin menirus. Wajahnya semakin pucat. Dia akan semakin lemas.
"Aku tak bisa melakukan apa-apa! Apa yang kau harapkan dariku!" suaranya masih dalam keadaan terisak. "Kau tahu, aku membutuhkan jantung baru! Setidaknya jika aku pergi. Kau akan merasa lebih baik." dia menunduk.
Kucoba menyentuh pipinya. "Aku mempertanyakan perasaanmu."
"Aku yakin, kau tahu perasaanku. Aku juga mencintaimu. Tapi, perasaan ini tak akan pernah berarti sebelum aku menemukan jantung baru. Dan, ketika aku gagal menemukan jantungku, kuharap kau mampu menghapus rasa ini."
"Bertahanlah, demi aku!"
"Demi cintamu." Clarisa tersenyum sebentar.

Yah, dialog itulah yang terngiang dalam benakku. Sangat jelas. Kini semuanya tinggal kenangan. Hari ini, tepat empatpuluh hari kepergianmu, Clarisa.
Setidaknya aku tenang karena telah mencintai orang yang tepat.

Dari bilik rindu akan dirimu
Airly Latifah
AirlyLatifah.blogspot.com 
Baca Selengkapnya...

19 November 2013

Long Distance Relationship

Kau tahu hubungan jarak jauh ini terasa sangat berat bagiku. Kenapa tidak? Kau ada di sana. Dan, aku ada di sini. Terlebih hebat sulitnya saat kau tak mengabariku.
Jawabanmu beragam mulai dari ketiduran, kuliah, kerja tugas, sibuk, hingga sakit.
Hubungan ini berjalan sangat lama saat kau jauh. Tapi, saat kau pulang untuk dua hari. Rasanya sangatlah cepat. Bagaikan roket yang sudah tak sabar mengikis atmosfer menuju bulan. Sungguh, berlalu seperti kilat.

Kautahu, hari ini kau juta tak ada kabar. Yah, sama seperti kemarin saat aku meminta penjelasanmu yang mereject teleponku. Kau tak menjawab. Tapi, ponselku bilang kau membacanya. Aduh, kau sibuk dengan lukisan dan gambaranmu. Sedangkan aku sibuk dengan tulisanku.
Tulisanku semua ini tertuju untukmu. Dan, kuharap semua gambaran dan lukisanmu juga kau tujukan untukku.

Malam ini, tak satu pun pesan singkatmu menyapa ponselku. Apalagi panggilanmu. Huhhh.. Aku tak tahu kau sedang sibuk dengan apa hari ini, juga kemarin.
Kita terbentang sebuah jarak. Jarak yang rasanya ingin kubunuh tiap malam menyapa jidatku.

Aku ingat betul hari kemarin. Kau menemaniku hingga tertidur dari ujung telepon. Kita sama-sama tertidur, kita kelelahan karena kau sibuk dengan kehidupanmu. Sedangkan, aku sibuk dengan kamarku. Hahhaha, aku hanya bermalas-malasan seharian kemarian. Kamu tahu aku, kan. Mandi saja terkadang aku berfikir dua kali.

Kau, lelaki ujung teleponeku. Sosok penggerutu yang banyak aturan. Sebenarnya kau tak mengaturku, lebih tepatnya kau mengajarku. Kau memang aneh. tapi, itulah magnetmu. Aku kutub utara dan kau selatan. Sempurna!
Hari ini, jariku ingin menari.
Dan lagi-lagi lagunya kau.
Semua hal dalam tulisanku memang untukmu, si pemilik kumis tipis.

Kau kuliah. Sedangkan, aku dalam masa putih abu-abu.
Kau selalu tahu caranya membuatku tersenyum.
Jarak memang memisahkankan kita.
Membentangkan kita dalam sebuah harapan, rasa rindu, kekecewaan, kecemburuan dan bla.. bla.. bla..
Sangat banyak rasa. Melebihi goyangan lidah saat menyantap Nano-Nano ataupun Gado-gado special.

Aku di sini, menunggumu...
Selalu begini, aku menunggumu pulang ke kota kita. Makassar, Sulawesi Selatan.
Karena aku tahu, kau adalah sosok yang pantas untuk kutunggu dengan kesetiaan perasaan ini.

"Saat kaumenjalani sebuah hubungan. Pastikan apakah pasanganmu adalah sosok yang pantas kautunggu, dan pantas untuk kau beri kesetiaan."



Sayang? Bolehkah aku mengganti nama istilah hubungan ini.
Aku lebih menyukai "Long Distance Love" dibandingkan "Long Ditance Relationship"
Kau ingin tahu kenapa?

Karena Relationship itu berarti hubungan. Semua orang juga tahu!
Tapi, coba telaah.
Bukankah berteman itu sebuah hubungan?
Bukankah bersahabat itu sebuah hubungan?
Bukankah hoby itu adalah sebuah hubungan?
Bukannya bermusuhan juga adalah sebuah hubungan?
Lalu, apa specialnya hubungan?
Sekarang, aku balik pertanyaannya!

Apa Specialnya cinta ( Long Distance Love )?
Dari bilik rindu
Airly Latifah
  Airlylatifah.blogspot.com
Baca Selengkapnya...

07 November 2013

Kau Adalah Apa Yang Kutulis

Masih terpatri betul di pikiranku, saat di mana bakat ini belum kutemukan. Menulis banyak hal bodoh di halaman blogger. Tanpa mimpi, harapan, ataupun cita. Menulis blog karena malas menulis dengan pena.

Lalu.. kau hadir dengan sepatah kata yang kini sangat berarti untukku. "Terus menulis yah, Dek!" untuk pertama kalinya di saat itu. Aku merasa telah melakukan sesuatu.
Di jenak yang sama, setelah hantaman dan tampungan sakit sepergiannya. Sosok yang meninggalkanku tanpa sebab. Sembunyi dari kenyataan yang membuatku teriris.
Luka yang menjalar lebih cepat dari sulur.
Kau datang. Memotong sulur itu.
Menutup lembaran kusam yang kuanggap hari. Kau datang, menulis sesuatu yang baru.

Kau..
Kau adalah apa yang kutulis..

Banyak orang menafsirkan perasaan cinta, sebagai hal yang menggebu-gebu. Pembakar semangat. Deg-degan. Tapi, entahlah. Aku sendiri belum mengetahui jawaban sempurna untuk itu. Tuhan menciptakan perasaan ini untuk diecap. Tanpa terkecuali.

Kau tahu..
Aku menulis..
Terus menulis..
Untukmu..
Karena kau adalah apa yang kutulis..

Aku melihatmu di balik semua lagu cinta.
Aku membacamu dari setiap puisi cinta.
Aku merasakanmu di setiap senja.

Kamu...
Sosok dengan tawa bebas tanpa beban. Walaupun kutahu kaumenampung beban yang cukup memberatkan.

Ada empat waktu yang paling kunikmati di dunia ini.
Dimana kanguru mengantongi bayinya.
Awan tebal yang hadirkan hujan di balik panasnya mentari.
Suara kok-kokkan yang tak pernah lupa riuhkan subuh.
Dan masa dimana kau berada di sisiku.



Dari bilik rindu
Airly Latifah
Latifahtifa.blogspot.com
Baca Selengkapnya...

02 November 2013

Aku dan Kamu Atau Kita

Aku menyimpan sebuah rasa. Rasa yang sering di sebut Romansa merah jambu. Tanganku memegam setangkai mawar cinta. Mawar yang indah tanpa duri. Aku mencintaimu. Hanya saja kau tenggelam pada hati yang berbeda.

Cinta tak pernah mengenal siapa. Kepada sosok yang berpasangan atau sendiri. Hanya saja aku memupuk sebuah cinta. Cita pada sosok yang memiliki pasangan. Cintaku tak tertolong. Hati ini diselubungi rasa sayang padamu. Sosok yang selalu tertawa penuh seloroh. Kau yang selalu membuatku berdecak kagum dan bertingkah aneh. Wanita cantik yang bertabiat sederhana.

Kendaraan saling serobot. Saling mendahului. Ohh.. Andai saja aku mampu menyerobot hatimu. Blouse kelabu itu selalu membuatku berdecak kagum. Warna kulitmu menyala dibalik baju itu. Kulitmu putih. Kulitku sawo matang. Beberapa orang mengatakan kita berjodoh. Tapi, kau hanya tertawa. Menganggap itu lelucon. Dan aku di sini tersenyum, dengan khidmat menjadikan  itu Do'a.

Angin pantai itu memainkan anak rambutmu. Rambutmu terurai sepangkalan paha. Kau lebih cantik dari pada tokoh Rapunsel. Rasa panas ini selalu menyelubungiku. Saat orang itu datanh. Berdiri tepat di sampingmu. Memeperbaiki anak rambutmu yang berlarian tak karuan terhantam angin. Aku tertunduk. Tertunduk penuh cemburu.

Matamu indah. Sangat indah. Mata hitam legam itu membuatku semakin mengagumimu. Kau tak pernah berusaha menutupinya dengan kacamata. Matamu bulat. Pupilmu besar. Pipimu tembam. Kau luar biasa. Jikalau kau bersediah menemani hari-hariku. Kan kucium pipi tembam itu setiap pagi. Tapi, kau lagi-lagi memilih lelaki itu.

Pernah sekali aku melihatmu dengan langkah terseret-seret. Kau sangat lelah. Pekerjaanmu menulis puluhan naskah drama setiap bulannya. Kadangpula membuatmu kepayang. Saat ide itu tak dapat kau gali. Kau akan menghela nafas kesal. Aku sangat mengenalimu. Kau ingat? Masa pertamamu diangkat sebagai penulis naskah drama. Kau meloncat-loncat kegirangan. Dan kau berkata padaku bahwa kau akan membuat semua pentas drama di panggung ini sukses. Kau tersenyum bahagia. Aku ikut bahagia. Hanya saja, kebahagian itu tak dilengkapi dengan beberapa detik pelukan hangat. Ahh... Kita hanya berteman.

Aku tak pernah bisa mengalihkan pandanganku padamu. Pada mata berpupil besar itu. Kau terlalu indah untuk tak di tatap. Andai saja ada bidadari yang turun kelangit. Aku tahu alasannya apa. Yah, Alasannya kaarena dia merasa tertukar tempat denganmu. Sungguh. Aku memendam cinta yang lebih tinggi dari gunung tertinggi di dunia.

Pernah pula dengan mata berbinar. Kau menceritakan tentang dia. Tentang pria pilihan hatimu. Andai saat itu aku tak mampu mengontrol diri. Mungkin saja kau dapat membaca dengan sangat jelas sakitku. Sakit yang tumbuh menjalar karena cemburu. Cemburu yang lebih tajam dari sembilu. Ahh.. Lucu memang. Kau bukan pacarku. Lalu mengapa aku cemburu? Cinta ini tak pernah mengenal pada siapa. 

Belum puas aku melamunkanmu. Ponselku bergetar meminta perhatian. "Ayana" Kau memanggilku? Ada apa ini? 
Suaraamu terdengar sedikit parau. Tanpa ba-bi-bu aku meminta izin bertemu langsung denganmu. Satu hentakkan kutarik jaketku. Meninggalkan ruanganku. Ruangan yang penuh akan dirimu. Mejaku bertatakan fotomu candidmu. Sapu tanganmu yang kubercaki darah pun masih utuh tanpa tercuci di meja. Seluruh ruangan ini di penuhi poster. Poster wajahmu. Wajah yang kuambil dan kucetak dari foto akun jejaring facebookmu. Semua hal tentangmu. Sudahku katakan. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.

Kau menangis. Karenanya. Lelaki pilihanmu. Aku tersenyum penuh kemenangan. Dia menduakanmu. Untuk pertama kalinya kau memelukku.
Dan hari ini aku benar-benar merasa aku dan kamu akan berubah menjadi Kita.




Dari bilik rindu akan kebersamaan kita
Airly Latifah
Latifahtifa.blogspot.com

Baca Selengkapnya...

21 September 2013

Tanya hatimu

" Apakah bedanya cinta dengan ketertarikan sesaat? Apakah bedanya benar-benar ingin bersama dengan hanya sekedar takut sendirian? tanya hatimu. "

Apa yang membedakan cinta dengan ketertarikan sesaat?
Ketertarikan sesaat? Pernahkah kau mendengar bahwa cinta itu datang dari mata turun kehati? bagiku tidak. Yang datang dari mata turun kehati itu bukanlah cinta melainkan ketertarikan sesaat. Ketertarikan dimana kau ingin memilikinya. Seperti kau sedang melihat gadget android baru atau blackberry Z30 terbaru? itu yang kusebut dengan ketertarikan sesaat. Lantas setelah kau memilikinya? mungkin kau akan bertahan sampai dua tahun dengannya. Selanjutnya kau akan tertarik dengan BB atau Android keluaran terbaru untuk kesekian kalinya. Lantas apakah itu yang disebut dengan cinta? Apakah cinta itu artinya tertarik lalu bosan?
bagiku bukan, Contoh cinta yang paling sederhana adalah 'Orangtua' Dimana kau tak bisa memilih ayah dan ibumu. Dimana kau tak bisa memilih kecantikan atau ketampanan ibu dan bapakmu. kesempurnaan mereka, kekayaan mereka, dan pekerjaan mereka. Itulah cinta, dimana saat kau tidak pernah berfikir untuk menggantikan mereka dengan orang lain. Pernah berfikir jikalau ibumu meninggal dan ayahmu akan menikah lagi, sekalipun calon ibumu sangat cantik dan sangat kaya. banyak diantaramu pasti akan berkata "Tidak" yah, karena kau telah mencintai ibumu. Dan kau yakin tak akan ada yang pantas mengantikan posisinya. itu yang ku anggap perbedaan cinta dan ketertarikan sesaat.

Lalu... Apakah bedanya benar-benar ingin bersama dengan hanya sekedar takut sendirian?
Takut sendirian? Pernahkah kau sangat ingin buang air kecil lalu dalam sekejab kau ketakutan dengan lampu yang sama sekali tak menerangi?. yah itulah yang disebut dengan takut sendirian?. Ataukah takut sendirian yang dimaksud disini adalah takut jomblo dan menerima banyak sindiran tweett dan retweet di twitter oleh akun anonim? atau bahkan temanmu sendiri?. Takut sendirian hanya butuh teman. kau tak butuh kekasih kenapa? karena kekasih tak untuk digonta-ganti atau diperbanyak seperti teman.
Sedangkan, Benar-benar ingin bersama? Pernahkah kau sedang berada disuatu tempat yang paling indah didunia ini dengan keluargaamu? lalu kau merasa ada yang kurang. Kau merasa tak lengkap jika tak ada kekasihmu disana? atau siapapun yang akan membuat harimu indah. yah itu lah yang disebut dengan benar-benar ingin bersama. Singkat katanya seindah apapun tempat itu, Seramai apapun tempat itu, Semewah apapun tempat itu. Kau akan merasa lebih bahagia jikalau bersamanya sekalipun itu hanyalah dirumah makan sederhana.


Lalu, setelah kau puas dengan jawabanku.
Ku ingin kau menemukan sendiri jawaban dari pertanyaanku ini.
" Selama ini apa yang kau rasakan, Mencintai karena butuh? atau Butuh karena mencintai? "
 Lalu..
" Apakah Daun gugur yang meninggalkan pohon atau Pohon yang menanggalkan daun ? "
Sekali lagi tanya hatimu...

___________________________
Nurul Latifah Nurdin
Latifahtifa.blogspot.com 
Baca Selengkapnya...

20 August 2013

Pelabuhan Terakhir

Sejenak aku berfikir tak bisa berhenti mencintaimu, Dirimu yang selalu sempurna dimataku. Dirimu yang selalu bertingkah cerdas dan membuat jutaan decak kagum. Aku selalu berharap menjadi dambaanmu. Seperti kata-kata manis yang selalu kau lontarkan " Kau yang terbaik untukku, Kau yang terindah untukku. " Namun kini kata-kata itu hanyalah racun. Racun yang membuatku terlempar pada dasar jurang yang paling dalam. Racun yang membuatku tercekik oleh kekecewaan. Sungguh kau hanyalah kenangan pahit masa lalu. Yah, Kenangan pahit yang sangat menjenuhkan, mengingat kau meninggalkanku tanpa sepatah katapun. Dan saat kau menatapku saat ini kau merasa sama sekali tak bersalah.

Aku tak selemah yang dulu, Tak lagi. Sama sekali tidak.
Aku jauh lebih baik dari pada yang pernah kau kenal sebelumnya.
Telah kutemukan orang yang lebih darimu. Bukan karena hebatnya, bukan karena banyaknya pemujanya tapi karena caranya mencintaiku lebih dari yang pernah kuimpikan.
Ku tahu dia bukanlah orang yang sangat tampan. Dia bukanlah putra kerajaan. Dia bukanlah jelmaan malaikat. Tapi dialah yang bisa menedukan kekeruan kekecewaan yang pernah kau tumpah didasar hatiku.
Oh. Kutahu Tuhan tak buta, Kutahu Tuhan menyimpan naskah bahagia untukku. Untuk kami.

Sedetik yang lalu kupikir tak akan ada yang mampu meneduhkan kerinduanku akan cintamu. Tapi sedetik kemudian dirinya hadir. Tawarkan tawa yang lebih lepas. Tawarkan air yang lebih jernih. Tawarkan hari penuh kebahagiaan. Tawarkan pengorbanan yang tak kenal jenuh.

Sudah kupastikan, Tuhan telah menciptakan pertemuan yang lebih baik dibalik perpisahan yang kau torehkan.
Selama tinggal Pelabuhan seberang. Selamat menetap Pelabuhan terakhirku.

Dari Cinta yang pernah kau hempaskan.


Makassar, 20 Agustus 2013 ( Nurul Latifah Nurdin )
Baca Selengkapnya...

06 August 2013

Monolog Malam

http://photo.net/photodb/photo?photo_id=7824656
Untuk apa kamu terlalu perhatikan rasamu
dengarkan yang logikamu katakan
kamu tak sungguh mencintainya
kamu tak benar menginginkannya
kamu hanya terhanyut sesaat
kamu sedang mabuk aroma tubuhnya
: kata malam yang berpihak pada logika

Apa menurutmu dia peduli dengan rasamu?
Seberapa pentingkah kamu untuknya?
Pernahkah hatimu memikirkan itu?
: tanya malam yang masih membela pikiranku


Aku terdiam
diam-diam membenarkan malam

Follow me: @SicaPermata
Visit me: jesspermatasari.blogspot.com
Baca Selengkapnya...

01 June 2013

Tentang Rasaku



Bila mana senja telah menenggelamkan cahaya mentari,
aku mulai resah melewati petang tanpamu.
Aku ingin sebentar saja bertemu denganmu
sebelum malam datang menyiksaku dengan kerinduan.
Betapa telah lama aku menyimpan rindu ini.
Namun kau tak pernah datang menemuiku.
Masih melekat di benakku
ketika kau pergi bersama mimpi-mimpimu.
Bahkan aku serasa masih mendengar
derap langkahmu yg kian menjauh.
Sesaat sebelum kau pergi, kau kecup keningku
dan kau berkata bahwa kau akan kembali
dengan membawa cinta kita.
Namun mengapa hingga kini kau tak kunjung datang?
Apa kau telah lupa dengan janjimu?
Berapa lama lagi ku harus menghabiskan waktu
untuk menunggu kehadiranmu?
Aku telah melewati tiga kali pergantian musim tanpamu.
Aku semakin gelisah karena tak pernah ada kabar darimu.
Apa lagi yg bisa ku harapkan darimu?
Mungkin di seberang sana, kau terlalu gembira
dengan mimpi yg telah berhasil kau wujudkan.
Hingga tak pernah kau beri kabar padaku
yg selalu setia dalam penantian.
Mungkin sebaiknya ku kikis saja harapanku.
Biarlah aku menelan kepahitan dustamu.
Karena aku tak ingin lagi merasakan sakit ini.


By : Rina Maniez
@rina_maniez on Twitter
Baca Selengkapnya...

28 May 2013

keegoisanku

aku memang egois. ya, memang.
aku ingin kau tersenyum karenaku.
aku memang egois. ya, benar.
aku ingin kau sejenak melihatku.
aku sungguh egois.
aku ingin kau melupakannya. dapatkah kau?
aku ingin kau berhenti berdiri dibalik bayangnya.
aku ingin kau bahagia, tapi tidak dengan yang kau lakukan kini.
aku menangis, aku terluka,
bukan hanya karena bayangnya yang masih kau ikuti.
aku tak ingin kau seperti ini.
dapatkah kau berhenti?
takkah kau lihat aku disini?
dapatkah kau berpaling darinya?
meski bukan aku, dapatkah kau?
Baca Selengkapnya...

24 May 2013

Jika



Jika saja kita tak pernah  bertemu,
mungkin aku tak akan mengenalmu.
Jika saja kita tak saling bertegur sapa,
mungkin tak kan pernah ada perbincangan antara kita.
Jika saja kau tak pernah memberiku perhatian,
mungkin aku tak kan merasa suka.
Jika saja ku tau bahwa mencintaimu
adalah suatu kesalahan,
mungkin aku akan mengabaikan perhatianmu.
Ahh.. lelah..
Payah sudah ku memikirkanmu.
Mencintaimu bagai menyatukan medan magnet yg sama jenisnya.
Kita tak pernah bisa bersatu.
Tak pernah ada kesamaan antara kita.
Aku selalu mengalah atas dirimu.
Namun kau tak pernah menganggapnya.
Selalu aku yg kau salahkan
setiap kali terjadi pertengkaran dalam hubungan kita.
Apapun yg ku lakukan, tak ada artinya untukmu.
Aku sempat putus asa,
ingin rasanya segera ku akhiri ini semua.
Mungkin kau melihat senyum terkembang di wajahku.
Namun kau tak pernah tau bahwa jauh di lubuk hatiku,
aku merasakan kepahitan yg teramat dalam.
Taukah kau bahwa itu semua karena sikapmu?
Itu semua karena kau yg kurang mengertiku.
Kau selalu ingin  di mengerti,
Namun kau tak pernah lebih mengertiku.
Itukah yg kau sebut cinta sejati?
Jika saja ku tau akhir dari kisah ini,
aku pasti takkan memulainya.
Namun semua telah terlanjur terjadi.
Jika saja waktu dapat mengembalikanku ke masa lalu,
aku ingin kembali pada saat aku belum mengenalmu.
Kini aku ingin mengubur dalam kisah itu.
Ku harap aku lupa pernah mengenal dirimu.


By : Rina Maniez
rina_maniez on Twitter
Baca Selengkapnya...

20 May 2013

Karena Kita Berbeda



Mencintaimu bagaikan memeluk rembulan.
Memilikimu adalah hal yg sangat mustahil bagiku.
Meski kita memiliki rasa yg sama,
Namun cinta kita tetap tak bisa bersatu.
Perbedaan antara kita terlalu sulit untuk di satukan.
Cukup dengan berada di sisimu saja aku sudah bahagia.
Meski kita berjalan tanpa sebuah ikatan.
Dulu kita bagaikan seekor siput
yg tak bisa lepas dari cangkangnya.
Selalu bersama di setiap kesempatan
dan mengukir indahnya cinta kita
pada rona langit yg membiru.
Namun seiring berjalannya waktu,
kisah kita pun berakhir.
Tanpa ku sadari, ada sebuah rasa yg menyeruak di dada.
Begitu perih dan sakit ku rasa.
Ku yakin bahwa itu karena aku telah kehilanganmu.
Mungkin memang ini yg terbaik untuk kita.
Berakhirnya hubungan ini, bukanlah suatu alasan
bagi kita untuk saling menjauh.
Percayalah bahwa kenangan antara kita
tak akan pernah ku lupa.
Meski nanti telah ku temukan pengganti dirimu,
Kenangan itu akan tetap tersimpan rapi
di dalam hatiku.
Janganlah kau menghindar.
Tetaplah di sini, menjadi sahabatku.
Meski aku bukan lagi kekasihmu.

By : Rina Maniez
@rina_maniez on Twitter
Baca Selengkapnya...

Apa Yang Senja Bawa Petang Ini?


Yang menguar dari tubuh senja kali ini, Tuan,
kerinduan yang sudah kurendam satu purnama.
Lelah berdansa di antara derik dedaunan trembesi
tak jua kau ronakan harapku yang perlahan pasi.

Asal tahu saja, Tuan,
rindu ini bukanlah rindu yang instan.
Telah kuramu cinta mumpuni dalam bumbu
tak jua kau cecap ia dan menyandu.

Ah… tak sadarkah kau, Tuan,
rindu ini bukan rindu tiba-tiba.
Sudah berbulan di depan pintu ia mengetuk
tak jua kau biarkan ia masuk dan memeluk.

Lalu patutkah kupersalahkah ia, Tuan,
ketika petang kembali mengingatkan jiwa yang rindu.
Menggerapai dinding cakrawala yang lembayung
saat tak jua kau jelang ragaku yang huyung.

***

@I_am_BOA

Mei 2013
Baca Selengkapnya...

02 May 2013

layang-layang

seperti layang-layang,
kau ingin ku terbang,
sejauh dan setinggi mungkin,
bahkan kau berharap akan ada angin yang dapat membuatku terbang.
bila ku terdiam, 
yang kau lakukan hanya megumpatku.
saat ku terbang terlalu tinggi,
kau menarikku kembali,
karena kau merasa angin akan merebutku.
kau terbangkanku kembali dengan tali yang mengikatku,
tahukah kau kulelah?
tahukah kau aku menyukai angin?
dapatkah kau membiarkanku terbang bebas?
aku bukan layang-layangmu, karena aku adalah kupu-kupu yang aka terbang kemanapun aku mau ...

@ayudesw
Baca Selengkapnya...

19 April 2013

MAYA




Sudah satu bulan aku tidak mengunjungi dunia maya, padahal biasanya hampir di setiap saat aku berkunjung di dunia maya. Bukan karena sibuk atau keperluan penting lainnya, aku hanya ingin menikmati dunia nyata. Aku ingin menikmati sesuatu yang benar-benar ada, yang benar-benar nampak di pelupuk mata. Aku merasa jenuh dengan kepura-puraan yang ada di dunia maya. Banyak orang menekan tombol like di jejaring sosial facebook, tapi dalam dunia nyata mereka mengejek status tersebut, bahkan ada yang menekan tombol like padahal tidak mengerti dengan isi status tersebut.
Tapi kali kini aku akan menceritakan salah satu pengalamanku di dunia maya yang merubah hidupku di dunia nyata. Kisah ini dimulai sekitar pertengahan bulan Januari lalu. Seperti pagi-pagi sebelumnya, setelah bangun tidur aku langsung menyalakan laptop dan memasang modem pada slot yang ada di laptopku dengan satu tujuan, online. Tapi ada yang aneh, pagi ini aku tak menemukan satupun pemberitahuan pada akun facebook-ku.
“Tumben, biasanya pagi-pagi begini banyak banget pemberitahuan.” gumamku dalam hati.
Aku pun berniat untuk keluar dari akun facebook-ku.  Namun tepat sebelum aku mengeklik tombol keluar, laptopku berbunyi dan menampilkan sebuah percakapan, salah satu temanku di facebook mengirim pesan padaku. Afriana Asri, nama tersebut muncul di bagian atas percakapan itu.
“Hai Arga…!!!” pesan tersebut yang muncul di jedela percakapan facebook-ku.
Awalnya aku bingung, karena seingatku tak ada teman facebook-ku yang bernama Afriana Asri. Aku mengingatnya, karena teman facebook-ku masih sedikit, dan semua adalah orang yang aku kenal di dunia nyata. Tapi, daripada tidak ada yang kulakukan, lebih baik aku meladeni dia. Cukup lama kami bercakap-cakap hal yang sebenarnya tidak terlalu penting, tapi cukup mengasikkan.
Aku bercakap-cakap dengannya sambil melihat-lihat akunnya untuk mencari tahu siapakah dia. Pertama, aku membuka fotonya, karena inilah yang paling dapat menentukan, apakah aku mengenalnya atau tidak. Aku mengeklik pada foto profilnya. Setelah terbuka, aku mengamati fotonya dengan seksama.
“Hmm, siapa ya? Kayaknya aku gak pernah lihat deh. Tapi cantik sih.” ucapku sambil mengamati fotonya dan senyum-senyum sendiri.
Untuk mendapatkan informasi yang lebih detail, akupun membuka halaman info profilnya, siapa tahu dia tetangga atau siswi satu sekolahku. Setelah membuka halaman profilnya, aku baca semua info tentang dirinya.
“Owh, anak SMU Dwi Pena juga. Tapi kok kayaknya aku gak pernah lihat dia ya.” ucapku bingung.
Setelah setengah jam kami bercakap-cakap, tiba-tiba dia offline. Jengkel juga sih, lagi asik-asiknya ngobrol, malah off tanpa pemberitahuan. Tapi tak apalah, aku juga harus bersiap-siap berangkat ke sekolah, mungkin dia juga.
***
Sepulang sekolah, aku tidak langsung pulang. Aku berdiri di dekat gerbang sekolah, berharap menemukan dia di antara puluhan siswi yang keluar melalui pintu gerbang sekolah. Namun, hingga sekolah sepi, aku tak menemukan wajah yang ada di foto yang kulihat pagi tadi. Aku segera pulang, ingin membuka facebook, berharap dia sedang online.
Sesampaiku di rumah, aku langsung menyalakan laptop-ku dan online lagi. Tapi aneh, lagi-lagi pemberitahuanku kosong. Kulihat di daftar obrolah, hanya ada satu nama yang sedang online, Afriana Asri. Aneh, tapi biarlah. Mungkin yang  lain sedang sibuk. Aku langsung memulai percakapan dengannya.
“Hai Ana… ^_^” begitulah aku menyapanya.
“Hai juga, Arga… ^_^ baru pulang sekolah ya?” dia membalas sapaanku.
“Iya nih, baru pulang. Kamu kok sudah OL? Pulang cepat kah? Atau jangan-jangan, kamu gak masuk sekolah ya?”
“Iya nih, aku lagi sakit. Makanya aku gak pergi sekolah.”
“Owh… pantesan aku gak lihat kamu di gerbang sekolah.”
“Hah? Kamu nunggu aku di gerbang sekolah?”
“Iya. Hehehe…”
“Maaf ya, bikin kamu menunggu.”
Baru saja aku ingin membalasnya, tiba-tiba dia offline lagi. Semua kejadian itu berlangsung terus menerus selama dua pekan. Tak ada pemberitahuan, hanya dia yang online, dan saat ngobrol, dia offline tiba-tiba. Satu lagi, aku tak pernah menemukannya di sekolah.
 Hingga suatu hari sebuah pesan dari dia masuk ke inbox-ku dan membuat aku terkejut.
“Arga, kamu mau gak jadi pacarku?”
Rasanya tidak percaya saat aku membaca pesan tersebut. Pasalnya, aku baru mengenalnya dua pekan yang lalu, itupun melalui dunia maya. Selain itu, yang membuat aku terkejut sekaligus senang adalah, wanita secantik dia ingin menjadi pacarku. Ini adalah hal yang sangat luar biasa untukku.
“Mau sih. Tapi, apa kamu yakin dengan ucapanmu itu?” balasku.
Dia tak membalas. Setelah cukup lama aku menunggu balasannya, tiba-tiba dia offline lagi. Aku makin bingung, sebenarnya apa yang terjadi. Apakah yang tadi dia katakan adalah benar? Apakah dia serius dengan ucapannya? Atau balasanku yang menanyakan keyakinannya tersebut salah?
Keesokan paginya, setelah bangun tidur aku langsung membuka facebook-ku lagi. Hari ini ada yang berbeda, ada satu pemberitahuan untukku.

Afriana Asri mencantumkan Anda sebagai pacarnya.
Terima ∙ Tolak

Aku sempat terkejut dan bingung. Tapi aku langsung menerimanya, aku merasa cocok dengannya. Aku juga merasa percakapanku dengannya selama dua pekan ini cukup untuk mengenal satu sama lain.
***
Sudah satu pekan setelah aku dan Ana berstatus pacaran. Tapi selama satu pekan itu juga, aku tak pernah melihatnya online lagi. Aneh, pikirku. Hal ini membuatku penasaran. Akupun membuka info profilnya dan mencari alamat rumahnya. Setelah kudapatkan, aku langsung bergegas ke rumahnya. Selama di perjalanan, aku terus memikirkannya. Apa sebenarnya yang terjadi padanya? Mengapa dia tidak pernah menghubungi aku lagi? Apa ini salahku? Atau dia yang merasa bersalah padaku? Aku semakin bingung.
Setelah limabelas menit perjalanan, aku tiba di rumahnya. Tak terlalu besar, berwarna putih, berpagar besi warna hitam. Tapi, terlihat sepi. Aku menekan tombol yang ada di sisi kiri pagarnya. Berkali-kali kutekan, tak ada satupun orang keluar dari balik pintu itu. Tak lama kemudian, ada seorang perempuan keluar dari rumah yang ada di samping rumah Ana. Akupun menyapanya dan menanyakan tentang Ana.
“Permisi bu, apakah rumah di itu benar milik keluarga Afriana Asri?” tanyaku sambil menunjuk rumah Ana.
“Oh, iya dek. Tapi, semua penghuninya pulang kampung setelah Afriana meninggal.” Jawaban ibu tersebut membuatku sangat syok.
“Me-meninggal? Kapan?” tanyaku tergagap.
“Kalau tidak salah, saat tahun baru. Dia kecelakaan saat akan merayakan tahun baru bersama teman-temannya.”
“Terima kasih infonya, bu.” jawabku seraya berbalik dan langsung mengendarai motorku menuju rumah.
Ucapan ibu tadi masih mengiang di telingaku, rasanya sungguh tak percaya. Akupun mencoba untuk berpikir positif.
“Ah, mungkin ada orang iseng yang menggunakan akunnya untuk mengerjaiku. Atau mungkin ada temanku yang merubah nama dan seluruh info profilnya untuk mengerjaiku.” pikirku.
Akupun menyalakan laptop-ku lagi dan membuka facebook-ku, berharap dia online lalu aku akan menginterogasinya.
Saat akun facebook-ku terbuka, betapa terkejutnya aku. Suatu hal yang aneh terjadi, membuatku bingung dan tak dapat berpikir jernih. Terdapat delapan puluh lima pemberitahuan dan tujuh pesan. Saat kubuka, beberapa pemberitahuan yang belum dibaca dan beberapa pesan masuk sejak tiga pekan yang lalu, tapi aku tak pernah menerima pemberitahuan dan pesan sejak tiga pekan yang lalu, kecuali dari Ana.
“Gak, gak mungkin.” ucapku.
Akupun mengetikkan nama Afriana Asri di pencarian. Aku menemukan hanya ada satu-satunya nama itu dalam pencarian. Kubuka akun itu. Benar, itu adalah akunnya, ku lihat dari fotonya. Tapi aku tidak berteman dengannya, dan aku juga menemukan pesan dinding dari beberapa temannya yang mengungkapkan rasa sedih mereka. Lalu, siapa yang kutemani mengobrol selama ini? Siapa yang menjadi pacarku selama satu pekan ini? Ternyata, pacarku di dunia maya benar-banar maya. Dia sudah tak ada di dunia nyata.

Baca Selengkapnya...

17 April 2013

Karena Cinta Itu Kita

Cinta,
Tak seharusnya kita bertanya mengenai aksara yang membangunnya.
Bukan mengenai itu. Sejatinya cinta tidak semata kata, tapi jiwa.
Jelas seberapa sering kau eja, bunyinya akan tetap sama,
yaitu K-I-T-A

Cinta,
Kau pertanyakan apakah ia beribu dengan logika maupun aritmatika.
Ia lebih dari itu. Sejatinya cinta tak berupa hitungan pasti berupa angka.
Tambahkan, bagikan, kalikan, hasilnya bukan satu – dua – atau tiga,
tapi K-I-T-A

Dan karena mempertanyakan dasar atas cinta,
serupa mempertanyakan alasan matahari terbit dari timur angkasa.
Ia tunduk dalam damai, memberi cahaya hidup dengan kegagahan yang setia,
Tuhan yang berkuasa atasnya.

Maka yang padamu kusemaikan rasa dan asa,
janganlah lagi padaku bertanya apa itu cinta.
Merasuklah dan luruh bersamaku di dalamnya,
Menjadi KITA.

@I_am_BOA
Baca Selengkapnya...

13 April 2013

Tentang Sebuah Kenangan


Seharusnya aku telah membuang jauh kenangan kita.
Namun aku selalu gagal ketika melakukannya.
Aku hanya akan menyakiti diriku sendiri
bila membiarkanmu terus ada dalam benakku.
Memilikimu hanyalah sebuah mimpi yg tak mungkin terwujud.
Karena kini kau tlah berpaling dari cintaku.
Aku sakit melihatmu bersama dengan yg lain.
Emosiku seakan memuncak dan ingin rasanya aku berteriak.
Secepat itukah kau melupakanku?
Hingga kau mendapat pengganti diriku.
Aku mungkin tak sempurna bagimu
dan mungkin itulah alasan kau pergi dariku
Kau pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal
dan kau pergi sebelum mengucapkan sepatah kata padaku
Apa lagi yg harus ku lakukan?
Aku telah gagal mempertahankanmu.
Menyesal pun ku rasa tiada arti.
Tersenyum adalah caraku menutupi luka batinku.


By : Rina Maniez
@rina_maniez on twitter
Baca Selengkapnya...

10 April 2013

aku ini apa?

aku hanya mampu terhenyak diam.
rasanya begitu cepat semua terjadi.
rasa rindu yang telah menumpuk, tertumpahkan hari ini, entah dengan dirimu.
aku yang bertahan dengan semua rasa yang seakan menyeruak untuk segera ku katakan,
aku ini apa? bagimu aku apa?
nyatanya hingga detik inipun aku tak mampu tanyakan itu. aku diam.
masih jelas teringat dalam memoriku,
kecupanmu. bukan sekedar kecupan. itu ciuman. yang bagiku sebuah paksaan.
aku ini apa? bagimu aku apa?
ingin aku marah, toh percuma, aku tak bisa.
ingin ku menangis, nyatanya air mata ini sudah kering.
lalu aku harus apa?
membaca hatimupun aku tak mampu, aku harus apa?
lelah ku bertanya, tapi akupun tak dapat berhenti bertanya.
lalu aku ini apa? bagimu aku apa?
Baca Selengkapnya...

01 April 2013

Matinya Hati




Ada yang mati lagi
Pada suatu fajar yang enggan datang
Bosan dalam bening yang tak henti mengalir
Lalu sakit perih mendendang mengantar pergi

Ada yang mati lagi
Merah yang membusuk jadi hitam
Nyanyi yang jadi jerit
Meraba mencari jiwa yang tak hinggap lagi

Ada yang mati lagi
Membungkus tawa dengan kafan yang tak putih lagi
Titipkan rindu dalam wasiat
Terkubur dalam pedih yang masih merah

Ada yang mati lagi
Siapa? Apa?
Entah
Bahkan aku lupa apa dia pernah hidup

Hatiku mati
Dibunuh cemburu yang tak lekas pergi
Rindu yang menjalar mengoyak badan
Harap melayang ikut bersama jiwa

Sudah mati lagi
Baca Selengkapnya...

Postingan Terpopuler

Postingan Terbaru